Ketika membahas penanganan bencana, kita kerap terjebak semata pada paparan data. Seperti jumlah korban dan total kerugian. Namun sebenarnya, ada satu hal yang tidak boleh terlewatkan ketika menelaah topik kebencanaan di sebuah daerah: bagaimana menangkap gambaran kemampuan masyarakat setempat dalam menghadapi bencana tersebut. Salah satunya dari kearifan lokal yang mereka terapkan dalam hidup sehari-hari.
Hal tersebut menjadi sebuah pesan kunci yang begitu mengena buat saya selama menyimak penjelasan dari pihak Disaster Channel dan APAD (Asia Pacific Alliance for Disaster Management) Indonesia. Maka itulah yang saya ulik melalui berbagai dialog dan pengamatan.
Dalam konteks orang Baduy, penghormatan terhadap alam adalah sebuah prinsip hidup maha penting. Filosofi tersebut tercermin dari cara hidup mereka yang sederhana nan minimalis, baik dari segi sandang, pangan, maupun papan. Ini begitu jelas disampaikan oleh Ayah Karmain sebagai seorang tokoh adat Baduy. Mereka amat percaya alam akan memelihara manusia, selama manusia dapat belajar mencukupkan dirinya dan bijak mengelola segala sesuatu. Ini mengingatkan saya pada sebuah kutipan terkenal dari Gandhi: “Earth provides everyone’s need, not everyone’s greed”.
Filosofi Tanggap Bencana Orang Baduy: Tangguh Tanpa Angkuh

Prinsip yang sama juga menjadi pegangan mereka dalam pengolahan lahan dan ternak. Misalnya bagaimana mereka memilih membeli beras dari luar kawasan Baduy dengan pendapatan yang mereka terima hasil menjadi porter, menjual durian, madu, kain tenun, dan lainnya. Sedangkan hasil panen padi akan disimpan di lumbung padi yang disebut Leuit, sebagai sebuah antisipasi jika bencana datang.
Kearifan lokal tersebut terbukti menjadi salah satu ketangguhan mereka menghadapi bencana. Pada tahun 2022 wilayah pemukiman Baduy sempat diterjang banjir akibat luapan air sungai Ciujung. Menurut penuturan Ambu Pulung, seorang ibu berusia 59 tahun pemilik warung seblak yang (mungkin) satu-satunya di Kawasan Kampung Adat Baduy, saat itu sembilan rumah hanyut. Kondisi serupa diakuinya pernah terjadi pada tahun 1980an. Selain banjir, bencana lain yang pernah terjadi adalah kebakaran. Ini diakibatkan pola hidup masyarakat yang pergi ke ladang pada siang hari, lalu tanpa sengaja tersisa api di tungku dapur yang belum padam sepenuhnya.
Baik pada bencana banjir maupun kebakaran, keluarga yang terdampak tetap dapat bertahan dengan tangguh. Mereka juga tidak kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sesehari –bahkan sebelum bantuan sembako dari pemerintah tiba. Itu semua dimungkinkan dengan menggunakan simpanan padi di Leuit.

Tentu saja, ketangguhan Masyarakat Adat Baduy dalam menghadapi bencana tidak lepas dari rasa tepa selira yang mereka miliki sebagai suatu komunitas. Ambu Pulum menceritakan sigapnya warga membopong dan menyelamatkan anak-anak, wanita hamil, dan kaum lansia kala banjir terjadi. Terbukti, banjir yang menenggelamkan hingga tiga jembatan bambu yang adalah akses utama mobilitas warga, tidak menelan korban jiwa sama sekali.
Baca juga: Suku Badui, Ketahanan dan Kesejahteraannya di Antara Ancaman Bencana Alam di Jawa Barat
Masyarakat Baduy menjadi teladan bagaimana keangkuhan manusia yang kerap termanifestasi melalui hasrat kepemilikan tanpa rasa cukup dan ego tanpa empati, tidak akan berguna pada masa sukar. Justru kebersahajaan dalam hidup yang penuh hormap terhadap alam dan sesama menjadi kekuatan untuk tangguh bertahan.
Lantas kini muncul refleksi: bersediakah kita mengadaptasi filosofi serupa di kehidupan kita sebagai masyarakat urban?
Penulis: Claudya Tio Elleossa






