Kembali terjadi peristiwa blackout atau pemadaman listrik massal di Pulau Sumatera pada Jumat (22/5) malam. Gangguan tersebut menyebabkan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah terganggu, terutama di kawasan perkotaan yang bergantung pada pasokan listrik untuk mobilitas dan pelayanan publik.
Ketergantungan manusia pada sektor energi kini tidak dapat lagi dikompromikan, ketika terjadi blackout atau pemadaman listrik total, maka banyak industri lumpuh dan aktivitas manusia terganggu.
Dilansir dari detikSumut, listrik di wilayah pusat Kota Medan padam total. Sejumlah ruas jalan protokol tampak gelap gulita akibat matinya Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU). Selain itu, lampu lalu lintas di berbagai persimpangan juga tidak berfungsi, sehingga memicu kepadatan kendaraan dan menghambat mobilitas warga pada malam hari.
Bencana Energi: Blackout Terjadi Lagi di Sumatera

Penyebab terjadinya blackout di wilayah Sumatera diungkap oleh Direktur Transmisi PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra. Menurutnya, gangguan tersebut dipicu oleh fenomena power swing atau osilasi tegangan tinggi yang menyebabkan sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera mengalami ketidakstabilan hingga akhirnya lumpuh secara menyeluruh.
Penjelasan itu disampaikan Edwin dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak pemadaman di sejumlah wilayah, mulai dari Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.
“Kami dari PT PLN Persero menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, terutama kepada masyarakat di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh atas terjadinya gangguan listrik yang terjadi pada hari Jumat lalu,” ujar Edwin.
Ia menjelaskan, fenomena power swing terjadi ketika sistem transmisi listrik mengalami perubahan beban dan gangguan jaringan secara tiba-tiba sehingga memicu ketidakstabilan tegangan. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan jaringan interkoneksi di berbagai wilayah Sumatera terputus secara bersamaan dan berujung pada pemadaman listrik massal atau blackout.
Dilansir dari BBC Indonesia, sejumlah wilayah di Sumatera mengalami berbagai kerugian akibat pemadaman listrik massal. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menyebabkan korban jiwa serta kerugian ekonomi bagi warga dan pelaku usaha.
Di Sumatera Utara, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak pemadaman listrik. Dua korban meninggal karena keracunan gas karbon monoksida dari genset yang digunakan saat listrik padam, sementara satu korban lainnya tenggelam saat mandi di sungai karena pompa air di rumah tidak berfungsi.
Selain itu pemadaman listrik juga berdampak pada sektor ekonomi masyarakat kecil. Seorang pedagang es krim tradisional di Padangsidempuan mengaku tidak dapat berjualan selama listrik padam karena tidak memiliki genset untuk menjaga produksi tetap berjalan. Kondisi tersebut membuat penghasilannya terhenti di tengah beban hutang dan kebutuhan hidup keluarga.
Cerita di Sumatera Barat, dua remaja dilaporkan meninggal dunia akibat menghirup gas genset yang dinyalakan di ruang tertutup saat listrik padam. Kerugian finansial juga dialami pelaku usaha penginapan di Bukittinggi yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp 10 juta akibat pembatalan pemesanan kamar oleh tamu.

Selain itu di Aceh, pemadaman listrik memperburuk kondisi warga yang sebelumnya telah menghadapi banjir dan longsor. Warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan genset secara mandiri demi memenuhi kebutuhan penerangan dan aktivitas rumah tangga sehari-hari.
Kejadian blackout di Sumatera bukan hanya terjadi sekali, tercatat sebelumnya terjadi black out di tahun 2019 dan 2024, ini menunjukan bahwa krisis energi tidak hanya berupa matinya lampu penerangan, tetapi juga terkait keamanan dan ketahanan hidup masyarakat.
Baca juga: Eropa Lumpuh: Bencana Pemadaman Listrik Dunia
Dalam konteks ini, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menilai pemadaman massal tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi PLN agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Menurut Bobby, pemadaman listrik dengan durasi panjang telah menimbulkan berbagai persoalan di tengah masyarakat, mulai dari terganggunya aktivitas ekonomi, layanan publik, hingga munculnya korban jiwa akibat penggunaan genset dan terbatasnya akses kebutuhan dasar. Ia juga menyoroti pentingnya sistem cadangan listrik, khususnya pada sektor vital seperti rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang membutuhkan pasokan daya stabil untuk pelayanan darurat.(Kori)






