Gempa besar yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur belakangan ini menjadi banyak sorotan. Diawali dengan gempa yang berskala besar kemudian disusul dengan ribuan gempa susulan, membuat masyarakat kembali mengingat peristiwa getir gempa besar dan tsunami yang terjadi di tahun 1992 lalu.
Pada 12 Desember 1992, gempa kuat mengguncang wilayah Flores dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Guncangan tersebut tidak hanya menyebabkan bangunan rusak dan warga kehilangan tempat tinggal, tetapi juga memicu tsunami yang menghantam wilayah pesisir dengan kekuatan besar.
Bencana ini menimbulkan ribuan korban jiwa dan meninggalkan kerusakan yang sangat luas. Berbagai laporan pada saat itu menggambarkan kondisi Flores yang begitu memprihatinkan, terutama di Maumere dan pulau-pulau kecil di sekitar Laut Flores. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kebencanaan Indonesia.
Gempa Flores 1992, Berikut 3 Faktanya

Ada tiga fakta yang menggambarkan besarnya dampak Gempa Flores 1992:
- Gempa Flores 1992 dengan korban banyak
Gempa yang terjadi pada 12 Desember 1992 tersebut memiliki kekuatan yang dilaporkan berada pada kisaran 6,8 hingga 7,5 pada skala Richter. Guncangan terasa kuat di Flores dan sejumlah pulau kecil di sekitarnya. Akibat bencana tersebut, ribuan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dilaporkan hilang. Jumlah korban yang terus bertambah dalam beberapa hari setelah gempa menunjukkan besarnya dampak bencana tersebut.
Di Maumere, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, sekitar 1.490 orang dilaporkan meninggal dunia. Selain korban jiwa, sekitar 40.000 orang kehilangan tempat tinggal. Banyak rumah dan bangunan lainnya mengalami kerusakan atau hancur akibat guncangan gempa dan tsunami.
Masyarakat yang selamat juga harus menghadapi gempa-gempa susulan yang masih terjadi setelah gempa utama. Karena takut bangunan kembali roboh, banyak warga memilih tinggal di luar rumah dan mendirikan tempat perlindungan sederhana. Keadaan ini membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit. Selain kehilangan anggota keluarga dan harta benda, para penyintas juga harus menghadapi kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat tinggal.
- Bantuan untuk Korban Terkendala
Setelah gempa dan tsunami terjadi, kebutuhan para korban sangat besar. Masyarakat membutuhkan makanan, air minum, obat-obatan, pakaian, tenda, serta tenaga medis. Tetapi bantuan tidak dapat langsung menjangkau seluruh wilayah yang terdampak. Salah satu kendala utama adalah kondisi geografis Flores dan pulau-pulau kecil disekitarnya yang tidak mudah dijangkau. Kerusakan akibat gempa juga membuat proses transportasi dan distribusi bantuan menjadi lebih sulit.
Berdasarkan koran Amigoe, 16 Desember 1992 melaporkan bahwa, hujan deras yang turun setelah gempa semakin memperburuk keadaan dan menghambat proses evakuasi. Di beberapa tempat, para korban harus bertahan dalam kondisi yang sangat terbatas sambil menunggu bantuan datang. Situasi kesehatan juga menjadi perhatian karena banyak jenazah belum dapat segera dievakuasi dan dimakamkan. Di Maumere, bau dari jenazah yang membusuk menimbulkan kekhawatiran akan munculnya penyakit menular. Para pekerja bantuan harus bekerja dalam keadaan darurat untuk memenuhi kebutuhan ribuan pengungsi.
Pada saat yang sama, berbagai pihak mulai memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan para korban. Bantuan tidak hanya berasal dari pemerintah Indonesia, tetapi juga dari negara dan organisasi internasional. Dua pesawat kargo Angkatan Udara Australia, misalnya, mendarat di Maumere dengan membawa susu, antibiotik, tangki air, dan tenda. Komisi Eropa juga menyediakan bantuan darurat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti obat-obatan, air minum, makanan, tempat berlindung, selimut, dan pakaian.
Organisasi People in Need dan Caritas Indonesia turut membantu menyediakan makanan, obat-obatan, tenda, serta pakaian bagi para korban. Meskipun bantuan dari berbagai negara dan organisasi mulai berdatangan, proses distribusinya tetap tidak mudah. Banyak wilayah yang sulit dijangkau sehingga bantuan membutuhkan waktu untuk sampai kepada masyarakat. Lambatnya penanganan tersebut kemudian mendapat kritik dari sejumlah media Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa penanganan bencana dalam skala besar membutuhkan sistem tanggap darurat yang kuat, koordinasi yang baik, serta sarana transportasi dan komunikasi yang memadai.

- Pulau Babi dihantam Tsunami
Pulau Babi merupakan salah satu pulau kecil yang berada sekitar 40 kilometer di sebelah timur laut Maumere. Setelah gempa terjadi, gelombang tsunami menerjang pulau tersebut. Gelombang tsunami dilaporkan mencapai sekitar 25 meter dan menghantam wilayah pesisir dengan kekuatan yang sangat besar. Pulau Babi menjadi salah satu lokasi dengan tingkat kerusakan dan korban jiwa yang sangat tinggi.
Berdasarkan laporan pada masa itu, sekitar 700 orang meninggal dunia di Pulau Babi, sedangkan sekitar 300 orang berhasil selamat. Besarnya jumlah korban membuat proses evakuasi menjadi sangat sulit. Banyak jenazah tidak dapat segera dipindahkan dari pulau tersebut karena kondisi wilayah dan keterbatasan sarana transportasi. Tentara Indonesia kemudian melakukan pemakaman massal terhadap para korban.
“Ini adalah pulau hantu, di mana tidak lagi memungkinkan untuk tinggal,” kata Kolonel Djoko Pourwoko, yang membantu menguburkan jenazah di kuburan massal. Para tentara tidak punya pilihan selain meninggalkan mayat di Pulau Babi, dalam koran Trouw 17 Desember 1992.
Baca juga: Gempa di Nusa Tenggara Timur, Berikut Catatan Gempa dan Tsunami Yang Pernah Terjadi
Para penyintas yang berhasil ditemukan kemudian dipindahkan ke Flores karena kondisi Pulau Babi dianggap tidak lagi memungkinkan untuk dijadikan tempat tinggal. Tragedi tersebut menjadi salah satu gambaran paling memilukan dari bencana Flores 1992. Pulau kecil yang sebelumnya menjadi tempat tinggal masyarakat berubah menjadi wilayah yang porak-poranda akibat gabungan kekuatan gempa dan tsunami.(Kori)






