Gempa Filipina, Zona Megathrust Yang terlupakan

Foto setlah kejadian gempa Filipina, Foto: dok. koranaceh.id
Ekspedisi Jawadwipa

GEMPA bermagnitudo M7,8 yang mengguncang selatan Filipina dan sebagian wilayah Sulawesi Utara kemarin pagi seharusnya tidak dibaca sebagai peristiwa tunggal. Ia adalah alarm keras, bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga bagi Indonesia. Ketika bangunan runtuh dan laut bergerak tidak biasa, sesungguhnya yang sedang kita saksikan adalah pelepasan sebagian kecil dari energi besar yang telah lama tersimpan di bawah laut. Dalam hitungan detik, bangunan rusak, laut bergerak tidak biasa, dan kepanikan menyebar di pesisir. Bagi sebagian orang, ini adalah bencana yang datang tiba-tiba. Namun bagi ilmu kebumian, ini adalah bagian dari cerita panjang yang belum selesai.

Kawasan ini bukan wilayah tektonik biasa. Ia adalah simpul kompleks beberapa sumber gempa potensial seperti Subduksi Lempeng Laut Filipina, Subduksi Cotabato dan Subduksi Ganda Lempeng Laut Maluku (Molluca Sea Double Subduction). Di kedalaman, zona subduksi bekerja tanpa henti, mengunci dan mengumpulkan energi selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika batas elastisitas itu akhirnya gagal menahan tekanan, lahirlah gempa besar, dan dlm banyak kasus, tsunami.

Gempa Filipina, Zona Megathrust Yang terlupakan

KONDISI TEKTONIK

gempa
Titik pusat pada kejadian yang dirasakan di Filipina dan sebagian wilayah Indonesia. Foto: Dok. Dr. Daryono

Kawasan timur Indonesia hingga Filipina merupakan salah satu wilayah dengan kompleksitas tektonik tertinggi di dunia, ditandai oleh interaksi banyak lempeng dan sistem subduksi yang saling berhimpit. Zona Subduksi Lempeng Laut Filipina memperlihatkan penunjaman lempeng samudra yang aktif dengan kecepatan konvergensi tinggi, menghasilkan aktivitas seismik intens serta potensi gempa besar dan tsunami. Sistem ini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan struktur tektonik di sekitarnya yang memperumit pola deformasi kerak.

Di bagian selatan Filipina, Subduksi Cotabato menunjukkan karakter unik berupa sistem penunjaman yang relatif sempit namun aktif, dengan segmentasi yang kuat. Zona ini berasosiasi dgn deformasi kerak yang kompleks, termasuk pembentukan sesar naik dan sesar geser yang meningkatkan potensi gempa dangkal merusak. Aktivitas di wilayah ini mencerminkan transisi antara dominasi subduksi dan deformasi intra-lempeng.

Sementara itu, di wilayah Laut Maluku berkembang sistem subduksi ganda (double subduction) yang jarang ditemukan secara global. Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe dan ke arah timur di bawah Busur Halmahera, menciptakan sistem kolisi busur-busur kepulauan (arc-arc collision). Proses ini menghasilkan deformasi intens, penebalan kerak, serta aktivitas seismik yang sangat kompleks dan beragam kedalaman.

Interaksi ketiga sistem ini membentuk mosaik tektonik yg dinamis, dgn implikasi langsung terhadap tingkat bahaya geologi di kawasan tersebut. Kombinasi subduksi aktif, segmentasi zona patahan, dan interaksi busur menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap gempa besar, tsunami, serta proses geodinamika lainnya yg masih terus berkembang hingga saat ini.

Di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara hingga Filipina, beberapa studi menunjukkan potensi magnitudo besar, bahkan mencapai 8,2. Sayangnya, kawasan ini blm mendapatkan perhatian sebesar zona megathrust di Sumatra atau Jawa. Seolah sistem subduksi di zona ini menjadi zona megathrust yang terlupakan di timur Indonesia.

CATATAN GEMPA

gempa
Peta zona megathrust Indonesia. Foto: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika

Kawasan pertemuan Lempeng Laut Filipina, sistem Subduksi Cotabato, serta zona subduksi ganda Laut Maluku telah lama dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Sejarah mencatat sejumlah kejadian gempa besar yang mencerminkan kompleksitas interaksi tektonik di wilayah ini.

Pada tahun 1918, gempa berkekuatan 8,3 melanda Mindanao, yang secara luas ditafsirkan telah mematahkan sebagian dari sistem subduksi Cotabato. Hampir enam dekade kemudian, gempa berkekuatan 8,1 pada tahun 1976 mematahkan bagian utara dari gempa tahun 1918, menuju Teluk Moro, dan di sebelah timur jejak palung tersebut. Kejadian di Teluk Moro menghasilkan tsunami dahsyat dengan ketinggian mencapai beberapa meter dan menewaskan lebih dari 5.000 orang. Peristiwa ini menjadi salah satu tsunami paling mematikan dalam sejarah Filipina.

Terulangnya kejadian gempa besar di sepanjang Palung Cotabato pada tahun 1918 dan 1976 menunjukkan bahwa sistem subduksi ini mampu menghasilkan beberapa gempa berkekuatan 8,0 atau lebih besar. Catatan gempa signifikan terkini yang bersumber pada sistem subduksi Cotabato adalah gempa tahun 2002 dengan magnitudo 6,8 dan gempa tahun 2023 dengan magnitudo 6,8. Tumpang tindih spasial antara area deformasi tahun 1976 dan rangkaian gempa bumi berikutnya menimbulkan pertanyaan yang tak terhindarkan: Apakah palung Cotabato kembali aktif? Masih! Gempa Mindanao dengan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 35 km yang terjadi pada 8 Juni 2026 kemarin berdasarkan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumber yang berupa mekanisme naik (thrusting) diyakini bersumber di Zona Subduksi Cotabato.

Berikutnya, di zona Subduksi Lempeng Laut Filipina, kejadian besar juga terjadi pada 31 Agustus 2012 (Mw 7,6) di lepas pantai timur Filipina yang memicu tsunami kecil sekitar 50 Cm. Selanjutnya kejadian gempa besar kembali terjadi pada 2 Desember 2023 di lepas pantai Hinatuan dan memicu tsunami setinggi 64 Cm.

Sementara itu, di wilayah Laut Maluku yang memiliki karakter subduksi ganda, gempa besar 15 November 2014 (Mw 7,3) dan beberapa kejadian lain dengan magnitudo >7 menunjukkan aktivitas deformasi intens akibat penunjaman dua arah lempeng. Selain itu, gempa Halmahera 4 Juli 2019 (Mw 7,2) juga menegaskan tingginya aktivitas seismik di zona interaksi Busur Sangihe dan Halmahera. Gempa lain yang signifikan adalah peristiwa 29 Desember 1996 di wilayah Minahasa (Mw ~7,9), yang memicu tsunami dan berdampak luas di Sulawesi Utara. Kejadian ini berkaitan dengan dinamika kompleks di sekitar Laut Maluku dan zona transisi menuju subduksi Filipina.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya menghasilkan gempa besar secara individual, tetapi juga memiliki potensi multi-sumber yang saling berinteraksi. Kompleksitas ini meningkatkan ketidakpastian dalam karakter gempa, baik dari sisi magnitudo, kedalaman, maupun potensi tsunami.

Secara keseluruhan, catatan sejarah ini menegaskan bahwa kawasan Subduksi Lempeng Laut Filipina, Cotabato, dan Laut Maluku merupakan salah satu sistem tektonik paling aktif di dunia, dengan potensi kejadian yang harus terus diwaspadai.

Baca juga: Sinyal Siaga Tsunami di Pulau Kecil Sangihe

PERINGATAN

Sejarah sebenarnya telah memberi petunjuk. Bahwa kejadian gempa dan tsunami sudah sering kali terjadi di kawasan ini, meski catatannya tdk selalu lengkap. Lebih jauh, bukti geologi menunjukkan bahwa peristiwa besar di masa lalu kemungkinan jauh lebih dahsyat daripada yang tercatat. Ketidaktahuan ini bukan berarti aman; justru sebaliknya, ia menyimpan ketidakpastian yang berbahaya.

Kita perlu berhenti bersikap reaktif. Menunggu bencana besar berikutnya untuk bertindak bukan lagi pilihan yang bisa dibenarkan. Edukasi publik harus ditingkatkan, tata ruang harus berbasis risiko, dan sistem mitigasi harus diperkuat hingga ke level komunitas.

Kejadian yang terjadi saat ini bukan sekadar berita. Ia adalah peringatan keras, dan mengabaikan peringatan dari bumi adalah kesalahan yang selalu dibayar mahal. Kita tidak bisa menunggu hingga bencana besar berikutnya untuk bertindak. Pemahaman publik, tata ruang berbasis risiko, dan penguatan sistem mitigasi harus menjadi prioritas. Karena pada akhirnya, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam bumi, tetapi bagaimana kita memilih untuk bersiap menghadapinya.*

-Dr. Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)