Kebakaran yang terjadi pada malam 22 Agustus 2026 menjadi duka bagi masyarakat Suku Sasak di Lombok. Kebakaran melanda Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Api yang muncul pada malam hari sekitar pukul 22.00 WITA dengan cepat menjalar di kawasan permukiman adat yang selama ini dikenal sebagai salah satu ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak.
Berdasarkan data yang dilaporkan Kompas pada 24 Agustus 2026, sebanyak 75 unit rumah adat hangus terbakar. Kebakaran juga menghanguskan 69 unit toko kerajinan atau art shop dan 8 unit lumbung alang. Sejumlah fasilitas dan bangunan tradisional lainnya turut terdampak, yaitu 6 berugak sekepat, 4 berugak sekenam besar, 1 masjid, 1 bale beleq, 1 toilet umum wisatawan, 1 gerbang desa, dan 1 pelonggo.
Kebakaran di kampung Adat Sade, Hanguskan Rumah Beserta Warisannya

Selain itu kerugian juga bukan hanya berasal dari bangunan-bangunan yang hangus terbakar, namun juga warisan benda yang berada di rumah-rumah masyarakat, tersimpan benda-benda yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Berbagai jenis keris, tombak, dan klewang, 10 set peralatan seni Peresean, serta 8 unit Gendang Beleq turut menjadi korban kebakaran. Gong Tua yang digunakan dalam ritual serta naskah-naskah kuno berbahasa Sansekerta juga musnah terbakar.
Hangusnya hampir seluruh rumah adat tak luput dari bahan bangunan yang sebagian besar terbuat dari bahan alam yang mudah terbakar seperti kayu, bambu serta ijuk. Hingga tengah malam puluhan mobil pemadam kebakaran dan penyelamatan (damkartan) membantu proses pemadaman api dan melakukan evakuasi kepada seluruh masyarakat adat Sade, yang dihuni sekitar 700 warga.
Dalam fase tanggap darurat, pemerintah memprioritaskan penyelamatan serta identifikasi objek material yang masih tersisa.
“Prioritas utama dalam fase tanggap darurat ini adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik penyelamatan fisik maupun nonfisik,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Tetapi proses pemulihan Sade tidak semestinya berhenti pada pembangunan kembali rumah-rumah yang terbakar. Kebakaran di masyarakat adat Sade juga bukan pertama kalinya, ini adalah kejadian ketujuh dengan kondisi yang cukup parah, ini menunjukan kerentanan kampung adat terhadap bencana kebakaran, terutama karena sebagian besar bangunan menggunakan material yang mudah terbakar seperti kayu, bambu, dan daun ilalang.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan, menilai sistem perlindungan bencana perlu menjadi bagian dari pengelolaan kampung adat. Menurutnya, perlindungan tidak hanya diperlukan untuk menghadapi kebakaran, tetapi juga gempa bumi dan hujan lebat. Salah satu kebutuhan mendesak adalah tersedianya sistem pemadaman yang dapat menjangkau kawasan kampung. Ihwan menyebut jalur pipa air atau fire hydrant serta alarm peringatan dini sebagai bagian dari mitigasi yang perlu dipertimbangkan.

Sade tidak hanya terdiri dari rumah-rumah tradisional. Di dalamnya terdapat kehidupan masyarakat, pengetahuan lokal, tradisi, benda budaya, serta hubungan sosial yang terbentuk selama bertahun-tahun. Kehilangan satu bagian dari ekosistem tersebut berarti kehilangan bagian dari identitas kampung adat.
Baca juga: Gempa Flores 1992, Berikut 3 Faktanya
Pemulihan pasca kebakaran sudah seharusnya menjadi momentum untuk membangun Sade yang tetap berakar pada sistem tradisional, tetapi lebih siap menghadapi bencana. Mengembalikan Sade berarti bukan hanya mengembalikan bangunannya, melainkan memastikan masyarakat dapat kembali hidup, berkarya, dan menjaga warisan budayanya dengan lebih aman.(Kori)






