Me-mitigasi Bencana, Menyusur Sungai Ciputat

Peserta susur sungai ciputat, Foto: Dok. tangselpos.id
Ekspedisi Jawadwipa

Bencana banjir yang terjadi di kawasan Ciputat membuat resah masyarakat, bukan hanya karena intensitasnya yang semakin sering namun juga karena mengganggu aktivitas masyarakat dan menambah tingkat kemacetan yang terjadi di pinggir Kota Jakarta ini,  alasan inilah yang membuat masyarakat Forum Peduli Sungai Ciputat (FPSC) tergerak untuk melakukan kegiatan susur sungai Ciputat.

Keresahan juga muncul setelah banyak langkah telah diupayakan seperti membenarkan membuat tanggul, pasang pompa penyedot hingga membetulkan drainase. Tapi langkah ini juga belum sepenuhnya efektif menanggulangi bencana banjir yang terjadi di sekitar Pondok Payung Mas, Pondok Hijau, Inhutani & juga perumahan lain di sepanjang lintasan Sungai Ciputat.

Me-mitigasi Bencana, Menyusur Sungai Ciputat

bencana
Peserta susur Sungai Ciputat, Foto: Dok. tangselpos.id

Kegiatan susur sungai  bukan hanya bagian dari upaya mitigasi dari bencana banjir namun juga mempunyai makna lebih yakni bagian dari pengenalan lingkungan sekitar, sebab masyarakat Ciputat yang merupakan masyarakat urban seringkali melihat sungai sebagai bagian yang tak terlihat, kehadirannya tertutup jembatan beraspal sehingga ketika luapan sungai sangat deras terjadi, jembatan terhantam dan rusak.

Kegiatan susur sungai dilakukan pada 31 Mei lalu, dimulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB,. Kegiatan ini melibatkan berbagai lembaga, organisasi masyarakat dan mahasiswa, total ada disekitar 210 orang yang hadir dari perwakilan lembaga/organisasi tersebut. 

Melihat padatnya penduduk pada sekitar jalur sungai, operasi pengarungan ini dilakukan dengan dua metode: pengurangan menggunakan perahu karet(tim air) dan jalan kaki (tim darat) dengan pembagian 4 SRU, dua SRU pertama mengarungi sepanjang 1,7 KM sedangkan untuk dua SRU selanjutnya berjalan sejauh 0,8 KM. Rute yang dilewati dimulai dari Universitas Terbuka hingga Fly Over Ciputat 2. Personil lain yang diterjunkan untuk membantu kelancaran jalannya proses susur sungai adalah tim medis dan tim logistik.

Berdasarkan keterangan dari Aker salah satu peserta dari KMPLHK Ranita yang merupakan bagian dari SRU 4 menyatakan bahwa sepanjang Pondok Hijau hingga Fly Over Ciputat 2 menemukan bahwa ada 3 bangunan yang didirikan menjorok ke bibir sungai, dua diantaranya merupakan rumah warga dan satu lainnya berupa bangunan kandang.

Selain melihat kondisi dari sekitar sungai, target dari kegiatan ini adalah melihat adakah perubahan dari jalur sungai Ciputat. Temuan yang didapatkan akan didata, didokumentasikan secara visual maupun titik koordinatnya yang selanjutnya bisa dijadikan bahan untuk langkah kebijakan selanjutnya.

“Kami klasterisasi/kelompokkan baik berdasarkan wilayah, jenis, dan skala masalah” Ujar Ahmad Mutakin (Ketua FPSC) dalam rilisnya FPSC juga menuliskan tahap berikutnya temuan ini dijadikan  laporan terbuka dan diserahkan kepada para pemangku kebijakan di Tangerang Selatan.

bencana
Peserta kegiatan susur Sungai Ciputat, Foto: TribunTangerang.com – Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico

Sejatinya sungai Ciputat bukan kehidupan yang baru, sungai ini tercatat dalam peta Belanda tahun 1937 di koleksi Universitas Leiden pada lembar Kebajoran dengan nama K. Tjipoetat. Nama “Ciputat” sendiri berasal dari bahasa Sunda: ci atau cai berarti air, dan putat merujuk pada pohon putat yang dahulu tumbuh subur di wilayah Tangerang, Jawa Barat. 

Secara hidrologi hulu Sungai Ciputat berada di Pintu Air Nuri, Sawah Lama, dari mana alirannya membagi air ke persawahan Bintaro sebelum wilayah tersebut berkembang menjadi kawasan perumahan dan bisnis modern seperti Bintaro Xchange. Sungai kemudian mengalir melalui Pondok Aren hingga bertemu Kali Pesanggrahan. Berdasarkan bagan yang dirilis Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), aliran dari Pondok Cabe yang melintasi Ciputat hingga bermuara ke Laut Jawa juga termasuk dalam sistem Kali Pesanggrahan.

Baca juga: Apa Saja Isi Tas Siaga Bencana?

Pemahaman warga bahwa hulu Sungai Ciputat berada di Pondok Cabe, termasuk Danau Universitas Terbuka, tidak sepenuhnya salah, karena sebelum pemekaran Tangerang Selatan, Kecamatan Ciputat membawahi wilayah yang luas, termasuk Pondok Cabe dan Sawah Lama. Meski demikian, secara geografis dan hidrologis, jalur hulu alami sungai berada di sebelah tenggara kampus Universitas Terbuka. 

Kegiatan susur sungai ini menjadi sarana untuk memahami sejarah, geografi, dan fungsi ekologis Sungai Ciputat, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan aliran sungai sebagai nadi kehidupan dan warisan bagi generasi selanjutnya.(Kori)