Musim Kemarau, berdasarkan paparan press conference BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) yang secara khusus membahas perkembangan iklim dan pemutakhiran prediksi musim kemarau di Indonesia (10/06) beberapa wilayah mengalami musim kemarau lebih panjang.
“Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah dan Papua bagian timur,” papar Faisal (Kepala BMKG)
Musim Kemarau, Sinyal Kekeringan Pulau Jawa Selama El Nino

Di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Selatan, kondisi kemarau terjadi lebih intens saat memasuki pertengahan Juni 2026, kondisi ini sebenarnya sesuai dengan pola cuaca tahunan, di mana bulan Juni menjadi masa peralihan menuju kemarau yang lebih kuat. Di saat yang sama, munculnya fenomena El Nino yang terpantau melalui indeks Nino 3.4 turut mempengaruhi kondisi cuaca dengan mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia. Sehingga hujan menjadi semakin jarang turun dan cuaca kering mulai mendominasi di banyak daerah.
Sepanjang 11–23 Juni 2026, BNPB mencatat dampak kekeringan akibat musim kemarau terus meluas di berbagai daerah. sedikitnya 12 kabupaten di empat provinsi terdampak kekeringan, yakni di Jawa Barat; Kabupaten Bogor, Bekasi, Karawang, dan Garut, di Jawa Tengah; Cilacap, Klaten, Jepara, Purbalingga, Banyumas, dan Banjarnegara, di Jawa Timur; Bondowoso dan Pasuruan serta Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat.
Jumlah keluarga terdampak juga menunjukkan tren peningkatan dari hari ke hari. Kabupaten Bekasi menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, mencapai 2.142 kepala keluarga (KK) pada 22 Juni. Diikuti Kabupaten Klaten dengan 1.986 KK terdampak pada 23 Juni. Sementara itu, Kabupaten Bogor tercatat terdampak hingga 690 KK, Banyumas 576 KK, Jepara 384 KK, Garut 350 KK, Bondowoso 304 KK, Bima 299 KK, Pasuruan 211 KK, Banjarnegara 192 KK, Karawang 126 KK, Purbalingga 102 KK, dan Cilacap yang dalam beberapa laporan mencapai lebih dari 140 KK terdampak.
Beberapa hal yang diupayakan oleh BNPB dan dibantu oleh BPBD setempat adalah pemberian bantuan pasokan air bersih. Misalnya di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sebanyak 10.000 liter air bersih didistribusikan kepada warga Desa Nagasari di Kecamatan Serang Baru dan Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah.

Bantuan serupa juga diberikan kepada masyarakat di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dengan total pasokan mencapai 10.000 liter air bersih. Sementara itu, di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, petugas mengerahkan empat truk tangki dengan total kapasitas 20.000 liter untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Serang, Kecamatan Bawang yang terdampak kekeringan. Penyaluran bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya darurat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah menguatnya musim kemarau.
Baca juga: Fenomena El-Nino, Kapan Awal Mula Munculnya ?
Kekeringan sangat berdampak pada 3 sektor utama kehidupan: pasokan air bersih, pangan, serta energi. Berkurangnya ketersediaan air tidak hanya menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan jutaan orang terutama di wilayah pertanian. Penurunan debit sungai dan waduk dapat mempengaruhi pasokan energi, terutama di wilayah yang mengandalkan pembangkit listrik tenaga air. Seiring meluasnya musim kemarau di berbagai daerah, upaya penanganan darurat menjadi penting untuk mengurangi dampak jangka pendek. Tantangan juga muncul akibat perubahan iklim juga menuntut langkah-langkah adaptasi yang lebih kuat, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga pembangunan infrastruktur penyimpanan air yang mampu meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau.(Kori)






