Belajar Ketahanan Pangan Kota, 4 Tempat Ini Wajib Kamu Kunjungi!

Ilustarsi Ketahanan pangan, Foto: Dok. indonesiana.id
Ekspedisi Jawadwipa

Hari ini memahami isu ketahanan pangan bukan lagi hanya berkaitan dengan produksi beras atau ketersediaan bahan makanan. Perubahan iklim, meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, serta tingginya ketergantungan kota besar terhadap pasokan pangan dari luar wilayah menjadikan ketahanan pangan sebagai bagian penting dari upaya pengurangan risiko bencana.

Indonesia masih menghadapi tantangan kerawanan pangan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi sosial ekonomi, akses pasar, hingga kejadian bencana. Bahkan Badan Pangan Nasional memasukkan kejadian bencana sebagai salah satu indikator penting dalam analisis risiko kerawanan pangan nasional. Data BNPB menunjukkan bahwa bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor masih mendominasi kejadian bencana setiap tahunnya, yang berpotensi mengganggu distribusi pangan hingga tingkat masyarakat termasuk sampai masyarakat urban.

Dalam konteks tersebut, membangun ketahanan pangan di tingkat komunitas menjadi langkah yang semakin relevan. Ketahanan pangan komunitas tidak hanya berbicara tentang kemampuan menghasilkan pangan secara mandiri, tetapi juga bagaimana warga membangun jejaring, memanfaatkan ruang perkotaan untuk budidaya, mengelola cadangan pangan, serta memperkuat solidaritas agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan ketika terjadi krisis atau bencana.

Sebagai ibu kota sekaligus laboratorium berbagai inovasi perkotaan, Jakarta memiliki sejumlah ruang belajar yang menunjukkan bagaimana ketahanan pangan dapat diwujudkan dari skala komunitas. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman langsung mengenai urban farming, pengelolaan pangan lokal, hingga pemberdayaan masyarakat yang dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun yang ingin memahami hubungan antara ketahanan pangan, ketangguhan komunitas, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Belajar Ketahanan Pangan Kota, 4 Tempat Ini Wajib Kamu Kunjungi

Empat tempat berikut menawarkan pengalaman belajar yang menarik bagi siapa saja yang ingin memahami ketahanan pangan dari dekat.

  1. Kebun Kumara
ketahanan pangan
Kebun Kumara, Foto: kebunkumara.id

Salah satu tempat yang paling dikenal adalah Kebun Kumara yang dulunya berlokasi di Pulau Situ Gintung 3, Ciputat, Tangerang Selatan, namun kini sudah berpindah lokasi di Summarecon, Serpong, Tangerang Selatan. Kebun ini didirikan pada tahun 2016 oleh Siti Soraya Cassandra bersama Dhira Narayana setelah mereka mempelajari permakultur dan pertanian berkelanjutan. 

Kebun Kumara merupakan ruang belajar terbuka bagi masyarakat perkotaan. Tujuan utamanya adalah mendekatkan kembali warga kota dengan alam serta memperkenalkan gaya hidup berkelanjutan. Di tempat ini sering mengadakan kelas dan kegiatan, dimana pengunjung dapat belajar tentang pertanian organik, permakultur, pengolahan kompos, ecobrick, tanaman obat, hutan pangan, hingga berbagai workshop lingkungan untuk anak-anak maupun orang dewasa. 

  1. Selarasa Gudskul
ketahanan pangan
Selarasa Gudskul, Foto: gudskul.art

Jika tertarik melihat hubungan antara pangan, budaya, dan komunitas, Selarasa di Gudskul menjadi destinasi berikutnya. Selarasa merupakan inisiatif pangan yang berkembang di lingkungan Gudskul, sebuah ruang belajar kolektif di kawasan Jagakarsa, tepatnya di Gudskul Ekosistem, Jalan Durian Raya No. 30A, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selarasa berfokus pada penguatan ekosistem pangan melalui pendidikan, diskusi, pengolahan makanan, dan pembangunan hubungan yang lebih adil antara petani dan konsumen.

Di tempat ini pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti Kultum (Kuliah Tumbuhan), Sekolah Tani Kota, kelas memasak, lokakarya pengolahan pangan, Pasar Selaras (pasar hasil panen lokal), Majelis Sayur Jagakarsa, tur kebun, hingga diskusi mengenai sistem pangan dan pertanian berkelanjutan. Selain menjadi ruang belajar, Selarasa juga berfungsi sebagai food hub yang mempertemukan puluhan kelompok tani di Jagakarsa dengan masyarakat melalui distribusi hasil panen secara lebih langsung dan berkeadilan. Selarasa menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun di lahan pertanian, tetapi juga melalui jejaring sosial yang mempertemukan produsen dan konsumen dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

  1. Ketumbar Workshop
ketahanan pangan
Ketumbar Workshop, Foto: Instagram.com/ketumbarws

Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Ketumbar Workshop. Ruang belajar ini dikenal melalui berbagai kegiatan edukasi mengenai pangan lokal, pengolahan hasil pertanian, dan keterampilan memasak berbasis bahan pangan nusantara. 

Pendiri dari Ketumbar atau Kelas Tumbuh Bareng ini adalah Britania Sari, seorang ibu-ibu yang aktif mengenalkan pangan lokal pada masyarakat.

Ketumbar Workshop berupaya memperkenalkan kembali kekayaan pangan lokal yang sering kali tergeser oleh pola konsumsi modern. Berbagai kelas yang diselenggarakan tidak hanya mengajarkan teknik memasak, tetapi juga memperkenalkan asal-usul bahan pangan, rantai pasok, hingga pentingnya diversifikasi konsumsi sebagai strategi ketahanan pangan. Melalui pendekatan yang praktis dan interaktif, tempat ini menjadi ruang belajar yang menghubungkan masyarakat perkotaan dengan pengetahuan pangan yang lebih berkelanjutan.

Selain dari kegiatan kelas edukasi pertanian, Ketumbar juga menyediakan jasa merancang permakultur dan tata kelola kebun dapur. Lokasi kebun ini yang terletak di Leuwiliang, Kabupaten Bogor juga membuat tempat ini masih dapat terjangkau untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

  1. Kampung Bayam Madani
ketahanan pangan
Kegiatan di Kampung Bayam Madani, Foto: Antara Foto/M Risyal Hidayat

Di Tengah ramainya Kota Jakarta Utara terdapat tempat unik, Kampung Bayam Madani yang menjadi contoh nyata ketahanan pangan berbasis komunitas perkotaan. Kampung ini berkembang dari kelompok warga eks Kampung Bayam yang kini bermukim di kawasan Kampung Susun Bayam, Papanggo, dekat Jakarta International Stadium (JIS). 

Warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Kampung Bayam Madani mengelola lahan pertanian di sekitar pemukiman untuk menanam berbagai komoditas seperti kangkung, terong, jagung, jahe, kunyit, serai, dan beragam sayuran lainnya. Selain menjadi sumber pangan keluarga, kegiatan pertanian tersebut juga mendukung penghasilan warga dan memperkuat solidaritas komunitas.

Baca juga: Aksi Mitigasi Perubahan Iklim, Peran Penting Relawan Muda Didalamnya

Program pelatihan urban farming yang difasilitasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian turut memperkuat kapasitas warga dalam mengembangkan pertanian perkotaan. Kampung Bayam Madani menunjukkan bahwa ruang sempit di tengah kota pun dapat menjadi sumber pangan yang produktif sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat.(Kori)