Letusan Samalas Abad Ke-13 Dalam Babad Lombok dan Jejak Masyarakat Yang Bangkit Setelahnya

ilustrasi Babad Lombok, Foto: Dok. lombokpost.jawapost.com
Ekspedisi Jawadwipa

Sejarah sering kali mengingat bencana melalui angka dan kehancuran. Kita mengenal letusan gunung karena ribuan orang meninggal. Kita mengingat tsunami karena kota-kota dihancurkan. Kita mengenal gempa melalui bangunan yang runtuh dan wilayah yang berubah menjadi puing-puing.

Sejarah mencatat kapan gunung meletus, kapan laut naik, kapan kerajaan runtuh, dan berapa banyak manusia yang kehilangan nyawa. Tetapi ada satu bagian yang sering hilang dari catatan sejarah: Bagaimana masyarakat bangkit Kembali ? Apa yang dilakukan para penyintas setelah bencana? Ke mana mereka pergi? Bagaimana mereka mencari makanan? Bagaimana mereka membangun kembali rumah dan kampung? Bagaimana mereka memulihkan pertanian? Bagaimana sebuah masyarakat yang kehilangan hampir seluruh kehidupannya dapat kembali berdiri?

Babad Lombok dan Jejak Masyarakat Yang Bangkit Pasca Letusan Samalas Abad Ke-13

letusan
Ilustrasi ketinggian Gunung Samalas, Foto: Dok. harianmassa.id

Letusan Gunung Samalas pada tahun 1257 Masehi merupakan salah satu letusan gunung api terbesar dalam sejarah manusia. Letusan dahsyat ini terjadi di kompleks Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan membentuk kaldera yang kini dikenal sebagai Segara Anak. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Lombok, tetapi juga meninggalkan jejak perubahan iklim di berbagai belahan dunia. Namun, yang membuat peristiwa Samalas sangat istimewa bukan hanya besarnya letusan, tetapi  adanya catatan masyarakat lokal tentang kehidupan sebelum, ketika, dan setelah bencana.

Catatan itu ditemukan dalam sejumlah babad dari Lombok, terutama Babad Lombok, serta sumber lain seperti Babad Suwung dan Babad Sembalun. Penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research menunjukkan bahwa sumber-sumber dari Lombok merupakan salah satu catatan tertulis yang sangat langka di Indonesia karena menggambarkan seluruh siklus kehidupan masyarakat menghadapi bencana: kondisi sebelum letusan, saat bencana terjadi, respons darurat, hingga proses pemulihan masyarakat setelahnya.

Dengan kata lain, masyarakat Lombok tidak hanya meninggalkan cerita tentang bagaimana mereka hancur, tetapi mereka juga meninggalkan jejak tentang bagaimana mereka berusaha bangkit kembali.

Sebelum bencana: kehidupan yang pernah ada

Sebelum letusan Samalas, Lombok bukanlah sebuah pulau kosong. Babad mencatat adanya permukiman dan pusat kehidupan masyarakat, termasuk Pamatan yang digambarkan sebagai pusat penting pada masa itu. Ada masyarakat,  kampung, pertanian, pemerintahan, kehidupan social, yang digambarkan dalam Babad Lombok.

Inilah bagian yang sangat penting dari catatan tersebut. Babad tidak langsung memulai cerita dari kehancuran. Ia terlebih dahulu memperlihatkan bahwa sebelum bencana terdapat sebuah dunia yang hidup. Karena itu, ketika letusan terjadi, yang hilang bukan sekadar bangunan, yang hilang adalah sebuah kehidupan.

Ketika gunung runtuh dan masyarakat melarikan diri

Letusan Samalas menghancurkan dunia masyarakat yang hidup di sekitarnya. Gunung mengalami letusan besar dan perubahan bentuk. Abu, material vulkanik, aliran panas, dan kehancuran menyapu wilayah di sekitarnya. Permukiman dan pusat kehidupan masyarakat terdampak sangat parah.

Pamatan, yang disebut dalam catatan sebagai pusat kerajaan atau kota penting, dikaitkan dengan kehancuran akibat letusan tersebut. Namun, di tengah kehancuran itu, Babad Lombok tidak hanya mencatat korban. Ia juga menyimpan cerita tentang manusia yang mencoba menyelamatkan diri.

Masyarakat disebut melarikan diri ke daerah yang lebih tinggi dan perbukitan. Sebagian berusaha menghindari kawasan berbahaya. Ada pula jejak perpindahan menuju desa dan wilayah lain, bahkan ke pulau-pulau tetangga. Penelitian terhadap tiga babad Lombok menunjukkan bahwa catatan-catatan tersebut memungkinkan peneliti merekonstruksi sebagian proses evakuasi dan perpindahan masyarakat melalui nama-nama tempat dan jejak geografis yang disebutkan dalam naskah.

Di sinilah kita melihat sesuatu yang jarang ditemukan dalam catatan sejarah bencana. Bencana bukan hanya dicatat sebagai, gunung meletus. Inilah bagian yang paling menarik. Setelah mencatat kehancuran dan pelarian masyarakat, sumber-sumber dari Lombok juga memberikan petunjuk mengenai proses pemulihan.

Penelitian modern terhadap Babad Lombok, Babad Suwung, dan Babad Sembalun menemukan adanya gambaran mengenai strategi pemulihan pascabencana. Pemulihan tersebut mencakup, pembangunan kembali kota dan desa, pemulihan pertanian, pembentukan kembali tata pemerintahan, munculnya pusat-pusat kekuasaan dan permukiman baru, reorganisasi kehidupan masyarakat setelah kehancuran besar.

Para peneliti memperkirakan bahwa proses pemulihan Lombok setelah letusan Samalas mungkin berlangsung sangat lama, bahkan hingga sekitar satu abad. Pada abad ke-14, kerajaan dan pusat-pusat kekuasaan baru mulai muncul kembali. Ini adalah pelajaran yang sangat penting. Masyarakat Lombok sebenarnya telah mengenal “Build Back  Better”.

letusan
kawah Gunung Rinjani, Foto: SHUTTERSTOCK/K_Boonnitrod

Hari ini, dunia mengenal istilah Build Back Better. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan upaya membangun kembali kehidupan masyarakat setelah bencana dengan kondisi yang lebih aman, lebih kuat, dan lebih mampu menghadapi risiko di masa depan. Tetapi masyarakat Lombok pada abad ke-13 tentu tidak menggunakan istilah tersebut.

Mereka tidak menulis laporan pemulihan, tidak membuat matriks indicator,  tidak menyusun recovery framework, tidak menggunakan istilah rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun, yang mereka lakukan memiliki semangat yang sangat dekat dengan gagasan tersebut. Setelah kehilangan pusat kehidupan lama, masyarakat tidak sekadar kembali ke titik semula dan melanjutkan kehidupan seperti sebelumnya.

Terjadi perpindahan. Terjadi pembangunan kembali. Terjadi perubahan pusat permukiman. Terjadi pemulihan pertanian. Terjadi pembentukan kembali pemerintahan dan kerajaan. Dengan kata lain, masyarakat berusaha membangun kembali kehidupan mereka dalam kondisi dunia yang telah berubah.Dan mungkin di situlah inti sebenarnya dari Build Back Better. Bukan sekadar membangun rumah yang lebih kuat. Tetapi, bagaimana sebuah masyarakat membangun kembali kehidupannya setelah dunia lama mereka hilang.

Babad Lombok, aArsip Kebangkitan Masyarakat

Babad Lombok seharusnya tidak hanya dibaca sebagai catatan tentang letusan gunung. Ia dapat dibaca sebagai arsip tentang ketangguhan masyarakat. Di dalamnya terdapat jejak tentang, kehidupan sebelum bencana, kehancuran ketika bencana datang, upaya masyarakat menyelamatkan diri, dan perjalanan panjang untuk membangun kembali kehidupan. Penelitian terbaru bahkan menyebut bahwa teks-teks dari Lombok merupakan salah satu contoh langka dari sumber tertulis Indonesia yang mencatat siklus bencana secara luas, mulai dari kondisi sebelum bencana, respons darurat, hingga strategi pemulihan masyarakat. Ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia hari ini.

Kita selama ini mungkin terlalu sibuk mendokumentasikan, berapa orang meninggal, berapa rumah rusak, berapa kerugian ekonomi, berapa bantuan yang diberikan. Tetapi mungkin kita belum cukup serius mendokumentasikan pertanyaan yang lebih panjang,  bagaimana masyarakat bangkit ? Apa yang terjadi lima tahun kemudian? Sepuluh tahun kemudian? Dua puluh tahun kemudian? Apakah masyarakat menjadi lebih aman? Apakah pengetahuan tentang bencana diwariskan? Apakah masyarakat benar-benar pulih? Atau apakah mereka hanya kembali ke kondisi rentan sebelum bencana?

Dari Samalas untuk Indonesia hari ini

Kisah Samalas mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya memiliki sejarah bencana. Indonesia memiliki sejarah kebangkitan setelah bencana. Masalahnya, sejarah itu belum sepenuhnya kita gali. Mungkin cerita tentang pemulihan Krakatau 1883 masih tersebar dalam arsip dan ingatan masyarakat. Mungkin pengalaman masyarakat setelah Tambora 1815 masih tersimpan dalam cerita keluarga dan perubahan permukiman. Mungkin masyarakat Aceh setelah tsunami memiliki pelajaran yang akan hilang jika tidak terus didokumentasikan. Mungkin masyarakat Palu, Lombok, Flores, Cianjur, dan berbagai wilayah lain hari ini sedang menulis sejarah pemulihan mereka sendiri.

Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita sedang mendokumentasikannya? Ataukah, seratus tahun dari sekarang, generasi mendatang hanya akan mengetahui jumlah korban dan bangunan yang rusak? Mereka mungkin tahu kapan bencana terjadi. Tetapi tidak tahu bagaimana manusia bangkit. Menulis sejarah yang selama ini terlupakan Babad Lombok memberikan satu pelajaran besar, bahwa masyarakat masa lalu tidak hanya mengingat kehancuran. Mereka juga mengingat bagaimana mereka bertahan dan membangun kembali.

Mungkin inilah yang harus kita lakukan hari ini. Kita perlu mulai menulis sejarah bencana secara berbeda. Tidak berhenti pada, Apa yang hancur? Tetapi melanjutkan pertanyaan: Siapa yang bangkit? Bagaimana mereka bertahan? Apa yang mereka ubah? Apa yang mereka bangun kembali? Pengetahuan apa yang mereka peroleh? Dan apa yang mereka wariskan kepada generasi berikutnya? Karena pada akhirnya, sejarah bencana bukan hanya sejarah tentang kehancuran. Sejarah bencana seharusnya juga menjadi sejarah tentang kebangkitan. Dan di sebuah pulau kecil di Nusantara, sekitar delapan abad yang lalu, masyarakat Lombok telah meninggalkan jejak penting tentang itu.

Baca juga: Gunung Kapi (Krakatau Purba), Laut yang Naik, dan Ingatan tentang Bencana 1.600 Tahun Lalu, Membaca Kembali Pustaka Raja Purwa

Mereka tidak hanya menceritakan bagaimana Gunung Samalas menghancurkan dunia mereka. melalui ingatan yang diwariskan dan kemudian dituliskan dalam babad, meninggalkan jejak tentang apa yang terjadi setelahnya. Tentang manusia yang melarikan diri. Tentang masyarakat yang bertahan. Tentang kehidupan yang berubah. Dan tentang sebuah masyarakat yang, meskipun membutuhkan waktu panjang, kembali membangun kehidupannya setelah bencana. Mungkin inilah salah satu sejarah paling penting yang selama ini belum kita baca dengan cukup serius, manusia mungkin tidak selalu mampu mencegah bencana. Tetapi sepanjang sejarah, manusia selalu berusaha menemukan cara untuk bangkit kembali.(RN)