Filosofi Tanggap Bencana Orang Baduy: Tangguh Tanpa Angkuh

Ketika membahas penanganan bencana, kita kerap terjebak semata pada paparan data. Seperti jumlah korban dan total kerugian. Namun sebenarnya, ada satu hal yang tidak boleh terlewatkan ketika menelaah topik kebencanaan di sebuah daerah: bagaimana menangkap gambaran kemampuan masyarakat setempat dalam menghadapi bencana tersebut. Salah satunya dari kearifan lokal yang mereka terapkan dalam hidup sehari-hari. Hal tersebut menjadi sebuah pesan kunci…

Selengkapnya..
Suku Punan, Foto: Chris Djoka/YKAN

Menghindari Wabah, Begini Cara Masyarakat Nomaden “Punan”

Pasca bencana covid-19 yang terjadi beberapa tahun yang lalu, wabah menjadi penyakit yang amat mengerikan bagi masyarakat, membunuh perlahan dan mengancam manusia. Salah satu anjuran yang paling diingat dalam pandemi covid adalah PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang menganjurkan untuk masyarakat tetap dirumah agar tidak tertular wabah dan meminimalisir korban jiwa, namun bagaimana jika wabah terjadi di masyarakat nomaden yang…

Selengkapnya..

Rumah Adat Nias “Omo Hada” Fleksibel dan Tahan Gempa

Indonesia memiliki banyak warisan arsitektur tradisional serta rumah adat yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat menghadapi alam. Salah satu contohnya adalah rumah adat Nias yang telah lama dikenal sebagai bangunan tahan gempa. Kemampuannya bukanlah hasil teknologi modern, melainkan buah dari pengetahuan lokal yang diwariskan selama ratusan tahun. Ketika gempa besar mengguncang Pulau Nias pada tahun 2005, banyak rumah adat masih…

Selengkapnya..
Ilustrasi Galodo, Foto: Dok. BNPB

Rekaman Bencana Galodo dalam Syair Nagari Talu (1890)

​Jauh sebelum teknologi peringatan dini (early warning system) modern diperkenalkan, masyarakat Minangkabau telah merekam memori bencana dan sistem mitigasi melalui tradisi literasi manuskrip. Salah satu karya literatur lokal yang secara spesifik mengabadikan peristiwa ini adalah Naskah Syair Nagari Talu yang ditulis pada tahun 1890. ​Meskipun dikemas dalam bentuk syair dan kronik sastra sejarah, manuskrip ini memiliki nilai historis dan filologis…

Selengkapnya..
ilustrasi Babad Lombok, Foto: Dok. lombokpost.jawapost.com

Letusan Samalas Abad Ke-13 Dalam Babad Lombok dan Jejak Masyarakat Yang Bangkit Setelahnya

Sejarah sering kali mengingat bencana melalui angka dan kehancuran. Kita mengenal letusan gunung karena ribuan orang meninggal. Kita mengingat tsunami karena kota-kota dihancurkan. Kita mengenal gempa melalui bangunan yang runtuh dan wilayah yang berubah menjadi puing-puing. Sejarah mencatat kapan gunung meletus, kapan laut naik, kapan kerajaan runtuh, dan berapa banyak manusia yang kehilangan nyawa. Tetapi ada satu bagian yang sering…

Selengkapnya..
Ilustrasi Sekat Bakar, Foto: Dok. BPBD Sumsel

Warisan Pengetahuan Pengendalian Karhutla, Sekat Bakar

Setiap kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, perhatian publik hampir selalu tertuju pada helikopter pengebom air, patroli darat, hingga teknologi pemantauan berbasis satelit. Padahal jauh sebelum berbagai teknologi tersebut berkembang, masyarakat telah mengenal cara sederhana untuk mencegah api meluas yaitu dengan membuat batas aman agar kobaran tidak merambat ke kawasan lain. Praktik inilah yang kemudian berkembang dan distandarisasi menjadi…

Selengkapnya..
gempa
Peta Penyebaran Kebudayaan Austronesia, Sumber: presentasi Iksam Djorimi

Kejadian Gempa & Hubungan Erat Penyebaran Penutur Austronesia

Hari ini sudah memasuki bulan Oktober, namun disasterchannel.co masih belum bisa move on dari peringatan tiga tahun bencana gempa Padagimo. Kamis lalu (29/09/2021) kami mengadakan diskusi virtual Bincang Bencana Series ke 11 disasterchannel.co dengan tema memutar “Waktu untuk Melihat Jejak Bencana di Lembah Palu”. Diskusi ini terasa sangatlah menarik. Pemateri pertama ialah Iksam Djorimi yang merupakan anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI)…

Selengkapnya..
Ilustrasi Pemandangan Bali, Foto: Dok. shutterstock

Tri Hita Karana, Bali Tidak Boleh Punya Bangunan Lebih dari Pohon Kelapa

Pemerintah Provinsi Bali mempunyai peraturan unik tentang tata ruang dan tata bangunan, dimana masyarakat dilarang membangunan bangunan lebih dari tinggi pohon kelapa atau hanya boleh membangun gedung dengan ketinggian maksimal sekitar 15 meter, hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang Rencana tata ruang wilayah Provinsi Bali tahun 2023-2043. Menariknya peraturan ini bukan hanya didasarkan…

Selengkapnya..
cimahi
Foto udara kota cimahi, Foto: Dok. cimahikota.go.id

Cimahi, Mempertahankan Hutan Ditengah Arus Pembangunan

Di tengah padatnya Kota Cimahi yang terus berkembang, masih tersisa sebuah ruang hijau yang dijaga bukan oleh pagar beton, tetapi oleh nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun. Kawasan itu adalah Hutan Adat Cireundeu, yang merupakan bagian dari Kampung Adat Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Cimahi Selatan. Pasca tragedi longsor TPA Leuwigajah pada 2005 yang merenggut ratusan nyawa dan mengubah lanskap kawasan sekitarnya,…

Selengkapnya..
Ilustrasi Toponimi, Foto: freepik.com

Wana dan Alas, Sebuah Toponimi Penanda Degradasi Lingkungan

Dalam kajian ilmu pengetahuan modern, penamaan tempat seperti ini dipelajari melalui ilmu toponimi, yaitu cabang ilmu yang mengkaji asal-usul, makna, serta perkembangan nama-nama wilayah dalam konteks geografis dan budaya. Pada masa lalu, penamaan suatu tempat atau wilayah umumnya tidak dilakukan secara sembarangan. Nama-nama tersebut lahir dari kondisi geografis, karakteristik lingkungan, sejarah, maupun pengalaman masyarakat yang hidup di dalamnya. Di Indonesia,…

Selengkapnya..