Kartini Menulis Surat Bencana

Sosok R.A.Kartini, Foto: Fimela
Ekspedisi Jawadwipa

Siapa yang tak mengenal Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan yang masyhur di Jawa pada masa peralihan menuju abad ke-20. Ia dikenal luas sebagai pelopor gagasan emansipasi perempuan di tengah kuatnya struktur sosial kolonial. Di balik itu semua, ada sisi lain Kartini yang jarang dibicarakan, ia adalah seorang pengamat tajam kehidupan, termasuk terhadap bencana alam.

Menjadi Kartini dalam konteks sosial Jawa awal abad ke-20 bukanlah perkara mudah. Terdapat jurang besar antara laki-laki dan perempuan. Perempuan rentan dipoligami, kebebasan berpendapat dibatasi, dan akses terhadap pendidikan sangat terbatas. Dalam situasi seperti itu, perempuan kerap dipinggirkan dari ruang sosial maupun intelektual.

Di tengah keterbatasan tersebut, Kartini memiliki satu modal penting yaitu kemampuan menulis. Melalui surat-suratnya kepada sahabat-sahabat di Eropa, ia tidak hanya mengungkapkan kegelisahan tentang ketidakadilan sosial, tetapi juga mencatat realitas kehidupan sehari-hari di tanah Jawa. Surat-surat itu kemudian menjadi dokumen berharga yang memperlihatkan cara pandang seorang perempuan pribumi terhadap dunia di sekitarnya.

Kartini Menulis Surat Bencana

kartini
Foto kartini , Foto: jakmal.com

Kegelisahan Kartini tidak hanya berkutat pada persoalan sosial dan budaya. Dalam beberapa suratnya, ia juga menyinggung bencana alam yang melanda daerahnya. Setidaknya terdapat dua surat yang secara spesifik membahas banjir, longsor, badai dan wabah kolera yang terjadi di Jepara, yakni pada 12 Januari 1900, 10 Agustus 1901 dan 11 Oktober 1901. Dari sini, kita dapat melihat bahwa Kartini bukan hanya seorang pemikir sosial, tetapi juga saksi atas kondisi lingkungan yang rentan terhadap bencana.

“Hujan deras setiap hari, dan melewati hari Minggu, Sungai Japara meluap di tepiannya, membanjiri banyak desa dan kota itu sendiri dengan air merah-cokelatnya. Dan pagi ini benar-benar menyerbu, anginnya sangat kencang di sini. Di halaman, beberapa pohon telah meledak sepenuhnya, dahan-dahan tebal putus, seolah-olah itu adalah batang korek api, dan sekarang Anda hanya dapat melihat beberapa batang abu-abu telanjang dari pohon-pohon kol yang indah. Betapa mengerikan kampong-kampong itu seharusnya tidak menderita karenanya.

Seluruh atap meniup rumah. Hari ini Ayah sedang tur; lagi, di distrik terpencil divisi Pa, beberapa desa terendam banjir. Ayah sangat sibuk akhir-akhir ini; lalu ada bandjir, lalu deposit bumi, lalu lagi ada badai. Sebuah pohon randoe kolosal baru-baru ini digulingkan, di jalan umum, dan dua pejalan kaki dihancurkan dari bawah. Sepanjang hari dan sepanjang malam kami mendengar gemuruh laut dan deru. Kasihan “Klein Scheveningen” di sana, badai mengamuk paling mengerikan. Jalan menuju pemandian telah sepenuhnya tersapu oleh ombak dan pantai sebelum menghilang. Laut yang tak pernah puas telah menelannya.“  (Habis Gelap Terbitlah Terang – Surat 12 Januari 1900)

kartini
Ilustrasi Foto Kartini menulis surat dalam film Kartini 2017, Foto: Legacy Pictures

Lebih lanjutnya dalam suratnya kepada Stella, Raden Ajeng Kartini menanggapi pertanyaan tentang kondisi rakyat Jawa yang sebelumnya digambarkan sangat menderita. Ia menyatakan bahwa keadaan tidak lagi seburuk kisah yang ditulis oleh Multatuli, namun tetap jauh dari sejahtera. Tetapi Kartini menanggapi bahwa penderitaan rakyat seringkali bukan akibat kesalahan mereka sendiri, melainkan karena faktor alam seperti kekeringan, banjir, dan gagal panen. Ia juga menjelaskan bahwa meskipun pemerintah kolonial memberikan bantuan saat terjadi kelaparan atau bencana, upaya tersebut belum mampu sepenuhnya mengatasi kerugian yang dialami masyarakat. 

Melihat banjir yang terjadi di sekitarnya, Raden Ajeng Kartini tidak hanya mencatatnya sebagai peristiwa alam, tetapi juga tentang persoalan infrastruktur di baliknya. Ia menceritakan sebuah desa yang terus-menerus terendam banjir, yang belakangan diketahui bukan hanya akibat hujan atau luapan sungai. Beberapa waktu setelah kejadian, seorang insinyur saluran air datang dan mengakui bahwa banjir tersebut terjadi karena kesalahan dalam mengatur aliran air. Pengakuan ini menunjukan bahwa bencana yang dialami masyarakat tidak selalu hanya disebabkan oleh alam, tetapi juga dapat berakar pada kesalahan dan kekeliruan manusia dalam merancang dan mengelola sistem lingkungan.

Baca juga: Potret Pemimpin Perempuan dalam Penanggulangan Bencana

Pengamatan Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada banjir dan badai. Ia juga melihat lebih jauh, bahwa bencana di tanah Jawa adalah rangkaian yang berulang dan saling terhubung. Dalam surat lainnya, Kartini menggambarkan sebuah ironi, ketika hujan tak kunjung datang, kekeringan melumpuhkan sawah dan memicu kelaparan, tetapi saat musim berganti, air justru datang berlimpah dan menenggelamkan tanah yang sama. 

“Sekarang juga sangat tidak sehat di mana-mana karena kekeringan hebat. Negara miskin, apa yang Anda mengambang di atas kepala selain penyakit berbahaya? Karena kekeringan hebat, beberapa sawah hampir gagal di seluruh negeri. Di negara tetangga Grobogan ada kebutuhan terbesar, karena kelaparan memerintah tertinggi, dan dengan takut dan gemetar satu melihat di Demak, di mana 26.000 sawah bangunan telah gagal dan selain keras mengamuk kolera, untuk memenuhi monsun barat datang, yang tenggelam tanah setiap tahun. Tanah yang buruk, yang mengering di musim timur karena banjir, dan tenggelam di musim barat karena banjir.“ (Habis Gelap Terbitlah Terang – Surat 11 Oktober 1901).

Kartini dalam membaca bencana sebenarnya juga mulai menguraikan permasalahan sosial yang bisa lahir dari bencana alam, ia juga berbicara tentang siklus pengulangan bencana, dan kesalahan pembangunan yang bisa menjadi penyebab bencana, perspektifnya sebagai anak dari Bupati Jepara juga menarik dibahas dalam pembacaannya soal bantuan saat bencana terjadi.(Kori)