Kejadian Karhutla Meningkat, Gunung-gunung Ini Hentikan Pendakian

Kebakaran Hutan dan Lahan di area pegunungan, Foto: ANTARA/HO-Balai Besar TNBTS
Ekspedisi Jawadwipa

Kejadian karhutla meningkat menandakan musim kemarau telah tiba, El-Nino benar-benar terasa; manusia merasa udara membakar sepanjang hari, nyamuk berterbangan menandakan siklus hidup yang semakin mudah menularkan penyakit, sungai mengering hingga kawasan hutan dan gunung memicu kebakaran hutan dan lahan yang ekstrim.

Minat masyarakat berwisata ke gunung sebagai bagian dari rekreasi kini juga harus mulai terhenti akibat gunung-gunung yang mengalami karhutla parah memicu degradasi lingkungan berlebih. Kondisi kemarau yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kawasan gunung, mengancam ekosistem serta memperparah degradasi lingkungan. 

Kejadian Karhutla Meningkat, Gunung-gunung Ini Hentikan Pendakian

karhutla
Kejadian karhutla di Kawasan Gunung Bromo, Foto: Dok. BPBD Jatim

Kondisi tersebut salah satunya terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas akibat angin kencang. Berdasarkan data Balai Besar TNBTS, luas area yang terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 176 hektar pada 7 Agustus 2026, meningkat tajam dari 7,9 hektar pada awal kebakaran 3 Agustus. Situasi ini kemudian mendorong Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses kunjungan wisata ke kawasan Gunung Bromo mulai 8 Agustus 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan dilakukan untuk mendukung proses pemadaman sekaligus memastik

Kebakaran juga terjadi di kaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Sekitar 30 hektare lahan di kawasan Maletan, Sembalun, terbakar pada 7 Agustus 2026. Api berhasil dikendalikan oleh tim gabungan hingga dini hari, tetapi petugas tetap melakukan pemantauan dan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api. Kawasan yang terbakar didominasi vegetasi semak, perdu, dan liana yang mudah terbakar dalam kondisi kemarau. 

karhutla
Kejadian Karhutla di Gunung Rinjani 2024, Foto: Dok. TNGR NTB

Kondisi serupa juga sebelumnya melanda Taman Nasional Tambora di Pulau Sumbawa. Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada 5 Juli 2026 telah melanda sekitar 1.956 hektar kawasan savana. Kondisi vegetasi yang kering, tiupan angin yang kuat, medan pegunungan, serta keterbatasan sumber air membuat api cepat menjalar. 

Dikutip dari Antara, kondisi di Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat juga tidak jauh berbeda. Kebakaran di kawasan Alun-Alun Barat Surya Kencana menghanguskan sekitar satu hektar hamparan rumput kering dan sebagian vegetasi berkayu. Meskipun api telah berhasil dipadamkan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tetap melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran susulan. Sebagai langkah pencegahan dan demi keselamatan pengunjung, seluruh jalur pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ditutup sementara pada 7–11 Agustus 2026.

Kebakaran di kawasan gunung bukan semata-mata disebabkan oleh suhu panas atau musim kemarau. Karakter vegetasi menjadi salah satu faktor penting, terutama pada kawasan yang memiliki ekosistem savana. Saat musim kemarau, rumput, ilalang, semak, dan vegetasi lainnya mengering sehingga menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. 

Baca juga: Respons Kemanusiaan Menyediakan Air Bersih bagi Masyarakat yang Dilanda Kekeringan

Kondisi tersebut semakin berisiko ketika terdapat sumber api dari aktivitas manusia dan diperkuat oleh angin yang membuat api cepat menjalar. Kondisi sedikit percikan api juga dapat memantik perluasan area karhutla, aktivitas pendakian di musim kemarau, juga seringkali memicu aktivitas tanpa sadar manusia.(Kori)