Mappalette Bola, menggotong Rumah Lari dari Bahaya

Tradisi Mappalette Bola, Foto: dok. istimewa
Ekspedisi Jawadwipa

Tradisi memindahkan rumah ini disebut Mappalette Bola atau Marakka Bolla. Dalam hal ini memindahkan rumah adalah memindahkan bentuk bangunan yang biasanya merupakan rumah panggung berbahan kayu dan bambu dan diangkat beramai-ramai oleh manusia, namun sebelumnya barang-barang yang ada didalamnya dipindahkan terlebih dahulu agar menghindari kerusakan.

Jika hari ini banyak rumah dibangun dengan kokoh, menancap seakan membentuk paku bumi. Rumah adat Suku Bugis di Sulawesi Selatan punya keunikan nya sendiri, dimana rumah tersebut sifatnya dapat dipindahkan, meskipun ukuran rumah yang besar seperti cukup mustahil untuk memindahkannya.

Mappalette Bola, menggotong Rumah Lari dari Bahaya

mappalette bola
Foto kegiatan mappalette bola, Foto: dok. jogja.tribunnews.com

Ini dilakukan biasanya karena tanah dari bangunan tersebut dijual atau karena pemiliknya memang ingin memindahkan ke lokasi yang baru. Makna rumah bagi masyarakat yang dianggap sebagai tanah Ibu Pertiwi dan warisan yang harus dijaga.

Kemampuan masyarakat Indonesia beradaptasi dengan lingkungannya di tempo dulu sudah tidak bisa diragukan lagi. Kemampuan masyarakat hidup, tumbuh, dan berkembang bersama alam menjadikan kebudayaan Indonesia menjadi kaya, bukan dengan tren global melainkan menyesuaikan dengan bentang alam serta kondisi lingkungan.

Berdasarkan artikel jurnal “The physical and philosophical values of the Mappalette Bola tradition and its potential in industrial development design earthquake resistant house foundation construction” yang ditulis oleh Rusdy & F. Ciptandi dari Telkom University, beberapa adat Bugis seperti Pasappu (ikat kepala) dan Kanna Bugis (senjata adat) memiliki makna ketahanan dan perlindungan sehingga dalam analisisnya tradisi Mappalete Bola juga tidak mungkin diciptakan tanpa tujuan atau makna khusus.

Dalam artikel yang sama, Rusdy juga menjelaskan bahwa rumah-rumah dalam tradisi Mappalette Bola sebenarnya mempunyai unsur rumah tahan bencana, sebab kerangka rumah panggung tradisional suku Bugis menggunakan sistem struktur tiang dan balok kayu yang dirakit tanpa menggunakan paku kayu maupun paku besi permanen, melainkan menggunakan sistem pasak atau sambungan ikat. 

Sifat struktur yang tidak kaku ini menjadi kunci untuk pertahanan bangunan karena ketika gempa bumi terjadi dan tanah bergoyang, pondasi serta kerangka rumah tidak akan patah atau hancur melawan gaya gempa, melainkan ikut bergoyang dan melentur secara fleksibel mengikuti arah getaran sehingga dapat meredam energi kinetik layaknya sistem peredam getaran modern.

Jika dikaitkan dengan tiga standar konstruksi tahan gempa modern yang diacu dalam penelitian ini, arsitektur rumah tradisional Bugis ternyata telah memenuhi seluruh prinsip tersebut sejak zaman dahulu. 

Pertama, rumah panggung Bugis menerapkan prinsip denah yang sederhana dan simetris melalui bentuk bangunan persegi panjang yang dibuat memanjang ke arah belakang sehingga efektif meminimalkan efek puntir saat diguncang dan membuat kekuatan beban gempa tersebar secara merata. 

Kedua, penggunaan material alami yang ringan seperti kayu dan bambu terbukti mampu meminimalkan gaya inersia atau beban mati bangunan saat terjadi guncangan, sehingga risiko bangunan roboh akibat beratnya sendiri menjadi sangat kecil jika dibandingkan dengan material beton modern. 

mappalette bola
Tradisi mappalette bola, memindahkan rumah, Foto: Dok. goodnewsfromindonesia.id

Ketiga, rumah tradisional ini memiliki sistem konstruksi dan pondasi yang memadai melalui penerapan tiang rumah yang diletakkan di atas batu umpak datar dengan prinsip keseimbangan yang dinamis. Fondasi ini tidak mengunci bangunan secara kaku ke tanah, sehingga ketika permukaan tanah bergeser hebat akibat gempa, rumah tidak akan langsung patah melainkan dapat bergeser secara fleksibel tanpa merusak struktur utama di atasnya.

Melalui perpaduan nilai fisik dan filosofis mengenai ketahanan, keseimbangan, serta kekokohan yang telah diuji oleh waktu ini, struktur Mappalette Bola terbukti mampu meminimalkan risiko keruntuhan bangunan secara mendadak. 

Baca juga: Cerita Tsunami dalam Kayori

Desain arsitektur vernakular ini tidak hanya melindungi fisik rumah agar tetap utuh saat dipindahkan secara gotong royong, tetapi yang paling utama adalah memberikan perlindungan lebih bagi keselamatan penghuni di dalamnya serta memberi mereka waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri ke luar rumah saat bencana datang.(Kori)