Waspada, Lonjakan Api Karhutla dan El Nino Godzilla

Ilustrasi Kekeringan, Foto: Dok. radarlombok.co.id
Ekspedisi Jawadwipa

Di Tengah ancaman karhutla yang terus datang tiap tahunnya, tahun 2026 ini El Nino juga kemungkinan akan memperparah kondisi ini. Dikutip dari Antara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu (SPAGLL), diperkirakan bahwa potensi kemunculan fenomena El Niño pada tahun 2026 telah mencapai 60 persen. 

Dalam info bencana sepekan yang dirilis oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) per tanggal 19-26 Maret menunjukan ada 6 lokasi yang menjadi titik karhutla. Diantaranya; Provinsi Aceh 2 ha, Riau 467,3 ha, Sumatera Utara 4 ha, Kepulauan Riau 78,5 ha, Kalimantan Barat 36,30 ha, dan Kalimantan Tengah 36,95 ha luas total lahan yang terbakar. Dua wilayah terkonfirmasi sudah padam namun 4 lainnya masih dalam penanganan dan belum padam.

Meskipun di beberapa wilayah Indonesia, musim hujan belum nampak akan usai. Waspada akan datangnya cuaca panas ekstrim di berbagai wilayah perlu diantisipasi. Terutama di wilayah yang rawan menjadi titik hotspot dari karhutla (kebakaran hutan dan lahan).

Waspada, Lonjakan Api Karhutla dan El Nino Godzilla

karhutla
Ilustrasi Terjadinya El Nino & La Nina, Foto: Dok. fmipa.unesa.ac.id

Fenomena ini berpotensi memperkuat kondisi kering di berbagai wilayah Indonesia, dengan puncak diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2026. Kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini karena dapat meningkatkan risiko karhutla, krisis air, serta dampak lingkungan dan kesehatan lainnya.

Dilansir dari Tempo, Peneliti iklim dan atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengatakan bahwa kondisi ini berpotensi membuat Indonesia menghadapi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari kondisi normal pada periode April hingga Oktober 2026. Peringatan ini muncul seiring meningkatnya pengaruh dua fenomena iklim sekaligus, yaitu El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

IOD merupakan fenomena yang terjadi di Samudra Hindia dan ditandai dengan menurunnya suhu permukaan laut di kawasan dekat Sumatera dan Jawa. Pendinginan ini berdampak pada berkurangnya pembentukan awan hujan, sehingga curah hujan di Indonesia ikut menurun secara signifikan. Akibatnya, wilayah Indonesia lebih didominasi oleh tekanan udara tinggi yang menghambat terbentuknya hujan dan memperkuat kondisi kemarau panjang.

Berdasarkan model prediksi yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pengaruh El Nino dan IOD positif pada tahun 2026 diperkirakan akan menimbulkan kemarau yang lebih kering di sebagian besar wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur pada periode April hingga Juli 2026.

karhutla
Ilustrasi kebakaran hutan, Foto: Dok. tribatanews.polri.go.id

Namun, di sisi lain, kondisi yang sama justru berpotensi meningkatkan curah hujan di wilayah Sulawesi bagian utara dan Maluku Utara pada periode yang sama. Perbedaan dampak ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi curah hujan di Indonesia sebagai akibat interaksi kedua fenomena iklim tersebut.

Menghadapi potensi kemarau panjang yang dipengaruhi oleh El Nino dan IOD positif, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko yang dampak ditimbulkan. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diantisipasi secara serius.

Baca juga: Daerah Rawan Kebakaran Hutan di Dunia

Selain itu dampaknya terhadap ketahanan pangan juga harus diwaspadai, mengingat berkurangnya ketersediaan air dapat memengaruhi produksi pertanian dan pasokan pangan. Aspek kesehatan masyarakat pun perlu mendapat perhatian, terutama terkait meningkatnya risiko penyakit pernapasan akibat kabut asap.(Kori)