Kehadiran mangrove diantara khasnya keindahan dengan nyiur yang melambai pantai pesisir Nanga Banda, terselip pemandangan kontras yang menarik perhatian mata dengan kehadiran ribuan pohon yang ditanam sebagai upaya inisiatif mitigasi hijau dan solusi berbasis alam saat ini.
Pantai Nanga Banda kini sudah mulai bersolek, memadukan antara balutan alamnya dengan konsep wisata kekinian. Tempat ini memiliki konsep wisata terintegrasi dalam satu kawasan wisata dengan menyediakan beragam tema diantaranya sebagai benteng pertahanan dari “Serangan” dampak krisis iklim abrasi pantai serta naiknya permukaan air laut sebagai dampak naiknya suhu bumi dan perubahan iklim.
Mohammad Baco Ali, merupakan satu diantara puluhan anggota Relawan PMI yang saat ini tergabung dalam Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) yang sampai saat ini terus berjuang konsisten menjaga upaya kelestarian tumbuhan ini di kawasan Nanga Banda yang menjadi titik lintas utara pantai Flores saat ini.

Relawan SIBAT Kelola Mangrove, Benteng Pertahanan dari Krisis Iklim
Disela waktunya mengurusi hutan mangrove yang telah disulap jadi ekowisata itu, ia menceritakan perjuangannya gerakan penyelamatan tumbuhan ini dan mencari cara agar bisa menjaga keberlangsungan tumbuhan penyumbang oksigen terbesar di dunia itu.
“Dalam upaya perjuangan mengembangkan mangrove ini merupakan suatu hal yang tidak gampang karena selain proses penanaman dan perawatan yang juga butuh usaha besar, terutama dukungan semua pihak untuk keberlanjutannya saat ini,” ujar Baco panggilan akrabnya Muhammad Baco Ali.
Baco yang juga saat ini dipercaya sebagai Ketua Manggarai Manggrove Center (MMC) menjelaskan, saat ini pihaknya mendorong dan membangun kerja sama dengan lintas sektor agar mendukung pengembangan mangrove dan penguatan dari sisi perlindungan regulasi hukum. Dengan demikian, usaha pengembangan MMC ke depan dapat berjalan dengan baik.
Baco menyebutkan, kesadaran dirinya bersama para Relawan SIBAT untuk menjaga pesisir pantai mangrove ini bukan tanpa alasan. Salah satu manfaat penting mangrove ini adalah sebagai upaya pengurangan risiko banjir dan abrasi di sepanjang daerah aliran sungai dan wilayah pesisir.
“Akibat dampak perubahan iklim saat ini menyebabkan terjangan ombak laut ke wilayah daratan, sehingga berpotensi menyebabkan abrasi. Akar bakau yang saling menyimpul dan kusut ini memungkinkan pohon untuk dapat kokoh menahan pasang surut air laut setiap harinya,” terang Baco
Selain itu, tambah Baco, akar mangrove ini berfungsi memperlambat pergerakan air pasang, sehingga membuat sedimen mengendap keluar dari air dan membentuk dasar berlumpur. Fungsi mangrove dengan akar penyangganya yang kokoh, dapat melindungi kawasan pesisir dari hempasan gelombang pasang air laut.

“Hutan mangrove ini bagai benteng yang melindungi warga dari ‘serangan’ cuaca ekstrem. Dan masyarakat punya peran besar menjaga kelestarian hutan bakau ini,” tegasnya
Lebih jauh Baco menjelaskan, dalam pengembangan mangrove ini merupakan bagian dari Program mitigasi Hijau Kerjasama PMI dengan Palang Merah Amerika ( Amcross) melalui program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat dengan judul program Communities Ready to Act (CoRTA).
Baca juga: Hadapi Musim Pancaroba dan Krisis Iklim, Greenpress Tekankan Mitigasi Berbasis Ekosistem
Dalam pelaksaaanya, relawan SIBAT Kelurahan Reo dibantu oleh konsultan PKSPL IPB menangani perbaikan ekosistem melalui upaya konservasi tanaman-tanaman lokal yang berkontribusi pada peningkatan pengurangan risiko banjir dan abrasi di sepanjang daerah aliran sungai dan wilayah pesisir.
kontributor: Atep Maulana






