Dalam beberapa dekade terakhir, fenomena El-Nino kerap menjadi perhatianĀ karena kaitannya dengan berbagai krisis lingkungan dan bencana di berbagai belahan dunia. Kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan dan lahan, gagal panen, hingga krisis air bersih merupakan sebagian dampak yang sering menyertai fenomena ini. Kerugian ekonomi yang besar, gangguan kesehatan masyarakat, serta hilangnya nyawa menjadikan El Nino sebagai salah satu ancaman iklim yang paling diwaspadai.
Berbekal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, para ilmuwan kini mampu memantau dan memprediksi perkembangan El Nino beberapa bulan bahkan hingga lebih dari satu tahun sebelumnya. Kemampuan ini memungkinkan pemerintah dan masyarakat untuk menyusun langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko yang dapat terjadi. Namun dibalik kecanggihan sistem pemantauan modern tersebut, muncul sebuah pertanyaan menarik.
Bagaimana manusia pertama kali mengenali keberadaan fenomena El-Nino?

El Nino yang menurut BMKG diartikan sebagai fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur, sebenarnya berasal dari sebuah istilah yang diciptakan oleh para nelayan di Peru utara untuk mengidentifikasi gangguan samudra dan meteorologi di awal musim panas serta dampak ekologisnya terhadap ikan dan kehidupan pesisir. Asalnya dari bahasa Spanyol yang berarti āanak laki-lakiā.
Pada mulanya, sebutan ini digunakan oleh para nelayan di pesisir Peru dan Ekuador untuk menggambarkan arus laut hangat yang secara berkala muncul dan mengalir ke arah selatan menjelang perayaan Natal. Karena fenomena tersebut biasanya terjadi pada akhir tahun, para nelayan menamakannya El Nino de Navidad (Anak Natal), merujuk pada kelahiran Yesus Kristus.
Meskipun awalnya ini hanya sebuah anomali iklim yang berdampak pada perairan Amerika, namun penelitian ilmiah selanjutnya menunjukkan bahwa pemanasan perairan tersebut bukanlah kejadian lokal. Fenomena ini ternyata merupakan bagian dari anomali suhu permukaan laut yang jauh lebih luas di Samudra Pasifik tropis bagian timur dan tengah, bahkan dapat meluas hingga mendekati Garis Tanggal Internasional di Pasifik tengah.
Menurut sciene.nasa.gov, meskipun istilah El Nino baru dikenal luas pada abad ke-20, fenomena ini sesungguhnya telah menjadi bagian dari sistem iklim bumi selama ribuan bahkan puluhan ribu tahun. Jejak El Nino dapat ditelusuri melalui berbagai arsip alam seperti karang, lapisan sedimen laut, inti es, hingga lingkar pertumbuhan pohon. Rekaman-rekaman alam banyak yang menunjukkan bahwa perubahan suhu laut dan pola curah hujan yang menjadi ciri El Nino telah terjadi berulang kali sejak akhir Zaman Es terakhir.
Deskripsi pertama tentang El Nino memang muncul pada akhir abad ke-19 melalui korespondensi antara Masyarakat Geografi Lima dan Kongres Geografi Internasional pada tahun 1890-an. Namun jauh sebelum itu, masyarakat pesisir Peru telah mengenali fenomena ini melalui perubahan hasil tangkapan ikan dan kondisi cuaca yang tidak biasa.
Sejumlah ilmuwan, sejarawan, dan arkeolog bahkan berpendapat bahwa El Nino turut mempengaruhi perjalanan berbagai peradaban kuno di Amerika Selatan. Perubahan pola hujan yang ekstrim diduga berkontribusi terhadap kemunduran atau transformasi beberapa kebudayaan besar, seperti Moche dan Inca, yang kehidupannya sangat bergantung pada kestabilan iklim, pertanian, dan ketersediaan air.
Catatan sejarah yang lebih rinci mulai muncul setelah kedatangan bangsa Eropa ke Benua Amerika pada abad ke-16. Beberapa peneliti meyakini bahwa kondisi El Nino turut membantu ekspedisi penaklukan Peru oleh Spanyol. Ketika penjelajah Spanyol, Francisco Pizarro, pertama kali berlayar menyusuri pantai barat Amerika Selatan pada tahun 1524, perjalanannya terhambat oleh angin dan arus laut yang tidak menguntungkan. Namun dalam pelayaran berikutnya pada 1525ā1526 dan terutama pada 1531ā1532, ia memperoleh dukungan angin yang lebih bersahabat, pola yang kini diketahui sering muncul pada tahun-tahun El Nino.
Saat pasukan Spanyol memasuki wilayah pedalaman, mereka menemukan kondisi yang tidak biasa: sungai-sungai meluap, wilayah gurun menjadi lebih hijau, dan hujan turun di daerah yang umumnya kering. Kondisi tersebut mempermudah mobilitas pasukan dan membantu mereka membangun pijakan di wilayah Kekaisaran Inca.
Dampak El Nino tidak hanya tercatat di Amerika Selatan. Pada akhir abad ke-18, antara tahun 1789 hingga 1792, monsun di Asia Selatan beberapa kali mengalami kegagalan. Sejumlah peneliti menduga bahwa anomali iklim global yang berkaitan dengan El Nino turut berkontribusi terhadap gagal panen di berbagai wilayah. Krisis pangan yang muncul akibat cuaca ekstrem ini diyakini menjadi salah satu faktor yang memperburuk ketegangan sosial dan ekonomi yang melatarbelakangi Revolusi Prancis pada tahun 1789.

Pengaruh yang lebih luas kembali terlihat pada akhir abad ke-19. Dalam bukunya Late Victorian Holocausts, sejarawan Mike Davis menjelaskan bahwa beberapa bencana kelaparan terbesar dalam sejarah modern berkaitan dengan episode El-Nino yang kuat. Kekeringan hebat pada periode 1876ā1878, 1896ā1897, dan 1899ā1900 menyebabkan gagal panen di India, Tiongkok, Brasil, dan sejumlah wilayah lainnya. Diperkirakan antara 30 hingga 60 juta orang meninggal dunia akibat kelaparan dan penyakit yang mengikuti krisis tersebut. Meski faktor kolonialisme dan kebijakan ekonomi turut memperparah dampaknya, El-Nino dipandang sebagai salah satu pemicu utama gangguan iklim yang mendasari tragedi kemanusiaan tersebut.
Pemahaman ilmiah modern tentang El-Nino mulai berkembang pesat pada awal abad ke-20. Pada dekade 1920-an, ahli statistik dan fisikawan Inggris, Gilbert Walker, yang sedang mempelajari pola monsun di India, menemukan hubungan antara perubahan tekanan udara di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Ia menamai pola tersebut sebagai Southern Oscillation atau Osilasi Selatan, yaitu fenomena naik-turunnya tekanan udara yang terjadi secara bergantian di kedua wilayah samudra tersebut.
Baca juga: Waspada, Lonjakan Api Karhutla dan El-Nino Godzilla
Penemuan Walker kemudian menjadi fondasi bagi pemahaman modern mengenai El-Nino. Beberapa dekade berikutnya, para ilmuwan berhasil menghubungkan perubahan tekanan udara tersebut dengan perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Dari sinilah lahir konsep ENSO (El NinoāSouthern Oscillation), yaitu sistem interaksi antara laut dan atmosfer yang hingga kini menjadi salah satu pengendali utama variasi iklim global.(Kori)
Sumber:
https://cews.bmkg.go.id/enso-tentang.php
https://www.bmkg.go.id/iklim/mengenal-el-nino-dan-dampaknya-di-kalbar
Caviedes, Cesar N. 1984. “El NiƱo 1982ā83.” Geographical Review 74(3): 267ā290. DOI: 10.2307/214939.






