Antisipasi Kaskade Gempa Demi Resiliensi Berkelanjutan

Ilustrasi Gempa, Foto: pixabay
Ekspedisi Jawadwipa

Gempa bumi dapat memicu rantai bencana yang saling terhubung yang dikenal dengan kaskade gempa (cascading earthquake hazards). Guncangan gempa memicu serangkaian bencana berikutnya yanv lebih mematikan dari pada gempa itu sendiri. Kaskade bencana gempa melalui (1) kaskade geologi dari alam ke alam seperti gempa dapat memicu pergeseran tanah, tsunami, likuifaksi, longsor dsb., (2) kaskade alam ke manusia dimana guncangan gempa dapat merusak infrastruktur dan jaringan utilitas yang memicu kegagalan sistemik, dan (3) kaskade alam-infrastruktur ke sosio-ekonomi dan kesehatan yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Misalnya krisis pengungsi, masyarakat terisolasi, ada pengalihan dana pembangunan untuk penanganan bencana, kerugian ekonomi dll.

Belajar dari bencana akibat gempa di berbagai wilayah di Indonesia, maka semua bencana tersebut tidak tunggal hanya gempa tapi dalam waktu hampir bersamaan diikuti bencana lainnya atau kaskade gempa. Bencana gempa Aceh diikuti tsunami dan rusaknya hampir seluruh infrastruktur sehingga jumlah korban jiwa sangat banyak, lebih dari 100.000 orang. Kemudian diikuti bencana gempa kaskade di Nias, Jogja, Padang, Lombok dan di Sulawesi tengah. Bahkan gempa di Sulawesi Tengah diikuti pergeseran tanah, tsunami, likuifaksi dan longsor sehingga bisa dibayangkan jumlah korban dan kerusakan serta kerugian yang ditimbulkannya.

Pada 15 Agustus 2026 terjadi lagi kaskade gempa di NTT yang diikuti tsunami rendah, longsor, korban jiwa, luka luka, trauma, pengungsian dan banyak masyarakat terisolasi. Update korban dan kerusakan gempa NTT dari BNPB tercatat total korban adalah 202 orang, kemudian meninggal dunia 75 orang dan luka-luka 132 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat data sementara pengungsi yang sementara, ada 40.040 jiwa, Total rumah yang rusak sebanyak 11.925 unit, dengan rincian rusak berat sebanyak 5.516 unit, rusak sedang sebanyak 1.916 unit, rusak ringan 4.493 unit. Jumlah pengungsi terbanyak kedua ada di Kabupaten Manggarai, yakni sebanyak 6.487 jiwa. Di Manggarai, tercatat ada 27 orang tewas dan 31 orang luka berat serta 88 orang luka ringan.

Antisipasi Kaskade Gempa Demi Resiliensi Berkelanjutan

gempa
Tim SAR melakukan proses evakuasi pada korban tertimbun bangunan, Foto: ANTARA/HO-Sar Maumere

Belajar dari berbagai bencana di Indonesia tersebut maka dituntut pergeseran dalam memahami dinamika risiko, beralih dari “efek domino” yang sederhana menuju pemahaman “kaskade bencana” yang kompleks (Gambar dibantu AI). Berbeda dengan efek domino yang bergerak searah, kaskade bencana menciptakan penguatan risiko (risk reinforcement) di mana kegagalan pada satu simpul kritis memicu kelumpuhan simultan pada sistem pendukung kehidupan lainnya. Kaskade bencana menimbulkan interaksi sistemik dimana risiko tidak muncul dari fenomena alam semata, melainkan dari interaksi destruktif antara kekuatan geologi, kegagalan infrastruktur teknis, dan kerapuhan sistem sosial-ekonomi.

Konsep Amplifikasi Risiko (Risk Amplification) menegaskan bahwa risiko tidak sekadar bertambah (1+1=2), melainkan berlipat ganda (1+1=5). Hal ini terjadi karena kapasitas respons kota dihancurkan oleh bencana pertama tepat sebelum bencana kedua melanda. Ketika infrastruktur air hancur bersamaan dengan munculnya kebakaran hebat, kemampuan pertahanan kota tidak hanya berkurang, tetapi tereliminasi sepenuhnya. Standar perencanaan wilayah dan kode bangunan saat ini (seperti standar SNI terkait beban gempa) sering kali terjebak dalam “Single-Hazard Trap.” Standar ini sangat sempit karena hanya berfokus pada ketahanan struktur terhadap guncangan, namun buta terhadap efek simultan seperti likuifaksi atau banjir pasca-gempa.

Pengabaian terhadap variabel multi-bahaya merupakan bentuk nyata dari kerentanan terencana (planned vulnerability).

Ketidakmampuan memitigasi kaskade mencerminkan krisis tata kelola yang gagal mengantisipasi bagaimana ketergantungan antar-sistem dapat memperluas dampak bencana awal secara eksponensial. Saatnya mengembangkan paradigma baru dalam perencanaan wilayah, dari awalnya secara linier ke sistemik. Waktunya mengakhiri bencana dikelola sebagai kejadian tunggal. Transisi dari mitigasi linier menuju resiliensi multi-bahaya bukan lagi merupakan aspirasi teoretis, melainkan prasyarat operasional dalam tata kelola perkotaan modern. Kajian detail mekanisme kaskade menjadi langkah krusial sebelum otoritas menetapkan kebijakan yang mampu melindungi stabilitas ekonomi dan keselamatan publik dalam jangka panjang.

Untuk membangun ketangguhan yang substansial, menuju resiliensi multi-bahaya yang antisipatif maka kesadaran kaskade harus menjadi pilar dalam setiap kebijakan pembangunan infrastruktur dan tata ruang. Pemerintah memikul tanggung jawab sebagai arsitek ketangguhan peradaban; setiap garis dalam peta zonasi adalah keputusan hidup atau mati. Oleh karenanya sangat disarankan pergeseran dari strategi mitigasi tunggal menuju pendekatan multi-bahaya yang terpadu adalah sebuah keharusan moral dan profesional.

Keberhasilan sebuah kebijakan resiliensi tidak lagi diukur dari kemampuan sebuah gedung untuk tetap berdiri tegak pasca-guncangan, melainkan dari kemampuan sistem kota secara keseluruhan untuk mempertahankan fungsi-fungsi vitalnya di tengah rangkaian kegagalan yang saling bertautan. Negara tidak boleh lagi menawarkan rasa aman palsu kepada publik melalui kebijakan yang hanya menyentuh permukaan risiko.

Mengantisipasi kaskade bencana adalah investasi fundamental dalam kelangsungan hidup peradaban urban dan stabilitas ekonomi masa depan.

gempa
Foto Warga diantara runtuhan rumah, Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/YU

Investasi tidak harus mulai dari nol sebab setiap kawasan rawan bencana hampir pasti mempunyai kearifan lokal untuk memitigasu berbagai bencana, baik mitigasi struktural maupun non struktural. Penelusuran berbagai kearifan lokal bisa menjadi modal awal investasi. Sebagai contoh Rumah Gadang (Sumatera Barat), Rumoh Aceh, Omo Hada (Nias), Rumah Sade Adat Sasak (Lombok) dan Rumah adat Tongkonan dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan dsb. Masyarakat Simelue beradaptasi hasil belajar kejadian tsunami yang sering melanda pulau sejak tahun 1900.

Baca juga: Warisan Pengetahuan Pengendalian Karhutla, Sekat Bakar

Masyarakat mengembangkan sistem deteksi dini berbasis kearifan lokal yang mereka sebut semong. Teriakan SMONG berarti air laut surut dan harus segera lari menjauh dari pantai memuju bukit. Berkat kearifan teriakan semong inilah hampir seluruh masyarakat Pulau Simelue selamat dari amukan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Padahal, secara geografis letak pulau ini sangat dekat dengan pusat gempa saat itu. Dan mestinya banyak lagi kearifan lokal dengan pengalamn bencana masing masing.

Antisipasi satu-satunya jalan menuju ketangguhan.(Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si.)