Menguatkan Ketahanan Energi Indonesia, 3 PLTMH Berbasis Komunitas

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, Foto: Dok. irid.or.id
Ekspedisi Jawadwipa

Masalah energi kini acap kali menjadi pembahasan global, energi tak terbarukan yang semakin susah dicari sebab stoknya yang kian menurun. Tetapi ketahanan energi juga tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan energi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat memperoleh akses listrik yang bisa digunakan dalam berbagai kondisi namun terjangkau secara harga.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tantangan tersebut semakin banyak karena masih banyak wilayah yang bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil, terutama diesel, dengan biaya operasional tinggi dan pasokan yang rentan terganggu. Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) berbasis potensi lokal menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. 

Pemerintah sendiri menempatkan EBT sebagai salah satu pilar menuju target bauran energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi impor. 

Kapasitas pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Indonesia terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kapasitas terpasang PLTMH meningkat dari 151,62 MW pada 2018 menjadi 560,02 MW pada 2022, atau naik lebih dari tiga kali lipat dalam kurun empat tahun. Peningkatan ini menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan mikrohidro sebagai bagian dari pengembangan energi baru terbarukan, terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah pedesaan dan daerah terpencil.

Tetapi tantangan pengembangan PLTMH tidak berhenti pada penambahan kapasitas atau ketersediaan infrastruktur. Keberlanjutan pembangkit sangat ditentukan oleh siapa yang mengelola dan merawatnya. Tidak sedikit PLTMH yang mengalami penurunan kinerja bahkan berhenti beroperasi karena lemahnya kelembagaan lokal, minimnya kapasitas pengelola, dan rendahnya rasa memiliki masyarakat. 

Keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan menjadi faktor kunci dalam memperkuat ketahanan energi. Melalui model pengelolaan berbasis komunitas, PLTMH tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga membangun kemandirian desa, memperkuat ekonomi lokal, serta memastikan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya air.

Berbagai daerah di Indonesia telah membuktikan bahwa ketika masyarakat menjadi aktor utama, PLTMH mampu bertahan dan berkembang sebagai sumber energi yang andal. Tiga contoh berikut menunjukkan bagaimana pengelolaan berbasis masyarakat berhasil memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal.

energi
Salah Satu PLTMH di Indonesia, Foto: Antara/HO-PLN

Menguatkan Ketahanan Energi Indonesia, 3 PLTMH Berbasis Komunitas

  1. PLTMH Cinta Mekar, Subang

Di Desa Cinta Mekar, Kabupaten Subang, Jawa Barat, aliran Sungai Ciasem tidak hanya mengairi lahan pertanian, tetapi juga menjadi sumber listrik yang dikelola langsung oleh masyarakat. Sejak diresmikan pada 2004, PLTMH Cinta Mekar menjadi salah satu contoh keberhasilan pembangkit listrik tenaga mikrohidro berbasis komunitas di Indonesia. Pembangkit ini lahir dari kolaborasi antara masyarakat desa, Yayasan IBEKA, UN-ESCAP, dan PT Hidro Piranti, dengan warga dilibatkan sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan.

PLTMH Cinta Mekar memanfaatkan sistem run-off river, yaitu teknologi yang menggunakan aliran sungai tanpa perlu membangun bendungan besar. Air dari Sungai Ciasem dialirkan melalui bendung kecil menuju bak penenang, kemudian masuk ke pipa pesat untuk menggerakkan turbin sebelum akhirnya dikembalikan lagi ke sungai. Dengan kapasitas sekitar 120 kW.

Yang membedakan PLTMH Cinta Mekar dari banyak pembangkit lainnya adalah model pengelolaannya yang sepenuhnya bertumpu pada masyarakat. Sejak awal pembangunan, warga tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga terlibat dalam perencanaan, pembangunan, hingga pengoperasian pembangkit. Keterlibatan tersebut menumbuhkan rasa memiliki terhadap infrastruktur energi yang mereka bangun bersama, sehingga keberlanjutan pembangkit tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen komunitas yang menjaganya.

Listrik yang dihasilkan kemudian dijual ke jaringan PLN, sementara pendapatannya dikelola oleh Koperasi Cinta Mekar. Keuntungan tersebut tidak dibagikan kepada individu, melainkan dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan bersama melalui berbagai program sosial dan ekonomi, seperti beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur desa, bantuan modal usaha, hingga subsidi pemasangan listrik bagi keluarga kurang mampu.

  1. PLTMH Mbakuhau, Desa Kamanggih, NTT

PLTMH Mbakuhau lahir dari kebutuhan masyarakat Desa Kamanggih akan akses listrik yang lebih andal. Sebelum 2011, warga hanya mengandalkan PLTD yang beroperasi pada malam hari karena keterbatasan pasokan solar. Melihat potensi aliran Sungai Mbakuhau, masyarakat bersama Yayasan IBEKA dan dukungan pendanaan dari HIVOS bergotong royong membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Pembangunan dilakukan dengan melibatkan warga, mulai dari membuka akses jalan hingga mengangkut material ke lokasi pembangkit.

PLTMH Mbakuhau mulai beroperasi pada 2011 dengan kapasitas 37 kW, cukup untuk melistriki sekitar 100 rumah pada tahap awal serta berbagai fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, kantor polisi, dan menara telekomunikasi. Seiring pengembangan jaringan, kapasitas layanan pembangkit meningkat menjadi sekitar 37–45 kW dan kini mampu melayani sekitar 700 rumah di empat desa di Sumba Timur.

Keberadaan PLTMH Mbakuhau tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan desa. Pengelolaannya dilakukan oleh Koperasi Jasa Peduli Kasih, sehingga masyarakat terlibat langsung dalam operasional dan pemeliharaan pembangkit. Listrik yang tersedia mendorong berkembangnya usaha ekonomi, memperbaiki layanan pendidikan dan kesehatan, serta menjadi fondasi bagi cita-cita Desa Kamanggih sebagai desa mandiri energi dan mandiri pangan.

energi
Salah satu PLTMH yang ada di Indonesia, Foto: antaranews.com
  1. PLTMH Kedungrong, Kulon Progo

Lahirnya PLTMH Kedungrong tidak lepas dari peristiwa longsor yang melanda Dusun Kedungrong, Kulon Progo, pada 2001. Saat melakukan pendampingan pascabencana, tim Universitas Gadjah Mada (UGM) melihat potensi besar aliran irigasi Kali Bawang yang melintas di dusun tersebut untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi. Gagasan itu kemudian diperjuangkan bersama masyarakat selama bertahun-tahun hingga akhirnya pembangunan PLTMH mendapat dukungan dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) dan mulai beroperasi pada 2012.

PLTMH Kedungrong saat ini menggunakan dua generator berkapasitas 18 kW yang dioperasikan secara bergantian. Listrik yang dihasilkan menjadi sumber energi utama bagi sekitar 55 kepala keluarga dan 33 lampu penerangan jalan, sementara pasokan dari PLN digunakan sebagai cadangan untuk perangkat yang membutuhkan arus lebih stabil. Selain melayani kebutuhan rumah tangga, PLTMH ini juga dikembangkan sebagai Laboratorium Terpadu Mikrohidro, tempat belajar dan riset mengenai energi terbarukan bagi masyarakat maupun akademisi.

Baca juga: Desa Wisata Untuk Ketahanan Desa

Keberlanjutan PLTMH Kedungrong ditopang oleh pengelolaan berbasis komunitas melalui Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia (KMTI) Kedungrong. Warga terlibat dalam pengoperasian, perawatan turbin, hingga pengelolaan iuran untuk biaya operasional. Keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pemeliharaan inilah yang membuat PLTMH tetap beroperasi lebih dari satu dekade.(Kori)