Menghindari Wabah, Begini Cara Masyarakat Nomaden “Punan”

Suku Punan, Foto: Chris Djoka/YKAN
Ekspedisi Jawadwipa

Pasca bencana covid-19 yang terjadi beberapa tahun yang lalu, wabah menjadi penyakit yang amat mengerikan bagi masyarakat, membunuh perlahan dan mengancam manusia. Salah satu anjuran yang paling diingat dalam pandemi covid adalah PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang menganjurkan untuk masyarakat tetap dirumah agar tidak tertular wabah dan meminimalisir korban jiwa, namun bagaimana jika wabah terjadi di masyarakat nomaden yang tidak punya tempat tinggal ajeg seperti masyarakat suku punan di Kalimantan?

Salah satu kelompok masyarakat yang masih mempertahankan pola hidup tersebut adalah Suku Punan Tubu, yang mendiami kawasan hulu Sungai Tubu di pedalaman Kalimantan Utara. Selama berabad-abad mereka hidup dengan mengandalkan hutan sebagai ruang hidup sekaligus sumber penghidupan. 

Cara Masyarakat Nomaden “Punan” Menghindari Wabah

wabah
Foto Suku Punan yang di ambil sekitar tahun 1930, Foto: dok. bbc.com/KITLV

Mobilitas dari satu kawasan hutan ke kawasan lainnya bukan sekadar bagian dari tradisi berburu dan meramu, melainkan juga strategi untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Dalam kehidupan yang sangat bergantung pada hutan, pengetahuan mengenai perubahan lingkungan, kesehatan, dan ancaman penyakit diwariskan secara turun-temurun melalui pengalaman kolektif.

Masyarakat Punan Tubu mengenal wabah dengan istilah kelapit. Ancaman penyakit menular bagi mereka bukanlah sesuatu yang baru. Dengan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi, mereka mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang memungkinkan komunitas tetap bertahan ketika wabah datang. 

Sebuah laporan berjudul Adaptasi dan Mitigasi Masyarakat Adat terhadap Pandemi COVID-19 yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memetakan berbagai dampak pandemi terhadap masyarakat adat sekaligus mendokumentasikan beragam strategi mitigasi berbasis kearifan lokal yang telah lama mereka praktikkan. 

wabah
Foto perempuan Suku Punan, Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Dalam hal ini masyarakat adat Punan Tubu di Kalimantan memandang kelapit, adalah penyakit yang datang dengan sangat cepat: seseorang yang hari ini tampak sehat dapat jatuh sakit, lalu meninggal keesokan harinya. Sehingga ketika tanda-tanda kelapit muncul, warga akan segera berpencar memasuki hutan dan hidup terpisah dalam kelompok-kelompok kecil yang hanya terdiri atas keluarga inti. Dan mereka yang telah terjangkit akan ditempatkan di lokasi khusus yang telah diberi penanda agar tidak terjadi penularan kepada anggota komunitas lainnya.

Baca juga: Cerita Tsunami dalam Kayori

Meskipun hingga kini belum ada literatur medis atau sejarah yang secara resmi menjelaskan secara pasti apa yang dimaksud dengan penyakit kelapit, sebuah publikasi dari Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) menyebutkan bahwa istilah tersebut merujuk pada penyakit kusta. Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa merebaknya kelapit menjadi salah satu faktor yang mendorong perpindahan masyarakat di pedalaman Kalimantan. Wabah penyakit itu membuat kelompok-kelompok masyarakat memilih meninggalkan permukiman lama untuk menghindari penularan dan mencari tempat yang lebih aman.(Kori)