Kegiatan yang bertemakan “Perempuan Mewujudkan Ketahanan Pangan” dihadiri oleh 30 perempuan dari berbagai kalangan usia, terutama didominasi oleh ibu-ibu muda yang mempunyai inisiatif untuk mewujudkan program kemandirian pangan dalam skala keluarga.
Sejatinya belajar tidak pernah mengenal usia, semua orang belajar menambah pengetahuan atau bahkan untuk membangun ketahanan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semangat tersebut yang dibangun JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) dalam inisiasi kegiatan Community Peer Learning yang diselenggarakan pada Sabtu, 26 Juli 2026 lalu.
Ruang Perempuan Membangun Ketahanan Keluarga Lewat Community Peer Learning
Berkolaborasi dengan Selarasa Foodlab, sebuah lab hub yang menghubungkan para petani di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan, setidaknya beberapa komunitas turut sharing keberhasilannya dalam menerapkan program ketahanan keluarga. Dilakukan beberapa topik diskusi interaktif terkait inisiatif program-program ketahanan pangan seperti: cara menerapkan urban farming dipresentasikan oleh Kebun Emeng, cara membudidayakan lele dalam galon dipresentasikan oleh perwakilan guru Madrasah Aliyah Citra Cendekia serta tips mengompos dengan baik dipresentasikan oleh Tani Alit.

Sebagian besar peserta mengaku pernah menerapkan kegiatan-kegiatan tersebut, namun dalam prosesnya terdapat banyak kendala seperti kompos yang dipenuhi dengan belatung atau masalah paling mendasar yakni kurang telaten dan berujung tidak diteruskan untuk menanam ataupun mengompos karena prosesnya yang memakan waktu.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi serta ruang temu bagi para perempuan untuk sharing keresahan terkait kerja perawatan dalam hal ini menanam dan mengolah sampah yang memang butuh kesabaran lebih sehingga nantinya dapat membentuk ketahanan keluarga.
Salah satu peserta menuturkan bahwa “Saya sudah pernah coba ngompos tapi saya takut sama ulat, jadi saya tidak lanjutan, mungkin habis ini saya akan coba menanam saja, dari kegiatan ini saya jadi punya semangat untuk menanam” Ujar Zakiy.
Selain berbagi pengalaman, kegiatan ini juga menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari lahan yang luas atau modal yang besar. Menanam sayuran di rooftop, memanfaatkan wadah bekas untuk budidaya ikan, hingga mengolah sampah organik menjadi kompos merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dari rumah.
Jika dilakukan secara konsisten, praktik tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga mengurangi pengeluaran rumah tangga dan menjaga lingkungan.

Community Peer Learning menjadi ruang belajar yang setara, di mana setiap peserta dapat saling bertukar pengalaman tanpa sekat. Dalam forum ini, perempuan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan melalui praktik-praktik yang telah mereka lakukan di lingkungan masing-masing. Pengalaman yang dibagikan menjadi inspirasi bagi peserta lain untuk mencoba dan mengembangkan inisiatif serupa.
Baca juga: Internet, Harapan, dan Ketangguhan dari Desa Rawan Bencana
Dan bagi JPPI, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Pendidikan juga hadir melalui proses belajar bersama yang menjawab persoalan sehari-hari. Dengan mempertemukan perempuan-perempuan yang memiliki pengalaman di bidang ketahanan pangan, kegiatan ini diharapkan mampu membangun jejaring antar perempuan sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak praktik baik yang dapat diterapkan di tingkat keluarga maupun lingkungan sekitar.(Kori)






