Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menunjukkan tanda-tandanya bahkan sebelum musim kemarau mencapai puncak. Hingga 8 Juni 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.700 titik panas atau hotspot tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut menjadi perhatian karena peningkatannya berlangsung lebih cepat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015, 2019, dan 2023, tiga tahun yang identik dengan kejadian karhutla berskala besar akibat fenomena iklim El-Nino.
Dalam Konferensi Pers Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026 yang digelar pada 10 Juni lalu, BMKG menyebut Riau dan Kalimantan Barat sebagai provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi hingga awal Juni. Meski hotspot belum tentu berarti kebakaran, keberadaannya merupakan indikator awal yang lazim digunakan untuk memantau potensi munculnya api di kawasan hutan dan lahan.
Awal Babak Baru Karhutla 2026, 1.700 Titik Panas dalam Enam Bulan

Meningkatnya jumlah hotspot terjadi di tengah proyeksi musim kemarau yang cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memperkirakan lebih dari separuh wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah rata-rata klimatologis. Kondisi tersebut diperkirakan meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Tidak hanya lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih panjang. BMKG memperkirakan hampir setengah wilayah Indonesia akan mengalami durasi kemarau yang lebih lama dari biasanya, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September. Kombinasi antara minimnya hujan dan kemarau berkepanjangan merupakan kondisi yang selama ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya resiko kebakaran hutan dan lahan, dan termasuk bencana lain seperti kekeringan dan gagal panen.
Faktor iklim global turut memperkuat ancaman tersebut. Berdasarkan analisis BMKG, fenomena El Niño telah mulai terpantau sejak April hingga Mei 2026 dan diprediksi berkembang hingga kategori moderat bahkan kuat pada semester kedua tahun ini. Secara umum, El Nino menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia sehingga memperbesar peluang terjadinya kekeringan.
Jika menilik pengalaman sebelumnya, pola serupa pernah terjadi pada sejumlah episode karhutla besar. Pada tahun 2019, misalnya, Indonesia mencatat lebih dari 23 ribu titik panas ketika fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif mempengaruhi kondisi cuaca. Kebakaran saat itu terkonsentrasi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau. Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya tutupan hutan dan lahan, tetapi juga memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang meluas hingga lintas negara.
Empat tahun kemudian, saat El Nino kuat kembali terjadi pada 2023, jumlah titik panas nasional masih berada di atas 21 ribu titik. Meskipun sebaran asap tidak sebesar tahun 2019, kebakaran tetap menyebabkan kerusakan ekologis, terutama di kawasan gambut Sumatera dan Kalimantan.

Tetapi menyederhanakan karhutla sebagai akibat musim kemarau semata tentu kurang tepat. Cuaca kering memang menciptakan kondisi yang mudah terbakar, tetapi skala kebakaran sering kali ditentukan oleh faktor manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar, pengeringan kawasan gambut, lemahnya pengawasan, hingga perubahan fungsi hutan menjadi faktor yang memperbesar resiko munculnya api.
Dalam konteks tersebut, 1.700 titik panas yang muncul sebelum puncak kemarau dapat dibaca sebagai peringatan dini. Angka tersebut menunjukkan bahwa lanskap Indonesia mulai memasuki fase rawan kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki sejarah panjang karhutla seperti Sumatera dan Kalimantan.
Baca juga: Gempa Sulawesi Tengah M6,7, Berikut 6 Faktanya
Oleh karena itu, BMKG menempatkan upaya pencegahan sebagai langkah utama dalam menghadapi potensi dampak El Nino tahun 2026. Mengingat musim kemarau diprediksi berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari biasanya, lembaga tersebut mendorong peningkatan kesiapsiagaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan sejak dini, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan karhutla.
Musim kemarau 2026 mungkin belum mencapai puncaknya. Namun data BMKG menunjukkan bahwa sejumlah indikator risiko telah muncul lebih awal. Sehingga ini bisa menjadi sinyal sekaligus tanda waspada untuk bisa mencegah bencana kerugian lebih banyak.(Kori)






