Band Ungu Bersolidaritas Bencana, Lewat Lagu “Ngatata Notumangi”

Studio Session Ungu, Foto: Youtube.com/@unguofficial
Ekspedisi Jawadwipa

Ungu nama grup band pop Indonesia yang hadir sejak 1996, lagu-lagunya merajai tangga musik di awal-awal tahun 2000an. Para penggemar yang disebut Cliquers sejak dulu disajikan musik bernada mellow menyentuh hati.

Lagu sering dijadikan ungkapan perasaan baik sedih maupun senang di berbagai daerah, termasuk dalam menanggapi bencana. Jika dalam dimasa lalu, orang Aceh mempunyai syair “smong” sebagai kearifan lokal masyarakat untuk kini dikenal sebagai warisan mitigasi bencana, lalu Ebiet G. Ade dalam lagunya merenungi bencana Sinila yang pernah terjadi di Dataran Tinggi Dieng, Ungu sebagai band musik Indonesia juga punya caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya menanggapi bencana.

Entah dimasa lalu ataupun masa kini, mengungkapkan perasaan akibat peristiwa bencana adalah bagian dari budaya; syair, puisi, doa, lagu adalah hal paling sederhana yang bisa diciptakan manusia untuk menggambarkan kondisi prihatin ini, salah satunya yang dilakukan oleh Band Ungu.

Band Ungu Bersolidaritas Bencana, Lewat Lagu “Ngatata Notumangi”

ungu
Band Ungu, Foto: Dok. beritasiber.com

Pada 2016, Pasha Ungu vokalis band Ungu memasuki dunia politik dan menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dalam masa jabatannya di 2018, Palu mengalami salah satu bencana yang paling dahsyat dalam sejarah Indonesia: gempa bumi yang mengguncang kota tersebut, disusul tsunami dan likuifaksi yang menewaskan lebih dari 4.000 jiwa.

Dalam suasana pilunya, penyanyi ini menciptakan lagu berjudul “Ngatata Notumangi” yang dalam bahasa Suku Kaili berarti Kota Kita Menangis, berikut liriknya:

Ina…nasimpurara
Eyo hi ngatata notumangi
Eyo hi mangge ina nongare
Eyo hi anata nakaekata
Eyo hi ngata nakamburaka
Nuapa saba ante ngataku
Nuapa salahku

O ina… nasimpurara
Dako talumpae nompakavoe ngata
Dako talumpae nompatolele ngata
Otupu ala taala petiro kami
Merapi ampu kami

Kamaimo kita masintuvu
Kamaimo kita morambanga
Kamaimo kita mosangurara
Mombangu vai ngata

Kamaimo kita mosinggani
Mombangu ngatata nipotoveta
Kamaimo kita mosigande
Mompakabelo ngata
Ibu… sedihnya hati
Hari ini kota kita menangis
Hari ini Bapak dan Ibu merintih
Hari ini anak kita ketakutan
Hari ini kota kita berserakan
Mengapa? ada apa dengan kotaku?
Apa salahku?

Oh Ibu… sedihnya hati
Baru tiga tahun memperbaiki kota
Baru tiga tahun mempromosikan kota
Ya Allah Ta’ala, lihatlah kami
Kami memohon ampunan-Mu

Marilah kita bersatu
Marilah kita semua
Marilah kita satu hati
Membangun kembali kampung

Marilah kita bersama
Membangun kota yang kita cintai
Marilah kita bergandengan
Memperbaiki kota

Suara seruling, instrumen musik tradisional yang mengawali alunan nada ini menambah pilu suasana orang yang mendengarkan lagu “Ngatata Notumangi”. Pasha selaku pencipta lagu mencurahkan isi hatinya sebagai pemimpin sekaligus masyarakat yang mendapat musibah tersebut, lewat untaian lirik ketakutan, kepasrahan serta ajakan untuk bangkit.

ungu
Personil Band Ungu, Foto: filepic/star2

Bahasa Kaili menjadi pilihan bahasa lagu, diiringi musik pop khas Ungu, serta keterlibatan pencipta lagu yang memiliki pengalaman langsung dengan peristiwa tersebut, memberikan perasaan emosional yang mendalam pada karya ini. Meskipun lagu tersebut tidak secara langsung memuat pesan mitigasi atau pencegahan bencana di masa depan, keberadaannya bisa berfungsi sebagai penanda ingatan kolektif atas peristiwa gempa besar yang pernah mengguncang Palu dan wilayah sekitarnya.

Baca juga: Menyelami Peristiwa Bencana Lewat Lagu “Berita Kepada Kawan”

Selain lagu “Ngatata Natomangi” lagu dari Ungu yang masih dalam satu tema sama adalah “Baku Jaga” mengingatkan tentang bencana yang entah kapan datang tapi sebagai manusia harus saling berdoa dan mendukung, bedanya jika “Ngatata Natomangi” berbahasa Kaili maka “Baku Jaga” berbahasa Manado, wilayah lain yang terkena dampak bencana gempa 2018.(Kori/Nugrah)