Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia. Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran semakin meningkat seiring kondisi cuaca yang lebih kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 25 Agustus 2026 memperingatkan bahwa kondisi kemarau dan risiko karhutla meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Pengaruh El Niño yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut mendukung kondisi yang lebih kering.
Situasi tersebut terlihat dari meningkatnya titik panas di sejumlah daerah. Di Kalimantan Selatan, misalnya, BMKG mendeteksi 696 titik panas pada 23 Agustus 2026, dengan sebagian besar berada pada tingkat risiko sedang hingga tinggi. Hingga saat ini masih pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla di sejumlah titik di Indonesia.
Ketika kebakaran meluas, memadamkan api bukan perkara mudah karena api dapat bergerak mengikuti arah angin, menjalar melalui vegetasi kering, bahkan bertahan di bawah permukaan pada lahan gambut. Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan berbagai metode, mulai dari pemadaman langsung di darat hingga penggunaan helikopter untuk menjatuhkan air dari udara.
Memadamkan Api Karhutla, Berikut 5 Caranya
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memadamkan api karhutla:
- Pemadaman Langsung dari Darat

Ketika api mulai membakar hutan dan lahan, tim di darat menjadi garda terdepan. Mereka harus mendatangi titik kebakaran dan berhadapan langsung dengan panas, asap, serta medan yang tidak selalu mudah dilalui. Untuk menjinakkan api, petugas menggunakan berbagai peralatan, mulai dari pompa air, selang, mobil tangki, tangki fleksibel, alat penyemprot, hingga alat manual seperti kepyok.
Penanganan karhutla di Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 menjadi salah satu contohnya. BNPB mencatat sekitar 387 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Mereka berasal dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat. Di lapangan, tim menggunakan mobil tangki air, pompa jinjing, pompa induk, tangki fleksibel, alat penyemprot, dan berbagai peralatan lainnya untuk menjangkau serta memadamkan titik api.
Api yang sudah tidak terlihat belum tentu benar-benar padam. Bara dapat bertahan dan kembali menjadi titik api, terutama ketika kondisi lahan sangat kering. Setelah kobaran berhasil dikendalikan, petugas melakukan pendinginan dengan membasahi area yang terbakar sekaligus memeriksa titik-titik yang masih mengeluarkan asap.
- Membuat sekat bakar

Berbeda dengan pemadaman langsung, sekat bakar bertujuan menghambat penyebaran api dengan memutus atau mengurangi bahan bakar yang dapat dilalap api. Caranya adalah dengan membersihkan vegetasi, semak, rumput kering, dan material mudah terbakar pada jalur tertentu.
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem pernah membuat sekat bakar sepanjang 5 kilometer dengan lebar 4 meter di Taman Nasional Gunung Ciremai. Sekat tersebut dibuat menggunakan cangkul dan parang untuk meminimalkan kemungkinan api menyebar ke area lain.
- Water Bombing

Water bombing biasanya digunakan ketika karhutla meluas dan titik api sulit dijangkau dari darat. Helikopter dikerahkan untuk membawa air dalam jumlah besar, kemudian menjatuhkannya langsung ke area yang terbakar. Cara ini membantu mengurangi kobaran api dan memperlambat penyebarannya.
Di Kalimantan Selatan pada Agustus 2026, BNPB mengerahkan tiga helikopter water bombing untuk membantu penanganan karhutla. Dalam satu rangkaian operasi, ketiga helikopter tersebut melakukan ratusan kali penjatuhan air dengan total sekitar 1,536 juta liter air. Sasaran pemadaman diprioritaskan pada wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.
Water bombing membantu petugas di lapangan, terutama ketika api berada di kawasan yang luas atau medan sulit dilalui. Air dari udara menekan api, sementara petugas di darat melanjutkan pemadaman dan pendinginan. Setelah penyiraman dilakukan, tim tetap memeriksa lokasi untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang kembali menyala.
- Pembasahan Lahan Gambut

Memadamkan karhutla di lahan gambut tidak cukup hanya dengan menyiram permukaannya. Api bisa terlihat sudah padam, tetapi bara masih bertahan di dalam lapisan gambut. Bara tersebut dapat terus membakar bagian bawah tanah dan kembali muncul ke permukaan ketika kondisi kembali kering.
BNPB menjelaskan, siraman air dari water bombing dapat membantu memadamkan api di permukaan gambut. Akan tetapi, air belum tentu langsung mencapai bagian gambut yang terbakar di bawah permukaan. Karena itu, petugas perlu melakukan pembasahan secara lebih menyeluruh untuk menurunkan panas dan memastikan bara benar-benar mati.
Pembasahan juga dilakukan di lahan gambut yang belum terbakar, terutama di wilayah yang rawan karhutla. Caranya dengan menjaga kondisi gambut tetap basah dan tidak terlalu kering. Upaya ini penting karena gambut yang kering lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar dengan cepat.
- Operasi Modifikasi Cuaca

Hujan dapat menjadi salah satu bantuan penting dalam penanganan karhutla, khususnya pada lahan gambut. Ketika kondisi atmosfer memungkinkan, pemerintah seringkali melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu atau mempercepat turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Baca juga: Kebakaran di kampung Adat Sade, Hanguskan Rumah Beserta Warisannya
BMKG mencatat bahwa OMC telah digunakan untuk mendukung pembasahan gambut dan penanganan karhutla. Bahkan sepanjang 2026, BMKG telah melakukan sejumlah operasi khusus untuk mitigasi karhutla di berbagai wilayah rawan. Pada 25 Agustus 2026, BMKG bersama BNPB, TNI AU, OIKN, dan Pemerintah Kalimantan Timur juga melaksanakan OMC untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla di Kalimantan Timur. Pelaksanaannya bergantung pada keberadaan dan perkembangan awan yang memungkinkan untuk disemai.(Kori)






