Kekeringan, Strategi Jangka Panjang BPBD Banjarnegara Dalam Mengatasinya

Ilustrasi kekeringan, Foto: Shutterstock/piyaset
Ekspedisi Jawadwipa

Kekeringan kembali melanda Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, setelah musim kemarau berlangsung cukup panjang. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan air bersih masyarakat di sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi hari tanpa hujan (HTH) semakin panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Dasarian I September 2026, sebanyak 1.637 titik pengamatan mengalami HTH kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. BMKG juga menyebut kondisi atmosfer kering masih dipengaruhi El Niño yang berada pada kategori sangat kuat.

Di Banjarnegara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak Juni 2026. Status tersebut kemudian ditingkatkan menjadi tanggap darurat pada awal September. Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, mengatakan kekeringan telah berlangsung hampir empat bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda hujan.

Kekeringan, Strategi Jangka Panjang BPBD Banjarnegara Dalam Mengatasinya

kekeringan
Petugas BPBD Banjarnegara menyalurkan bantuan air bersih di daerah terdampak kekeringan, Foto: Antara/HO-BPBD Banjarnegara

“Memang saat ini belum ada tanda-tanda turun hujan. Maka kondisi ini berdampak pada meluasnya kekeringan di wilayah Kabupaten Banjarnegara,” ujar Aji saat diwawancarai Disaster Channel.

Kekeringan saat ini telah tersebar di 14 kecamatan, 52 desa, dan 8 kelurahan. Kondisi tersebut menunjukkan cakupan kekeringan yang semakin meluas dibandingkan pada awal musim kemarau. 

Kekeringan bukan pertama kali terjadi di Banjarnegara. Aji mengatakan kondisi serupa terakhir cukup terasa pada 2023. Sementara pada 2024–2025, wilayah tersebut mengalami kemarau basah sehingga dampaknya terhadap kekeringan tidak begitu besar.

“Ini tahun 2023 terakhir. Tahun 2024–2025 itu kemarau basah sehingga tidak begitu berdampak pada kekeringan. Cuma 2026 ini memang masuk siklus tiga sampai empat tahun,” katanya.

Menurut Aji, kondisi serupa masih mungkin terjadi kembali pada 2027. Karena itu, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui bantuan air bersih ketika krisis terjadi, tetapi juga mulai diarahkan pada penyediaan sumber air yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

BPBD Banjarnegara bersama organisasi perangkat daerah lainnya, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pertanian, terus mengembangkan upaya pemenuhan sumber air.

BPBD sebelumnya telah mengembangkan sejumlah sumur bor pada 2024. Tahun ini, upaya tersebut kembali didorong melalui pembangunan sumur bor dan sumur konvensional. Selain itu sumber air yang masih tersedia juga dimanfaatkan dengan membangun jaringan pipanisasi.

“Bagi wilayah yang memang punya sumber mata air, kita bantu, kita dorong. Apakah itu pipanisasi, apakah itu pompanisasi, atau kita siapkan toren.” ujar Aji.

Menurutnya, sumber air dari sektor pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya melalui sumber air yang sebelumnya dibangun untuk irigasi perpompaan. Meski demikian, lokasinya yang berada di area pertanian membuat BPBD perlu menambah sarana agar air dapat dialirkan hingga ke permukiman.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi agar masyarakat di wilayah yang memiliki sumber air tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi air menggunakan tangki.

Meski pembangunan sumber air menjadi salah satu solusi jangka panjang, distribusi atau droping air bersih masih diperlukan. Pasalnya, tidak semua wilayah yang terdampak memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan dengan mudah.

“Kalau dropping memang masih tetap sebagian kita butuhkan karena memang tidak semua wilayah itu ada sumber airnya,” kata Aji.

Selain persoalan jarak, kondisi sumber air juga menjadi tantangan. Sehingga BPBD menggunakan pendekatan berbeda sesuai kondisi masing-masing wilayah, mulai dari droping air, pipanisasi, pompanisasi hingga penyediaan toren.

kekeringan
Masyarakat mengantre untuk mengambil air bersih, Foto: Dok. Tribun Banyumas/Khoirul Muzakki

Musim kemarau panjang juga berdampak pada sumber air permukaan. Sejumlah sungai mengalami penurunan debit, terutama sungai-sungai kecil dan anak sungai. Sungai Serayu dan Sungai Sapi masih memiliki aliran air, tetapi debitnya telah berkurang. Di Media sosial warga juga melaporkan bahwa beberapa anak sungai dilaporkan sudah mengering.

Baca juga: Memadamkan Api dengan Tepung, Apakah Bisa?

Kondisi tersebut, menurut Aji, menunjukkan pentingnya menjaga vegetasi di sekitar sungai dan lahan yang masih memungkinkan untuk ditanami. Berkurangnya vegetasi seiring meningkatnya kebutuhan lahan dan kepadatan penduduk dinilai perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber air jangka panjang.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air seperlunya dan tidak membuang-buang air. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan sumber air yang masih tersedia sekaligus memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, relawan, dan berbagai pihak.(Kori)