Apa Itu Virus Hanta? Bagaimana Mencegahnya

Ilustrasi Virus, Foto: Dok. vietnam.vn
Ekspedisi Jawadwipa

Baru-baru ini ramai di media sosial tentang penyebaran virus hanta, setelah virus hanta menyebar di kapal MV Hondius pada awal Mei 2026 lalu, hal ini sempat memunculkan kepanikan sebab trauma pasca pandemi covid lalu yang belum sepenuhnya lupa dari ingatan masyarakat. Namun sebenarnya virus ini bukanlah virus yang baru pertama terjadi di Indonesia.

Tulisan yang dimuat oleh Kemenkes.go.id menjelaskan bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah lama hadir di Indonesia, bahkan jejak keberadaannya tercatat sejak dekade 1980-an. Sejumlah studi yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Angka ini menunjukkan bahwa paparan terhadap hantavirus bukanlah kasus yang sepenuhnya asing. Dengan kata lain, dari setiap sepuluh orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut, meskipun sebagian besar kemungkinan tidak pernah terdiagnosis atau menyadarinya.

Apa Itu Virus Hanta? Bagaimana Mencegahnya

virus hanta
Ilustrasi Penyebaran Virus Hanta, Foto: Generated/Koran Gala

Sejarah hantavirus atau virus hanta bermula dari upaya panjang para ilmuwan untuk mengungkap penyebab misterius demam berdarah yang banyak menyerang tentara selama Perang Korea pada 1951–1953. Pada masa perang tersebut, lebih dari 3.000 tentara pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dilaporkan mengalami penyakit dengan gejala demam tinggi, perdarahan, hingga gagal ginjal. Penyakit itu kemudian dikenal sebagai demam berdarah Korea, tetapi penyebabnya masih belum diketahui secara pasti selama bertahun-tahun.

Baru pada tahun 1978, titik terang muncul ketika para peneliti berhasil mengisolasi virus penyebab penyakit tersebut dari hewan pengerat lapangan kecil (Apodemus agrarius) yang ditemukan di sekitar Sungai Hantan, Korea Selatan. Dari situlah nama “Hantaan” berasal, yang kemudian menjadi cikal bakal istilah hantavirus. Penemuan ini membuka pemahaman baru bahwa tikus dan hewan pengerat lain berperan sebagai reservoir alami virus, sekaligus menjelaskan mengapa penyakit tersebut banyak muncul di wilayah dengan kontak manusia dan populasi tikus yang tinggi.

Sejak saat itu penelitian mengenai hantavirus berkembang pesat di berbagai negara. Para ilmuwan menemukan bahwa virus ini tidak hanya ada di Asia Timur, tetapi juga tersebar di Eropa hingga benua Amerika dengan jenis dan karakteristik yang berbeda-beda. Beberapa strain menyerang ginjal dan menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal, sementara jenis lain menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat

Hantavirus merupakan virus zoonotik yang dapat menginfeksi manusia dan menimbulkan penyakit serius di berbagai belahan dunia. Penularannya umumnya terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat, seperti tikus dan mencit, terutama dari paparan urin, kotoran, maupun air liur yang telah terkontaminasi virus. Penularan virus ini juga dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat, meskipun jalur ini tergolong jarang.

Secara umum, hantavirus diketahui menyebabkan dua kelompok sindrom utama. Di kawasan Belahan Bumi Barat, termasuk Amerika Serikat, hantavirus dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru hantavirus, yakni infeksi berat yang menyerang sistem pernapasan dan dapat berakibat fatal. Salah satu jenis hantavirus yang paling sering dikaitkan dengan HPS di Amerika Serikat adalah virus yang dibawa oleh tikus rusa (deer mouse).

Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengurangi risiko penularan hantavirus antara lain:

  1. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya hewan pengerat.
  2. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan alas kaki saat membersihkan area yang dilalui tikus.
  3. Membersihkan kotoran, urin, dan sekreta tikus menggunakan cairan desinfektan untuk meminimalkan risiko penularan.
  4. Tidak menyentuh hewan pengerat secara langsung, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Jika terpaksa menangani, gunakan APD lengkap dan disinfektan.
  5. Melakukan pengelolaan sampah dengan benar agar tidak mengundang tikus datang ke lingkungan sekitar.
  6. Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama 40–60 detik, atau menggunakan cairan antiseptik selama 20–30 detik.
virus hanta
Cara Pencegahan Virus Hanta, Foto: Dok. puskesmaslarangan.cirebonkota.go.id
Baca juga: Mengenal Virus HMPV, Dulu dan Sekarang

Dalam beberapa kondisi seperti dalam pelayaran virus hanta ini bisa menyebar bukan dari kontak langsung tapi melalui kebersihan serta kontak kontak tidak langsung lainnya, di ruang tertutup kondisi ini dapat memperparah dan mempercepat laju penularan virus.(Kori)