Di tengah perbukitan Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, koneksi internet kini bukan lagi sekadar sarana berkomunikasi. Bagi para relawan dan warga, jaringan tersebut menjadi jalur penyelamat yang dapat mempercepat informasi, koordinasi, hingga penanganan ketika bencana datang.
Melalui kolaborasi Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi bersama Atma Connect yang didukung Internet Society Foundation, konektivitas teknologi ini yang berbasis komunitas terus diperkuat di sejumlah desa rawan bencana. Program ini tidak hanya menghadirkan akses internet berbasis satelit, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana.
Program bertajuk Mengembangkan Model Ketahanan Internet Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan untuk Penanggulangan Bencana ini merupakan kelanjutan dari fase pertama yang telah berhasil diterapkan di Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung, dan Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung. Pada fase kedua, program diperluas ke lima desa di Kecamatan Purabaya, Cidolog, dan Curugkembar.
Internet, Harapan, dan Ketangguhan dari Desa Rawan Bencana

Selain menyediakan konektivitas yang berbasis satelit, program ini juga membekali Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dengan pelatihan pemanfaatan teknologi digital untuk mempercepat pelaporan, koordinasi, hingga penyebarluasan informasi kepada masyarakat saat terjadi bencana.
Di Desa Citamiang, manfaat program mulai dirasakan dalam aktivitas sehari-hari para relawan. Kini, informasi kebencanaan dapat diterima lebih cepat, laporan kondisi lapangan bisa langsung dikirim kepada PMI maupun pemerintah desa, sementara edukasi kepada masyarakat semakin mudah dilakukan melalui berbagai platform digital.
Relawan SIBAT Desa Citamiang, Lukman Hakim, mengatakan keberadaan internet membuat proses komunikasi saat kondisi darurat menjadi jauh lebih efektif dibanding sebelumnya.
“Di Desa Citamiang, konektivitas internet kini dimanfaatkan Relawan SIBAT untuk menerima informasi, melakukan pelaporan, berkoordinasi dengan PMI dan pemerintah desa, serta memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Kehadiran jaringan internet membuat proses komunikasi menjadi lebih cepat dan efektif, terutama saat menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Nenda Shopiya Aspari, Sekretaris Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya, mengatakan program konektivitas jaringan berbasis komunitas memberikan manfaat besar, tidak hanya untuk mendukung kesiapsiagaan bencana, tetapi juga menunjang pelayanan publik di tingkat desa.
“Program ini sangat bermanfaat untuk mendukung berbagai program desa. Selain untuk penyebaran informasi kebencanaan dan memperkuat koordinasi saat terjadi bencana, teknologi jaringan ini juga menjadi kebutuhan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Saat ini hampir seluruh penunjang kerja pemerintahan desa berbasis aplikasi yang sangat membutuhkan koneksi jaringan ini,” ujarnya.
Menurut Nenda, saat ini akses jaringan ini dimanfaatkan untuk berbagai layanan administrasi pemerintahan, mulai dari penginputan data Profil Desa dan Kelurahan (Prodeskel), administrasi keuangan desa, pengelolaan data aset desa, hingga pengajuan bantuan sosial bagi masyarakat miskin melalui aplikasi SIKS-NG Kementerian Sosial yang dioperasikan oleh petugas desa.
“Selain itu, koneksi internet juga sangat membantu pelaksanaan rapat, pelatihan, dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di aula desa yang membutuhkan akses internet,”katanya
Karena itu, Pemerintah Desa Citamiang berkomitmen mendukung keberlanjutan program ini dengan mengalokasikan anggaran desa untuk penyediaan panel surya sebagai sumber listrik perangkat teknologi jaringan ini, sehingga layanan komunikasi tetap berjalan meski terjadi pemadaman listrik darurat,” katanya

Sementara itu, Direktur Program Atma Connect, Alpan R. Kasdar, menjelaskan bahwa penggunaan internet berbasis satelit dipilih karena mampu tetap berfungsi ketika jaringan komunikasi konvensional mengalami gangguan akibat bencana.
“Kami hadir dengan menyediakan internet berbasis satelit. Sehingga, ketika terjadi bencana, akses internet bisa tetap jalan dan proses penanganan pasca bencana pun bisa lebih cepat. Akhirnya warga bisa mandiri menggunakan internet,” ujar Alpan.
Menurutnya, fase kedua program tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi bencana.
Baca juga: Respons Kemanusiaan Menyediakan Air Bersih bagi Masyarakat yang Dilanda Kekeringan
“Fase pertama sukses di dua desa, sekarang kita kembangkan ke lima desa di tiga kecamatan. Tidak hanya sekadar memasang internet di desa rawan bencana, namun ada pelatihan relawan dan pengetahuan terkait penggunaannya untuk mempercepat proses penanggulangan pasca bencana,” katanya.
Kolaborasi antara PMI Kabupaten Sukabumi, Atma Connect, Internet Society Foundation, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu menjadi model ketahanan komunitas berbasis teknologi yang dapat direplikasi di wilayah rawan bencana lainnya. Dengan komunikasi yang tetap terjaga saat situasi darurat, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk merespons bencana secara cepat, tepat, dan mandiri.(Atep Maulana)






