Kedatangan El-Nino di tahun ini telah diprediksi lebih ekstrim dibanding 43 tahun lalu (1982), dimana masa awal El-Nino dikenal secara luas dan menjadi penyebab ribuan hektare hutan Kalimantan terbakar.
Hingga saat ini Kalimantan menjadi titik penting yang perlu diperhatikan mengingat seringnya wilayah ini mengalami kebakaran hutan dan lahan, laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam infografis bencana, pada 5 Agustus 2026. Sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur dilaporkan mengalami kejadian kebakaran dengan luasan lahan terdampak yang cukup besar. Di Kalimantan Barat, misalnya, kebakaran tercatat berdampak pada 28.683,47 hektare lahan, sementara di Kalimantan Selatan mencapai 1.956,7 hektar dan Kalimantan Tengah 1.760,74 hektar.
Titik Api Godzilla El-Nino di Seluruh Wilayah Kalimantan

Data titik panas (hotspot) memberikan gambaran lain mengenai pola spasial wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Deteksi satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 menunjukkan adanya sejumlah titik panas dengan tingkat tinggi (high confidence) di berbagai kabupaten di Kalimantan.
Berdasarkan data dari aplikasi SIPONGI, hari ini Kalimantan Barat mencatat konsentrasi tertinggi dengan 73 titik panas, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 28 titik, Kalimantan Selatan 10 titik, dan Kalimantan Timur 3 titik. Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa kerentanan terhadap kebakaran tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja, melainkan membentuk pola spasial yang melintasi berbagai kabupaten di Kalimantan.

Hotspot atau titik panas merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mendeteksi adanya anomali suhu di permukaan bumi melalui pengamatan satelit. Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan, kemunculan hotspot dapat menjadi indikasi awal adanya aktivitas pembakaran atau kebakaran pada suatu wilayah. Tetapi hotspot tidak selalu berarti kebakaran, karena anomali panas juga dapat berasal dari aktivitas lain. Oleh karena itu, data hotspot perlu dipadukan dengan informasi lain, seperti kondisi cuaca, tutupan lahan, citra satelit, dan verifikasi lapangan, untuk memastikan adanya kejadian kebakaran.
Baca juga: Kejadian Karhutla Meningkat, Gunung-gunung Ini Hentikan Pendakian
Sebaran titik panas tersebut menjadi penting ketika ditempatkan dalam konteks prediksi El-Nino yang diperkirakan memiliki intensitas lebih kuat. Kondisi El-Nino yang ekstrem berpotensi mengubah karakter musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, sehingga meningkatkan tekanan terhadap ekosistem hutan dan lahan di Kalimantan. Semakin rendah kelembaban lahan dan vegetasi, semakin besar pula kemungkinan api berkembang ketika sumber pembakaran muncul. Dengan kata lain, kondisi iklim tidak secara langsung menciptakan api, tetapi dapat menyediakan lingkungan yang lebih mendukung bagi terjadinya dan meluasnya kebakaran.(Kori)






