Bagi banyak orang, hutan sering kali identik dengan kesunyian, ketakutan, dan ancaman yang datang tanpa peringatan. Rimbunnya pepohonan, semak belukar yang rapat, suara-suara asing dari balik dedaunan, serta bayangan satwa liar menjadikan tempat ini tampak sebagai ruang yang misterius dan menakutkan.
Dalam imajinasi modern, hutan adalah tempat tersesat, tempat manusia kehilangan arah, jauh dari kehangatan rumah, keramaian kota, dan rasa aman yang diberikan oleh peradaban.
Karena itu membayangkan seorang anak kecil bertahan hidup sendirian di tengah tempat ini terasa nyaris mustahil. Bagi seorang ibu, meninggalkan anak di tengah belantara bukanlah pilihan yang masuk akal. Hutan dipandang sebagai ruang yang penuh ketidakpastian, dan tempat bahaya.
Hutan Bukan Ancaman Bahkan Bagi Anak Kecil: Dokumenter The Lost Children

Pada 2024 sebuah platform streaming film Netflix menghadirkan sebuah tontonan yang berkisah tentang anak-anak dan hutan dengan judul “The Lost Children” kisah dokumenter tentang penyelamatan empat orang anak yang bertahan hidup setelah terjadi kecelakaan pesawat di hutan Amazon, Colombia.
Dokumenter ini fokus intinya adalah upaya pencarian oleh personel militer dan relawan masyarakat adat kepada tiga orang anak dan satu bayi di hutan Amazon selama 40 hari. Selama proses pencarian, tim pencarian melakukan berbagai upaya mulai dari cara tradisional seperti upacara adat serta pencarian modern dengan menggunakan anjing pelacak, helikopter dan metode-metode lain.
Pencarian ini mengalami banyak kendala sebab rimbunya hutan, sempat adanya keraguan antara tim militer dengan relawan adat dan anak-anak (survivor) yang terus berjalan jauh meninggalkan lokasi awal kejadian kecelakaan.
Menariknya, Bagaimana anak-anak dan bayi ini dapat bertahan ditengah hutan?
Anak tertua di antara mereka adalah seorang perempuan berusia 13 tahun. Bersama tiga adiknya, ia berusaha bertahan hidup di tengah lebatnya area Amazon setelah kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa orang-orang dewasa yang menyertai mereka. Di pundaknya bertumpu tanggung jawab besar, menjaga keselamatan adik-adiknya, termasuk sang bayi yang kerap ia gendong selama perjalanan.
Dalam beberapa adegan dokumenter, memperlihatkan bagaimana mereka mengacak-acak koper yang tersisa setelah jatuhnya pesawat. Mereka mencari apa pun yang masih bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Jejak keberadaan mereka juga terekam melalui temuan-temuan kecil di sepanjang pencarian, seperti sisa buah dengan bekas gigitan manusia yang ditinggalkan di tengah hutan. Bagi tim penyelamat, tanda-tanda itu menjadi petunjuk penting bahwa keempat anak tersebut masih hidup dan terus bergerak menyusuri belantara Amazon.
Selepas kecelakaan bukan hal yang mudah bagi anak-anak ini bertahan untuk hidup ditengah tempat ini dengan kondisi luka parah, bahkan kakak tertua mereka berjalan sambil berlutut selama 20 hari, di tengah kondisinya ia percaya, jika mereka masuk ke area yang lebih dalam maka akan ada lebih banyak makanan dan minuman yang bisa mereka konsumsi
“Ibu mengajari saya tentang buah apa yang bisa dimakan di hutan seperti patawa, saya membuat pancing dan memancing ikan-ikan, kemudian memakannya mentah-mentah, rasanya menjijikan. Saya menidurkan adik saya setiap malam, dan kami hampir menduduki ular dan saya membunuhnya dengan tongkat” tutur Lesly, sang kakak tertua, dalam kesaksiannya yang ditampilkan dalam dokumenter.

Di sinilah dokumenter ini menjadi menarik. Kisah empat anak tersebut tidak hanya berbicara tentang ketahanan hidup dan keberanian, tetapi juga tentang pengetahuan ekologis yang diwariskan antargenerasi. Pengetahuan tentang buah yang aman dikonsumsi, cara mencari air, mengenali bahaya, hingga memahami ritme hutan.
Bagi Lesly dan adik-adiknya, hutan memang menyimpan banyak risiko. Tetapi di saat yang sama, hutan juga menyediakan makanan, air, perlindungan, dan pengetahuan untuk tetap hidup. Yang menyelamatkan mereka bukan hanya keberanian, melainkan hubungan yang telah terjalin antara manusia dan alam melalui pengetahuan yang diwariskan oleh keluarga dan komunitas adat.
Baca juga: Film The Great Flood: Meskipun Mengulang Bencana Ribuan Kali, Pelukan Ibu Tetap Dinanti
Hutan bukan sekadar bentang alam yang dipenuhi ancaman. Bagi mereka yang mengenalnya, hutan dapat menjadi rumah, guru, sekaligus penjaga kehidupan, bahkan bagi seorang anak kecil. Di tengah dunia yang semakin jauh dari alam, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemampuan manusia untuk bertahan hidup tidak hanya lahir dari teknologi dan modernitas, tetapi juga dari pemahaman terhadap lingkungan tempat ia hidup.(kori)






