Titik Awal “Rentetan Gempa Besar Sumatra”, Gempa Enggano 2000

Ilustrasi Gempa, Foto: Dok. freepik
Ekspedisi Jawadwipa

Malam itu, 4 Juni 2000, udara di sepanjang pesisir barat Sumatra terasa tenang. Namun, jauh di bawah permukaan Samudra Hindia, tepatnya di Palung Sunda, kerak bumi sedang menyimpan energi dahsyat yg siap dilepaskan. Tepat pukul 23:28 WIB, kedamaian itu pecah. Sebuah gempa berkekuatan Mw7,9 mengguncang, menandai dimulainya babak baru dlm sejarah seismik Sumatra yg kelam.

Titik Awal “Rentetan Gempa Besar Sumatra”

Gempa yg berpusat sekitar 90 km barat daya Kota Tais, Kab Bengkulu Selatan (sekarang Kab Seluma), pada kedalaman 33 km ini, sering kali terlupakan jika dibandingkan dgn bencana besar yang menyusul setelahnya. Padahal, secara ilmiah, gempa Enggano 2000 adalah “pembuka pintu” bagi serangkaian aktivitas seismik raksasa yg kemudian merobek wilayah barat Sumatra selama satu dekade berikutnya.

Gempa ini terjadi di ujung tenggara segmen megathrust yg sebelumnya pecah pada tahun 1833. Sejarah mencatat, setelah gempa ini, wilayah Sumatra diguncang oleh Gempa Aceh (2004), Gempa Nias (2005), Gempa Bengkulu (2007), hingga Gempa Mentawai (2010). Semua peristiwa ini merupakan manifestasi dari interaksi lempeng Australia yg menghujam ke bawah lempeng Sunda, membentuk zona megathrustyang tidak pernah benar-benar tidur.

sumatra
Ilustrasi Puing setelah kejadian Gempa, Foto: liputan6.com/Angga Yuniar

Skala Kehancuran

Getaran malam itu menjalar dgn intensitas yg mengerikan. Di Pulau Enggano, gempa dirasakan hingga skala VIII MMI, menghancurkan struktur bangunan hingga ke fondasinya. Di Kota Bengkulu, intensitas mencapai VII MMI, sementara guncangannya terasa hingga ke Pagaralam, Lubuk Linggau, Palembang, bahkan Jakarta dengan intensitas IV–V MMI.

-Korban Jiwa: 103 orang tewas (46 di Bengkulu, 39 di Pulau Enggano).
-Korban Luka: Lebih dari 2.000 orang.
-Kerusakan Infrastruktur: 15.000 rumah rusak berat dan 29.940 rumah rusak ringan.
-Fasilitas Publik: Ratusan sarana pendidikan (TK hingga SLTA), 377 Masjid, 13 Gereja, 3 Pura, serta puluhan puskesmas rata dgn tanah.

Uniknya, di antara deretan gempa besar di wilayah ini, gempa Enggano 2000 tercatat sbg satu-satunya peristiwa yg tidak memicu tsunami merusak, memberikan sedikit ruang bagi masyarakat untuk bertahan di tengah hantaman bangunan yg roboh.
Melawan Lupa

Hingga pengujung tahun 2000, bumi Bengkulu tidak berhenti berguncang. Sebanyak 346 gempa susulan dgn kekuatan di atas M4,0 masih tercatat, membentang sejauh 190 km sepanjang arah barat laut–Tenggara mengikuti jalur tunjaman lempeng. Beberapa di antaranya berpusat tepat di bawah Pulau Enggano, menambah trauma bagi warga yg saat itu masih berada di tenda-tenda darurat.

sumatra
Foto setelah kejadian gempa, Foto: Antara/Sugiharto Purnama

Gempa Enggano bukan sekadar angka dlm literatur geologi. Ia adalah pengingat bahwa kita hidup di atas zona megathrust yg aktif. Melupakan peristiwa tahun 2000 berarti mengabaikan pembelajaran penting tentang mitigasi dan kesiapsiagaan.

Baca juga: Banjir Sungai Yangtze 1931, Menelan Ribuan Orang

Setiap kali kita memutar kembali catatan sejarah ini, kita diajak untuk memahami bahwa bumi tidak pernah benar-benar diam. Melawan lupa adalah langkah pertama utk membangun ketangguhan; agar setiap sekolah, rumah, gedung perkantoran, tempat usaha dan rumah ibadah yg kita bangun hari ini, tidak lagi menelan korban seperti yang terjadi dua dekade silam. (DAR)

Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)

Artikel ini disusun untuk mengenang peristiwa 4 Juni 2000 sebagai bagian dari literasi kebencanaan Indonesia.