Banjir Sungai Yangtze 1931, Menelan Ribuan Orang

Sungai Yangtze, Foto: Istimewa
Ekspedisi Jawadwipa

Bagi manusia sungai adalah kehidupan, menjadi ladang untuk memenuhi kehidupan pokok mulai dari kebutuhan air hingga biota yang hidup di sepanjang alirannya. Sehingga tak jarang manusia hidup dan bertinggal di bantarannya.

Selain mudah mendapat berkah dari hasil dari sungai namun tak jarang masyarakat yang berada di bantaran sungai juga mudah mendapat musibah atau bencana yang terjadi akibat kondisi alam dan diperparah dengan perbuatan manusia.

Salah satu sungai terbesar di China, Sungai Yangtze pernah mempunyai riwayat bencana banjir terparah di dunia. menewaskan lebih dari 2 juta orang dan mempengaruhi kehidupan 52 juta orang.

Banjir Sungai Yangtze 1931, Menelan Ribuan Orang

sungai
Foto banjir Tiongkok 1931, Foto: Dok. Arcgis

Berdasarkan catatan Encyclopaedia Britannica, banjir Sungai Yangtze 1931 terjadi akibat kombinasi faktor iklim ekstrem dan kerusakan lingkungan yang telah berlangsung lama. Sebelum bencana besar itu datang, wilayah China bagian tengah lebih dulu mengalami kekeringan panjang selama periode 1928 hingga 1930. Kekeringan tersebut membuat tanah menjadi keras dan kehilangan kemampuan menyerap air dengan baik. Ketika musim dingin datang, salju dan es menumpuk dalam jumlah besar di wilayah pegunungan sekitar aliran Sungai Yangtze.

Memasuki awal tahun 1931, suhu mulai menghangat dan salju mencair secara bersamaan. Di waktu yang sama, curah hujan meningkat sangat tinggi. Air dari pegunungan turun menuju sungai utama dalam volume besar. Kondisi semakin memburuk ketika serangkaian badai tropis menghantam wilayah China tengah pada pertengahan tahun 1931. Dalam bulan Juli saja, tercatat sembilan badai siklon melanda kawasan tersebut, jumlah yang jauh di atas rata-rata tahunan. Sungai Yangtze yang sudah penuh akhirnya meluap dan menenggelamkan kota-kota besar serta kawasan pertanian luas di sekitarnya.

Berdasarkan laporan Disaster History, bencana tersebut bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Besarnya dampak banjir merupakan hasil dari akumulasi panjang hubungan manusia dengan lingkungan sungai. Selama bertahun-tahun, kawasan di sekitar Yangtze mengalami perubahan besar akibat pembangunan tanggul, alih fungsi danau menjadi lahan pertanian, hingga penggundulan hutan di daerah hulu. Padahal, danau dan hutan memiliki peran penting sebagai ruang alami untuk menyerap serta menampung air ketika hujan deras datang.

Ketika ruang-ruang alami itu hilang, air hujan tidak lagi memiliki tempat untuk tertahan. Sungai dipaksa menampung volume air yang jauh lebih besar daripada kapasitasnya. Akibatnya, banjir yang sebelumnya mungkin masih dapat dikendalikan berubah menjadi malapetaka besar. Dalam banyak hal, tragedi Yangtze menunjukkan bahwa bencana alam sering kali diperparah oleh campur tangan manusia sendiri.

Menurut catatan sejarah, kawasan yang paling terdampak adalah daerah di sekitar Wuhan, Nanjing, dan wilayah lembah Sungai Yangtze lainnya. Air banjir merendam ribuan desa dan menenggelamkan area seluas puluhan ribu kilometer persegi. Sawah, rumah, gudang pangan, hingga jalur transportasi hancur dalam waktu singkat. Banyak penduduk terjebak di atap rumah atau pohon selama berhari-hari sambil menunggu pertolongan.

Berdasarkan laporan yang dimuat dalam Media Indonesia yang merujuk pada berbagai catatan sejarah bencana, korban jiwa tidak hanya berasal dari orang-orang yang tenggelam saat banjir terjadi. Setelah air mulai surut, penderitaan justru semakin besar. Persediaan makanan habis, sanitasi memburuk, dan jutaan orang hidup di pengungsian yang penuh sesak. Dalam kondisi tersebut, wabah penyakit seperti kolera, disentri, malaria, dan tifus menyebar dengan cepat.

Kelaparan menjadi ancaman terbesar berikutnya. Banyak lahan pertanian rusak total sehingga masyarakat kehilangan sumber pangan dalam waktu panjang. Di beberapa wilayah bahkan muncul laporan tentang orang-orang yang terpaksa memakan rumput, kulit pohon, hingga menjual anggota keluarganya demi bertahan hidup. Gambaran ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada saat air meluap, tetapi berlanjut menjadi krisis kemanusiaan yang panjang.

sungai
Banjir Tiongkok tahun 1931, Foto: Dok. id.wikipedia.org

Tulisan dari The Columban Mission Magazine, banjir besar Yangtze juga menunjukanlemahnya kesiapan pemerintah China pada masa itu dalam menghadapi bencana berskala besar. Kondisi politik yang tidak stabil, keterbatasan infrastruktur, dan buruknya sistem distribusi bantuan menyebabkan banyak korban tidak tertangani dengan cepat. Bantuan pangan dan kesehatan sulit menjangkau daerah-daerah yang terisolasi akibat banjir.

Selain itu, penelitian iklim terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Climate menjelaskan bahwa banjir Yangtze 1931 juga dipengaruhi oleh fenomena iklim global. Peneliti menemukan adanya hubungan antara pola suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dan aktivitas atmosfer Eurasia yang menyebabkan curah hujan berkepanjangan di wilayah Sungai Yangtze. 

Baca juga: Throwback Erupsi Gunung Agung Tahun 1963

Tragedi banjir Sungai Yangtze 1931 kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sejarah pengelolaan sungai di China. Setelah bencana tersebut, pemerintah mulai membangun berbagai proyek pengendalian banjir, memperkuat tanggul, dan mengatur ulang kawasan bantaran sungai. Tetapi berbagai banjir besar masih terus terjadi di Sungai Yangtze hingga dekade-dekade berikutnya, menandakan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah benar-benar bisa sepenuhnya dikendalikan.(Kori)