Gempa Sulawesi Tengah M6,7, Berikut 6 Faktanya

Ilustrasi lokasi Titik gempa, Foto: Dok. Media Alkhairaat
Ekspedisi Jawadwipa

Gempa berkekuatan M6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 telah memberikan dampak signifikan bagi wilayah sekitar. Berikut adalah analisis mengenai karakteristik dan fakta teknis peristiwa tersebut:

Gempa Sulawesi Tengah M6,7, Berikut 6 Faktanya

gempa
Kerusakan rumah yang diakibatkan guncangan yang terjadi di Sulawesi, Foto: HO

Pertama, diklasifikasikan sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Gempa ini lazimnya dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Kedalaman hiposenter yang dangkal menyebabkan atenuasi gelombang seismik yang minimal, sehingga konsentrasi pelepasan energi atau guncangan maksimum terkonsentrasi pada wilayah di sekitar episenter, mencakup Kab. Palu, Sigi, dan Parigi Moutong.

Kondisi hiposenter yang dangkal tersebut memicu fenomena near-field effect yang sangat dominan, di mana amplitudo gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah. Hal ini diperparah oleh adanya kontras impedansi akustik yang tajam antara batuan dasar dengan lapisan sedimen lunak pengisi basin, yang memicu fenomena site amplification atau resonansi lokal, sehingga durasi dan intensitas guncangan pada periode tertentu menjadi jauh lebih destruktif bagi bangunan dengan frekuensi alami yang selaras.

Kedua, berlokasi di zona deformasi kompleks. Zona gempa ini dicirikan oleh interaksi berbagai sistem sesar aktif. Berdasarkan pemetaan tektonik, episenter gempa tersebut berada dalam zona pengaruh sistem sesar yg meliputi Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, serta Lorelindu Fracture Zone.

Interaksi sistem sesar yg masif ini merefleksikan rezim tektonik transisi yg sangat dinamis, di mana mekanisme strike-slip lateral dari Sesar Palu-Koro mengalami terminasi dan transfer tegangan ke arah timur melalui zona deformasi yang terfragmentasi. Fenomena ini mengindikasikan bahwa distribusi energi seismik tidak lagi terakomodasi secara linear, melainkan terbagi ke dalam pola stress partitioning yg rumit, sehingga menciptakan mekanisme sesar yg sangat beragam (mulai dari sesar normal hingga oblique) yang mampu memicu ruptur sekunder secara simultan di sepanjang koridor tektonik Palolo-Sausu.

Ketiga, memiliki mekanisme turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan (pull-apart) yang dipicu oleh dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan atau pembengkokan pada jalur sesar geser utama menyebabkan kerak bumi di area tersebut mengalami peregangan. Akibat peregangan ini, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut. Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi, sehingga terciptalah cekungan atau basin di zona tersebut yang kemudian terisi oleh sedimen. Interaksi mekanis ini menciptakan zona deformasi transtensial yang kompleks, di mana pelepasan tegangan tidak lagi didominasi oleh pergeseran lateral, melainkan terkonsentrasi pada rezim ekstensional yang memungkinkan terjadinya ruptur seismik dangkal dengan intensitas guncangan yang teramplifikasi secara lokal oleh geometri cekungan.

Keempat, gempa bersifat destruktif. BNPB melaporkan kerusakan akibat gempa terjadi pada 67 unit rumah, dengan rincian 26 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Kerusakan infrastruktur lainnya meliputi 6 fasilitas ibadah, 2 jembatan, 1 fasilitas umum, 2 gedung perkantoran, 3 tempat usaha, serta amblasnya ruas jalan penghubung Palu–Sigi–Poso. Kab Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total 47 unit rumah yg terdiri dari 23 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat.

gempa
Rumah warga yang rusak akibat kejadian gempa M6,7, Foto: Dok. publika.id

Kelima, bagian dari sejarah gempa signifikan. Sejarah mencatat bahwa gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi di zona ini pada tahun 1983, disusul oleh gempa Palu-Poso berkekuatan M5,9 pada tahun 1995 yang mengakibatkan 26 orang mengalami luka-luka serta kerusakan pada 115 unit rumah di Kabupaten Parigi. Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa berkekuatan M4,8 pada tahun 2005. Selain itu, gempa Palu-Poso dengan magnitudo M6,6 yang terjadi pada tahun 2017 menimbulkan dampak berupa 25 korban luka-luka dan kerusakan pada 348 bangunan, yang mencakup 168 rumah tinggal serta sejumlah sarana peribadatan. Rangkaian peristiwa tersebut mengindikasikan persistensi ancaman kegempaan yg memerlukan pemahaman komprehensif terkait karakteristik tektonik di kawasan ini.

Baca juga: Gempa Filipina, Zona Megathrust Yang terlupakan

Keenam, memberi kewaspadaan terhadap sesar aktif. Dengan mengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat.*(DARYONO)