Liputan Bencana, Berikut 5 Hal yang Perlu Diperhatikan

Ilustrasi liputan pada saat bencana, Foto: perlan.is
Ekspedisi Jawadwipa

Bencana selalu menghadirkan kebutuhan informasi yang tinggi. Ketika gempa, banjir, longsor, erupsi gunung api, atau kebakaran hutan terjadi, masyarakat membutuhkan informasi mengenai apa yang terjadi, siapa yang terdampak, bagaimana kondisi terbaru, serta apa yang harus dilakukan. 

Pada situasi seperti ini, jurnalis memiliki peran penting untuk menyampaikan informasi yang cepat, akurat, dan berguna. Tetapi meliput kejadian ini bukan sekadar mengejar kecepatan atau mendapatkan gambar paling dramatis. Keselamatan jurnalis, akurasi informasi, dan martabat korban harus menjadi bagian utama dalam setiap liputan.

Dalam dataset resmi tahun 2025, BNPB mencatat dan menyediakan data mengenai jumlah kejadian, korban meninggal, hilang, luka, terdampak, mengungsi, hingga rumah yang mengalami kerusakan. Data tersebut tersedia berdasarkan wilayah maupun jenis dampaknya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa peliputan bencana tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga kemampuan membaca dan memeriksa data.

Liputan Bencana, Berikut 5 Hal yang Perlu Diperhatikan

bencana
Ilustrasi Liputan, Foto: shutterstock
  1. Utamakan keselamatan sebelum mendapatkan berita.

Jurnalis tidak harus menjadi orang pertama yang masuk ke lokasi berbahaya. Area terdampak dapat menyimpan ancaman lanjutan, seperti longsor susulan, banjir bandang, bangunan yang tidak stabil, awan panas, material vulkanik, atau gempa susulan. Karena itu, sebelum turun ke lapangan, jurnalis perlu mengetahui kondisi lokasi, jalur evakuasi, titik aman, serta mengikuti arahan petugas dan otoritas setempat.

Pedoman peliputan bencana dan krisis yang diterbitkan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) juga menempatkan keselamatan jurnalis sebagai salah satu perhatian penting dalam peliputan. Prinsip serupa ditegaskan dalam panduan Reporters Without Borders (RSF) untuk peliputan gempa: keselamatan masyarakat harus didahulukan daripada mendapatkan berita lebih cepat dan jurnalis tidak boleh memasuki zona terlarang tanpa izin.

  1. Verifikasi informasi sebelum dipublikasikan.

    Dalam situasi bencana, informasi berubah sangat cepat. Jumlah korban, lokasi pengungsian, akses jalan, status cuaca, hingga peringatan bahaya dapat berubah dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat informasi yang belum terverifikasi mudah menyebar sebagai kabar yang keliru. Sehingga penting juga menunjukan tanggal dan waktu saat mendapatkan informasi.

    Jurnalis perlu membedakan antara informasi resmi, kesaksian warga, dan informasi yang masih berupa dugaan. Data korban, misalnya, sebaiknya dikonfirmasi kepada sumber berwenang dan tidak langsung mengutip angka yang beredar di media sosial. Data BNPB sendiri menyediakan berbagai kategori dampak secara terpisah, seperti korban meninggal, hilang, luka, terdampak, dan mengungsi. Ketelitian dalam menggunakan kategori tersebut penting agar pemberitaan tidak menghasilkan angka yang menyesatkan.

    1. Jangan menjadikan penderitaan korban sebagai tontonan.

    Bencana meninggalkan trauma, kehilangan, dan ketidakpastian bagi masyarakat terdampak. Karena itu, wawancara harus dilakukan dengan empati. Korban yang baru kehilangan anggota keluarga atau masih berada dalam kondisi syok tidak seharusnya dipaksa untuk memberikan pernyataan demi mendapatkan kutipan emosional.

    Kajian Elis Zuliati Anis mengenai foto jurnalistik bencana di Indonesia juga menunjukkan persoalan serupa. Penelitian yang mengkaji pemberitaan sejumlah kejadian besar menemukan adanya kecenderungan media menampilkan penderitaan, kesedihan, dan duka kelompok rentan. Karena itu, pemberitaan perlu menyeimbangkan kepentingan untuk menunjukkan realitas kejadian atau tragedi dengan penghormatan terhadap martabat dan privasi korban.

    1. Perhatikan gambar dan identitas korban.

    Foto atau video sering menjadi bagian penting dalam laporan bencana, tetapi tidak semua gambar layak dipublikasikan. Gambar korban meninggal, orang terluka parah, anak-anak yang ketakutan, atau keluarga yang sedang berduka perlu dipertimbangkan secara matang. Pertanyaannya bukan hanya “apakah gambar ini menarik?”, tetapi juga “apa manfaat gambar ini bagi publik?”

    Peliputan yang baik tidak harus memperlihatkan penderitaan secara ekstrem. Kondisi tempat pengungsian, kerusakan infrastruktur, upaya penyelamatan, distribusi bantuan, serta cerita warga mengenai proses pemulihan juga dapat menggambarkan dampak bencana tanpa mengeksploitasi korban.

    bencana
    Ilutrasi liputan pada saat kejadian bencana terjadi, Foto: Dok. narator.co
    1. Cari konteks, bukan hanya kejadian.

    Bencana tidak berhenti pada peristiwa ketika air naik, tanah longsor, atau gempa mengguncang. Jurnalis perlu menggali mengapa dampaknya bisa besar. Apakah tata ruang berpengaruh? Apakah terdapat persoalan drainase, deforestasi, pembangunan di kawasan rawan, atau lemahnya mitigasi? Siapa yang paling rentan dan mengapa?

    Penelitian mengenai praktik terbaik peliputan bencana menunjukkan bahwa jurnalisme bencana sebaiknya tidak hanya berfokus pada fase ketika bencana terjadi, tetapi juga memperhatikan informasi sebelum dan sesudah bencana. Dengan demikian, berita tidak berhenti pada jumlah korban dan kerusakan, tetapi membantu publik memahami risiko serta proses pemulihan.

    Meliput bencana adalah pekerjaan yang menuntut keberanian sekaligus kehati-hatian. Jurnalis perlu hadir untuk memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, tetapi kehadiran tersebut tidak boleh menambah risiko bagi diri sendiri maupun korban. Kecepatan harus berjalan bersama verifikasi, gambar harus disertai empati, dan berita harus memberikan konteks.

    Baca juga: Gunung Kapi (Krakatau Purba), Laut yang Naik, dan Ingatan tentang Bencana 1.600 Tahun Lalu, Membaca Kembali Pustaka Raja Purwa

    Sebab, dalam situasi bencana, tugas jurnalis bukan sekadar menjadi saksi atas kehancuran. Jurnalis juga berperan membantu masyarakat memahami risiko, menemukan informasi yang benar, dan melihat bagaimana sebuah kejadian dapat dicegah atau dampaknya dikurangi pada masa depan.(Kori)