3 Dampak Nyata El-Nino Terhadap Populasi Hewan

Ilustrasi Kekeringan akibat fenomena el-nino, Foto: shutterstock/piyaset
Ekspedisi Jawadwipa

El-Nino yang hari dikenal sebagai anomali cuaca panas berkepanjangan, yang juga dapat dianalisis sebagai suatu bagian dari keilmuan klimatologi dan meteorologi, awalnya adalah suatu fenomena alam yang mempengaruhi hewan-hewan kemudian berdampak pada kelangsungan hidup manusia.

Rachel Carson dalam bukunya “Silent Spring” atau musim bunga yang bisu, pertama kali merasakan akibat dari kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitarnya, melalui tanda alam berupa kicauan burung yang tak lagi ia bisa dengarkan, saat itulah ia merasakan bahwa bahaya pestisida yang menjadi kebanggaan pertanian era itu, adalah pembunuh paling kejam karena terlalu senyap.

Hewan dinilai mempunyai tingkat kepekaan tinggi dalam mendeteksi perubahan elektromagnetik alam semesta yang lebih baik dari pada manusia.Sehingga tak ayal jika terjadi perubahan lingkungan yang terjadi secara perlahan ataupun signifikan beberapa jenis hewan dapat merasakan perubahan yang lebih awal, dengan berbagai adaptasi bahkan tak jarang kepunahan awal juga terjadi pada hewan-hewan.

Berikut beberapa dampak nyata El-Nino terhadap populasi dan kondisi hewan.

  1. Burung Pucuk tidak terbang di Kepulauan Galapagos
el-nino
Ilustrasi Burung pecuk, Foto: Ryan Photographic.com

Pada periode awal dikenalnya El-Nino sekitar tahun 1982–1983, suhu permukaan laut disekitar Kepulauan Galapagos mengalami peningkatan yang tidak normal dan mencapai sekitar 30°C. Kenaikan suhu ini menghentikan proses upwelling, yaitu naiknya air laut dingin yang kaya nutrisi ke permukaan. Sehingga jumlah plankton dan ikan sebagai sumber makanan utama burung laut berkurang drastis.

Kondisi tersebut ternyata berdampak pada berbagai spesies burung laut. Menurut penelitian Carlos. A Valle dkk yang berjudul “The Impact of the 1982-1983 E1 Nino-Southern Oscillation on Seabirds in the Galapagos Islands, Ecuador” Menjelaskan bahwa populasi penguin Galapagos (Spheniscus mendiculus) turun hingga sekitar 77%, menyisakan hanya ratusan individu setelah banyak yang mati karena kelaparan. Sementara itu burung pecuk tidak-terbang Galapagos (Nannopterum harrisi) mengalami penurunan populasi hampir 50%. Burung-burung kecil biasanya menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak memperoleh cukup makanan dari induknya.

Selain menyebabkan kematian, El-Nino juga mengganggu proses reproduksi burung laut. Banyak spesies menghentikan aktivitas berkembang biak, meninggalkan sarang dan telur, atau bahkan bermigrasi ke wilayah lain untuk mencari makanan. Sehingga jarang ada generasi baru yang lahir selama periode tersebut. Bagi para peneliti, penurunan jumlah burung laut dan kegagalan reproduksi ini menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan bahwa ekosistem laut sedang mengalami tekanan besar akibat El-Nino.

  1. Matinya Anjing dan Singa Laut di California
el-nino
Ilustrasi Singa Laut, Foto: Dok. idntimes.com

Berdasarkan laporan harian Koran Aneka, 14 Desember 1997, fenomena El-Nino juga menyebabkan penderitaan pada populasi anjing laut dan singa laut di pesisir California. Pemanasan suhu laut yang dipicu El-Nino mengakibatkan ikan dan cumi-cumi, sumber makanan utama kedua mamalia laut tersebut, berpindah ke perairan yang lebih jauh dan lebih dalam. 

Banyak anjing laut dan singa laut yang kelaparan karena sulit mendapatkan makanan. Di berbagai pantai dari San Francisco hingga San Diego ditemukan bangkai-bangkai anak singa laut dan anjing laut, sementara banyak individu lain terdampar dalam kondisi lemah dan sekarat. Anjing laut betina terpaksa menyelam lebih dalam dan berenang lebih jauh untuk mencari mangsa, sehingga menghabiskan lebih banyak energi dan mengurangi kemampuan mereka memberi makan anak-anaknya. 

Dampak paling parah terjadi pada kelompok kecil, dari sekitar 2.000 anak anjing laut yang lahir di Pulau San Miguel sejak Juli 1997, sekitar 1.500 ekor dilaporkan mati pada Oktober tahun yang sama. 

  1. Penurunan Populasi Kadal dalam Jangka Panjang
el-nino
Ilustrasi Kadal, Foto: shutterstock

Melalui penelitian jangka panjang dari tahun 1971 hingga 2010 di Pulau Barro Colorado, Panama, peneliti menemukan bahwa fenomena El Nino membawa dampak yang nyata bagi ekosistem hutan tropis. Saat tahun El Nino tiba, wilayah ini mengalami perubahan iklim mikro yang ekstrim, yaitu masa musim kemarau yang menjadi jauh lebih panjang dan suhu udara malam hari yang jauh lebih panas. Perubahan cuaca ini secara drastis mengeringkan lapisan serasah (tumpukan daun kering) di lantai hutan, yang sebenarnya adalah rumah sekaligus pelindung untuk hewan-hewan ektoterm atau berdarah dingin.

Kondisi lingkungan yang gersang tersebut sangat berdampak pada kelangsungan hidup kadal tropis kecil. Menurut penelitian Jessica Stapley dkk yang berjudul “Long-Term Data Reveal a Population Decline of the Tropical Lizard Anolis apletophallus, and a Negative Affect of El Nino Years on Population Growth Rate”, populasi kadal Anolis apletophallus menyusut secara besar-besaran selama periode 39 tahun studi tersebut. 

Pada tahun 2010, jumlah kadal yang tersisa di alam liar runtuh dan hanya tersisa 26% jika dibandingkan dengan kelimpahan awal mereka di tahun 1971. Dalam siklus hidupnya yang sangat pendek (kurang dari satu tahun), seperti kebanyakan hewan mudan lain, kadal muda dan fase telur menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak dapat bertahan dari stres panas dan dehidrasi. Telur-telur mereka yang berbentuk kulit lunak menjadi kering dan gagal menetas akibat hilangnya kelembaban tanah di lantai hutan. Selain menggagalkan penetasan generasi baru, musim kemarau panjang akibat El-Nino ini juga merusak ketersediaan makanan bagi kadal dewasa.

Baca juga: Fenomena El-Nino, Kapan Awal Mula Munculnya ?

Lantai hutan yang terlalu kering membuat populasi serangga kecil dan artropoda, yang merupakan makanan utama kadal, berkurang drastis sehingga memicu kelaparan massal. Karena tubuhnya melemah dan kekurangan energi, kadal-kadal yang bertahan hidup terpaksa menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari tempat bernaung yang sejuk ketimbang bereproduksi. Sehingga laju pertumbuhan populasi tahunan turun tajam tepat setelah tahun-tahun El Nino terjadi. 

Bagi para peneliti, penurunan populasi ini menjadi peringatan penting bahwa hutan tropis yang selama ini dianggap stabil, sebenarnya sangat rentan dalam menghadapi risiko kepunahan hewan lokal yang tinggi akibat pemanasan global.(Kori)