Gunung Kapi (Krakatau Purba), Laut yang Naik, dan Ingatan tentang Bencana 1.600 Tahun Lalu, Membaca Kembali Pustaka Raja Purwa

Letusan Gunung Anak Krakatau, Foto: Dok. PVMBG
Ekspedisi Jawadwipa

Indonesia mengenal Krakatau sebagai salah satu gunung api paling terkenal dan paling dahsyat dalam sejarah dunia. Letusannya pada 1883 menghancurkan sebagian besar Pulau Krakatau, memicu tsunami besar, menghantam pesisir Jawa dan Sumatera, serta menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Suara ledakan Krakatau bahkan dilaporkan terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya. Gelombang tsunami menyapu permukiman di sepanjang pantai Selat Sunda. Abu vulkanik menutupi langit, sementara dampak letusan dirasakan hingga berbagai belahan dunia.

Namun, Krakatau 1883 bukanlah awal dari sejarah panjang gunung api di Selat Sunda.

Jauh sebelum letusan dahsyat itu, kawasan Krakatau diyakini telah mengalami aktivitas vulkanik besar. Dalam ingatan masyarakat dan catatan sejarah yang kemudian ditulis dalam naskah kuno, terdapat kisah tentang sebuah gunung bernama Gunung Kapi.

Gunung inilah yang oleh sejumlah peneliti dan katalog sejarah tsunami kemudian dikaitkan dengan Krakatau atau Krakatau Purba.

Gunung Kapi (Krakatau Purba), Laut yang Naik, dan Ingatan tentang Bencana 1.600 Tahun Lalu

krakatau
Ilustrasi Letusan Gunung Krakatau, Foto: HULTON ARCHIVE/GETTY IMAGES

Cerita tentang Gunung Kapi membawa kita kembali lebih dari 1.600 tahun ke belakang, ke sebuah masa ketika wilayah Nusantara belum mengenal nama Indonesia, ketika masyarakat hidup di antara gunung api, hutan, laut, dan kerajaan-kerajaan awal.

Di dalam sebuah naskah Jawa yang dikenal sebagai Pustaka Raja Purwa atau Pustaka Raja, tercatat sebuah peristiwa besar yang dikaitkan dengan tahun 338 Saka, atau sekitar 416 Masehi.

Ada pula berbagai penulisan populer yang menyebut angka tahun berbeda, termasuk sekitar 416 atau 461 M. Namun, angka yang paling sering dikutip dalam katalog tsunami historis dan kajian terkait Pustaka Raja Purwa adalah 338 Saka atau sekitar 416 M.

Catatan itu menggambarkan sebuah dunia yang tiba-tiba berubah,  bumi berguncang, langit dipenuhi suara menggelegar, api keluar dari gunung, badai dan hujan datang, kemudian sebuah gunung meledak dengan dahsyat, dan setelah itu, laut naik dan masuk ke daratan.

Ketika Gunung Menjawab Gunung

Dalam narasi Pustaka Raja Purwa yang banyak dikutip dalam berbagai kajian, disebutkan bahwa terdengar suara menggelegar dari sebuah gunung bernama Gunung Batuwara. Suara itu kemudian disebut seperti dijawab oleh suara yang datang dari Gunung Kapi.

Narasi tersebut menggambarkan sebuah rangkaian peristiwa alam yang sangat dahsyat. Dalam salah satu terjemahan yang banyak dikutip, diceritakan:

“Seluruh dunia terguncang hebat, dan guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi air hujan itu bukannya mematikan ledakan api Gunung Kapi, melainkan semakin mengobarkannya; suaranya mengerikan; akhirnya Gunung Kapi dengan suara dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi.”

Deskripsi tersebut terasa sangat kuat. Ada suara dari perut bumi, ada api, ada ledakan, ada guncangan, ada badai dan hujan, dan kemudian ada gambaran sebuah gunung yang pecah berkeping-keping dan “tenggelam” ke dalam bumi. Bagi pembaca modern, gambaran itu mengingatkan pada peristiwa vulkanik yang sangat besar. Sebuah letusan yang tidak hanya menghancurkan puncak gunung, tetapi mungkin juga menyebabkan runtuhnya sebagian tubuh gunung.

Dalam sejarah Krakatau modern, gambaran semacam itu bukan sesuatu yang asing. Pada 1883, letusan besar Krakatau menghancurkan sebagian besar pulau dan membentuk kaldera. Kehancuran tubuh gunung tersebut juga memicu tsunami yang menghantam wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda. Karena itu, ketika naskah kuno menggambarkan Gunung Kapi meledak, pecah, dan kemudian “tenggelam”, sejumlah peneliti melihat kemungkinan adanya ingatan tentang peristiwa vulkanik besar di kawasan yang sama.

Gunung Kapi dan Krakatau Purba

krakatau
Letusan Gunung Anak Krakatau, Foto: REUTERS/Rikardo

Nama yang paling menarik dalam naskah tersebut adalah Gunung Kapi. Dalam sejumlah katalog tsunami historis dan interpretasi geologi Indonesia, Gunung Kapi diyakini memiliki hubungan dengan Krakatau. Kajian mengenai tsunami di Selat Sunda yang diterbitkan dalam Indonesian Journal on Geoscience mencatat peristiwa tahun 416 M berdasarkan katalog tsunami Soloviev dan Go. Dalam catatan tersebut disebutkan adanya beberapa kali erupsi Gunung Kapi yang menyebabkan naiknya air laut dan menggenangi daratan.

Katalog tersebut memberikan catatan bahwa, gunung Kapi diyakini sebagai Gunung Krakatau saat ini. Kata “diyakini” menjadi penting dalam sejarah panjang Krakatau. Karena hingga hari ini, hubungan antara Gunung Kapi dalam naskah dan Krakatau Purba masih berada dalam wilayah interpretasi sejarah dan geologi.

Namun demikian, hubungan itu bukan muncul tanpa alasan. Kawasan Selat Sunda sejak lama merupakan wilayah dengan aktivitas vulkanik dan tektonik yang sangat tinggi. Krakatau berdiri di kawasan pertemuan antara Pulau Jawa dan Sumatera, sebuah wilayah yang terus dibentuk oleh aktivitas bumi selama jutaan tahun. Di kawasan inilah Krakatau tumbuh, meletus, runtuh, dan kembali melahirkan gunung baru. Setelah Krakatau hancur pada 1883, laut tampak menelan sebagian besar tubuh gunung tersebut. Namun dari laut itu pula kemudian muncul gunung baru.

Pada 1927, aktivitas vulkanik kembali membentuk daratan baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Sejarah Krakatau seolah menunjukkan sebuah siklus panjang, gunung tumbuh, gunung Meletus, gunung runtuh. Laut mengambil alih, dan kemudian gunung kembali tumbuh. Mungkin, ribuan tahun lalu, Gunung Kapi atau gunung api yang berkaitan dengan kompleks Krakatau telah mengalami siklus yang sama.

Laut yang Naik dan Masuk ke Daratan

Namun bagian paling menggetarkan dari narasi kuno tersebut bukan hanya tentang gunung yang meledak. Ada sesuatu yang datang setelahnya. Laut. Dalam kutipan yang banyak digunakan dalam kajian sejarah tsunami, disebutkan bahwa setelah kehancuran Gunung Kapi:

“Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri oleh air laut; penduduk bagian utara negeri Sunda sampai Gunung Raja Basa tenggelam dan hanyut beserta semua harta milik mereka.”

Kalimat tersebut merupakan salah satu catatan paling menarik dalam sejarah kebencanaan Nusantara. Penulis naskah tentu tidak menggunakan istilah tsunami. Istilah modern tersebut belum dikenal pada masa itu. Tetapi apa yang digambarkan sangat dekat dengan pengalaman masyarakat yang terkena tsunami:Air laut naik, air masuk ke daratan, permukiman terendam, manusia tenggelam, harta benda hanyut. Laut yang sebelumnya berada jauh di depan mata tiba-tiba datang dan mengambil daratan.

Dalam bahasa modern, gambaran seperti ini sangat mungkin dibaca sebagai deskripsi sebuah gelombang tsunami atau banjir laut besar yang dipicu oleh peristiwa katastrofik. Katalog tsunami historis yang digunakan dalam sejumlah kajian Indonesia juga memasukkan peristiwa tahun 416 sebagai salah satu kejadian tsunami di kawasan Selat Sunda. Namun, naskah tersebut tidak mencatat tinggi gelombang dalam meter. Tidak ada angka yang menyebutkan apakah tsunami mencapai 10 meter, 20 meter, atau lebih. Tidak pula disebutkan secara pasti sejauh berapa kilometer air laut masuk ke daratan.

Masyarakat pada masa itu tentu tidak menggunakan sistem pengukuran modern seperti sekarang. Yang mereka tinggalkan adalah gambaran tentang cakupan wilayah. Air laut disebut membanjiri kawasan yang sangat luas, dari wilayah di sekitar Gunung Batuwara hingga Gunung Rajabasa. Bagi ilmu modern, informasi itu memang belum cukup untuk menghitung tinggi tsunami atau jarak inundasi secara pasti. Tetapi bagi sejarah kebencanaan, informasi tersebut sangat berharga. Karena ia menunjukkan bahwa masyarakat pada masa lalu mengingat bencana tersebut sebagai peristiwa yang sangat besar dan melampaui satu kampung atau satu wilayah kecil.

Ketika Jawa dan Sumatera Dikaitkan dengan Bencana Besar

Ada bagian lain dari cerita Krakatau Purba yang selama bertahun-tahun berkembang dalam berbagai tulisan populer. Bencana besar tersebut diyakini menyebabkan perubahan besar di kawasan Selat Sunda dan bahkan dikaitkan dengan terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatera. Dalam sejumlah penulisan sejarah populer, disebutkan bahwa sebelum bencana besar itu, Jawa dan Sumatera diyakini masih menyatu. Kemudian terjadi letusan besar. Daratan runtuh, air laut masuk, dan kawasan di antara kedua pulau tersebut kemudian menjadi Selat Sunda. Kisah tersebut juga muncul dalam berbagai katalog tsunami historis yang mengutip narasi Pustaka Raja. Namun sejarah geologi Selat Sunda jauh lebih kompleks. Pembentukan kawasan antara Jawa dan Sumatera berlangsung dalam proses geologi yang panjang dan melibatkan berbagai aktivitas tektonik dan vulkanik.

Karena itu, kisah bahwa satu letusan pada tahun 416 M “membelah Jawa dan Sumatera” sebaiknya dipahami sebagai bagian dari tradisi dan interpretasi sejarah bencana, bukan sebagai kesimpulan geologi yang telah terbukti secara final.

Namun, cerita itu tetap penting. Karena ia menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu berusaha menjelaskan perubahan besar pada bentang alam yang mereka lihat. Sebuah gunung hilang. Laut datang. Daratan berubah. Dan dunia mereka tidak lagi sama.

Letusan yang Diyakini Sangat Dahsyat

Dalam berbagai penulisan populer, Krakatau Purba digambarkan sebagai gunung api raksasa yang jauh lebih besar daripada Krakatau sebelum letusan 1883. Ada tulisan yang menyebut gunung tersebut memiliki tinggi lebih dari 2.000 meter. Ada pula klaim bahwa letusan berlangsung selama beberapa hari dan memuntahkan material dalam jumlah yang luar biasa. Namun, besaran pasti letusan tersebut masih membutuhkan bukti geologi yang lebih kuat.Hingga kini, belum semua angka yang sering muncul dalam tulisan populer memiliki sumber penelitian primer yang dapat memastikan, tinggi Gunung Krakatau Purba, durasi letusan, volume material yang dikeluarkan, kekuatan letusan, dan luas dampaknya.

Naskah Kuno sebagai Arsip Bencana

Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui secara sempurna seperti apa peristiwa tahun 416 M itu. Mungkin suatu hari penelitian geologi menemukan bukti baru. Mungkin ditemukan lapisan tsunami. Mungkin ditemukan jejak letusan besar. Mungkin pula penelitian filologi menemukan versi naskah yang lebih tua. Atau mungkin kisah Gunung Kapi ternyata merupakan gabungan dari beberapa peristiwa yang terjadi dalam waktu berbeda. Semua kemungkinan itu tetap terbuka. Tetapi satu hal tidak berubah, naskah kuno memiliki nilai yang sangat penting untuk diteliti kembali.

Ia bukan hanya benda lama yang disimpan di perpustakaan. Ia adalah arsip ingatan manusia. Bagi wilayah seperti Indonesia, yang berada di salah satu kawasan paling aktif secara geologi di dunia, arsip seperti ini dapat membantu memperpanjang ingatan kita tentang bencana. Catatan instrumental modern mungkin hanya mencakup puluhan atau ratusan tahun. Sementara cerita, tradisi, dan naskah kuno dapat membawa kita jauh lebih jauh ke masa lalu.

Ketika Masa Lalu Memberi Peringatan

Gunung Kapi mungkin Krakatau Purba. Atau mungkin ia adalah gunung api lain yang pernah berdiri di kawasan Selat Sunda. Peristiwa tahun 338 Saka atau sekitar 416 M mungkin benar-benar sebuah letusan besar. Mungkin pula rangkaian peristiwa itu melibatkan gempa, runtuhan, dan tsunami. Semua itu masih membutuhkan penelitian. Namun naskah kuno telah meninggalkan gambaran yang sulit diabaikan, bumi berguncang, gunung mengeluarkan api, gunung meledak dan hancur, laut naik, daratan terendam.

Baca juga: Api Karhutla di Merauke, Tanda Bencana Makin Suram

Bagi masyarakat yang hidup lebih dari 1.600 tahun lalu, mungkin itulah satu-satunya cara untuk mencatat bencana terbesar yang pernah mereka saksikan. Karena itu, naskah kuno perlu terus dibaca kembali. Bukan sekadar untuk mengetahui apa yang pernah terjadi. Tetapi untuk memahami apa yang mungkin pernah dilakukan bumi ini. Dan untuk mengingat bahwa bencana besar tidak selalu berada di masa depan. Kadang, jejaknya sudah tersimpan di masa lalu.(RN)