Sesar Sausu Penyebab Gempa M 6,7 Palu

Ilustrasi Sesar atau patahan, Foto: iStockphoto/bartvdd
Ekspedisi Jawadwipa

Menurut analisa BMKG pemicu gempa dangkal ini adalah adanya aktivitas tektonik yang disebabkan oleh pergerakan sesar sausu. Gempa besar bermagnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya pada Selasa, 16/06.

Sesar Sausu merupakan sesar aktif yang berada di wilayah Sausu–Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dan telah tercantum dalam pemetaan sumber gempa nasional oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN).Sesar ini memiliki mekanisme sesar normal (normal fault), yaitu jenis patahan yang terbentuk akibat gaya tarikan (ekstensi) pada kerak bumi sehingga salah satu blok batuan bergerak turun relatif terhadap blok lainnya, berbeda dengan Sesar Palu–Koro yang didominasi oleh pergerakan geser mendatar.

Dengan kedalaman yang cukup dangkal sekitar 16 KM, dan pusat gempa yang berada pada koordinat 1,03° LS; 120,24° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km Tenggara Palu, Sulawesi Tengah. Kegempaan yang terjadi kemarin cukup amat besar dirasakan masyarakat.

Sesar Sausu Penyebab Gempa M 6,7 Palu

sesar sausu
Ilustrasi Pergerakan Sesar Sausu, Foto: Dok. kabarsulteng.id

Guncangan terkuat dirasakan di Kota Palu dengan intensitas VI–VII MMI dan di Kabupaten Sigi sebesar V–VI MMI, yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada bangunan. Getaran juga dirasakan di sejumlah wilayah lain, antara lain Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, Pasangkayu, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, Majene, Luwu Utara, Pinrang, Parepare, Pohuwato, Boalemo, Wajo, hingga Balikpapan, Samarinda, dan Pulau Laut-Kotabaru dengan intensitas II hingga III MMI. Luasnya wilayah yang merasakan gempa menunjukkan bahwa energi gempa cukup besar dan menyebar hingga lintas provinsi di Sulawesi, Kalimantan, dan sekitarnya.

Dalam beberapa video yang beredar di masyarakat, kerusakan bangunan terjadi dimana-mana, bahkan masyarakat juga sempat mengalami kepanikan akibat surutnya air laut.

“Sensor di Pelabuhan Pantoloan memang mencatat sedikit kenaikan muka air laut setinggi 7,5 cm, namun BMKG menegaskan bahwa fluktuasi kecil ini sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan masyarakat,” kata Wijayanto (Direktur Gempa Bumi dan tsunami BMKG).

Meskipun begitu, BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi terjadinya tsunami, hal tersebut didasarkan pada hasil dari pemodelan data yang dilakukan pada stasiun pasang surut (tide gauge).

Namun BMKG juga mengingatkan adanya potensi gempa susulan yang dapat terjadi setelah gempa besar pertama, pemantauan hingga pukul 12.00 WIB (16/06), hasil monitoring BMKG telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitude terbesar M5,2. dan pada pagi ini (17/06) pada 01.29 WIB gempa berkedalaman 5 KM dengan magnitudo 5,1 masih terjadi dengan pusat gempa berada di darat 54 km barat laut Poso.

sesar sausu
Rumah yang rusak akibat kejadian gempa, Foto: Dok. istimewa

Berdasarkan data terbaru BNPB hingga 16 Juni 2026 pukul 19.00 WIB, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah mengakibatkan satu orang meninggal dunia di Kabupaten Sigi. Selain itu, tercatat sebanyak 38 orang mengalami luka-luka, terdiri dari 25 korban luka ringan dan 13 korban luka berat. Secara keseluruhan, bencana ini berdampak kepada sekitar 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak. Kabupaten Sigi menjadi daerah dengan dampak korban paling besar, dengan 89 KK atau 272 jiwa terdampak, 22 warga mengalami luka ringan, dan 13 warga mengalami luka berat. Sementara itu, di Kota Palu terdapat dua korban luka ringan, dan di Kabupaten Poso satu warga mengalami luka yang masih dalam proses pendataan lebih lanjut.

Ketakutan akibat potensi gempa yang dapat terjadi sewaktu-waktu adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari masyarakat Palu, masih teringat di benak mereka gempa besar yang memporak-porandakan wilayah tersebut pada 2018 lalu. Dalam riwayatnya pergerakan Sesar Sausu juga bukan pertama kali terjadi pada artikel jurnal yang ditulis oleh Jefrianto yang berjudul Kabar Bencana dari Surat Kabar: Membaca Ulang Sejarah bencana 20 Mei 1938, menjelaskan bahwa terjadi gempa dengan episentrum 120,3 BT dan 1,0 LS, yang terletak di wilayah Torue pada 23 Mei 1938, pasca gempa 20 Mei 1938 yang melanda kawasan Teluk Tomini. 

Baca juga: Gempa Sulawesi Tengah M6,7, Berikut 6 Faktanya

Gempa bumi M6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 menjadi pengingat bahwa wilayah ini berada di kawasan yang sangat aktif secara tektonik. Aktivitas Sesar Sausu sebagai pemicu gempa menunjukkan bahwa ancaman kegempaan di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari Sesar Palu–Koro, tetapi juga dari sesar-sesar aktif lain yang tersebar di kawasan tersebut.(Kori)