Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Jabodetabek merasakan nyamuk di sekitar rumah semakin banyak dan mengganggu. Kondisi tersebut terasa terutama ketika cuaca panas dan hujan semakin jarang. Hewan yang sebelumnya tidak terlalu terasa keberadaannya kini lebih sering ditemukan di dalam rumah, kamar, maupun lingkungan sekitar tempat tinggal.
Menurut peneliti entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan perubahan lingkungan selama musim kemarau. Ketika sumber air di lingkungan terbuka berkurang, hewan ini dapat memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di sekitar pemukiman, seperti bak mandi, tempat penampungan air, kolam, hingga berbagai wadah yang dapat menampung air
Nyamuk Makin Parah di Musim Kemarau, Kenali dan Hindari

Salah satu kelompok hewan yang umum ditemukan di lingkungan permukiman adalah Culex. Berbeda dengan Aedes aegypti yang lebih dikenal aktif menggigit pada pagi dan sore hari, sejumlah spesies Culex lebih aktif mencari darah pada malam hari. Dengingannya yang khas dan gigitannya ketika sedang tidur membuat nyamuk ini menjadi salah satu gangguan yang umum ditemukan di rumah.
Musim kemarau memang membuat banyak genangan air alami mengering. Hal tersebut tidak berarti seluruh tempat perkembangbiakan nyamuk ikut menghilang.
Di kawasan permukiman, masih terdapat banyak sumber air yang dapat bertahan selama kemarau. Selokan yang airnya tidak mengalir, genangan di sekitar rumah, saluran pembuangan, kolam, hingga berbagai wadah yang menampung air dapat menjadi habitat hewan ini.
Bagi beberapa jenis Culex, air yang tergenang merupakan bagian penting dari siklus hidupnya. Bahkan, sejumlah spesies dapat berkembang pada air yang mengandung bahan organik. Karena itu, selokan atau saluran air yang kotor, tenang, dan tidak mengalir dapat menjadi tempat yang sesuai bagi perkembangbiakannya.
Culex bukan satu spesies tunggal, melainkan genus yang terdiri atas banyak spesies. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di lingkungan permukiman dan aktif mencari darah pada malam hari.
Dalam sebuah survei vektor di Indonesia, Culex quinquefasciatus ditemukan aktif menggigit manusia sejak sekitar pukul 18.00 hingga pagi hari, dengan salah satu periode aktivitas yang tinggi terjadi sekitar tengah malam.
Karakter tersebut membuat Culex sering terasa sebagai nyamuk malam. Ketika rumah mulai gelap dan aktivitas penghuni berkurang, hewan ini dapat keluar dari tempat persembunyiannya untuk mencari inang. Hewan ini juga dapat beristirahat di tempat yang lembap dan minim cahaya.

Keberadaan Culex di rumah tidak otomatis berarti seseorang akan tertular penyakit. Risiko penularan bergantung pada spesies nyamuk, keberadaan patogen, dan kondisi lingkungan setempat. Beberapa spesies Culex diketahui dapat berperan sebagai vektor sejumlah penyakit, termasuk filariasis dan Japanese encephalitis.
Baca juga: Kekeringan, Strategi Jangka Panjang BPBD Banjarnegara Dalam Mengatasinya
Sehingga menjaga lingkungan tetap bersih dan mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk tetap penting, meskipun tujuan utamanya adalah mencegah gangguan dan gigitan nyamuk sehari-hari.
Mengurangi keberadaan Culex dapat dimulai dari lingkungan sekitar rumah.
- Bersihkan selokan dan saluran air. Pastikan air dapat mengalir dan tidak tertahan oleh sampah, lumpur, atau endapan.
- Hilangkan genangan. Periksa halaman, pot tanaman, wadah bekas, ember, talang, kolam, dan tempat lain yang dapat menampung air.
- Tutup tempat penyimpanan air. Jangan biarkan wadah air terbuka menjadi tempat nyamuk berkembang biak.
- Jaga rumah tetap terang dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Area yang lembab, gelap, dan jarang dibersihkan dapat menjadi tempat nyamuk beristirahat.
- Lindungi diri saat malam hari. Gunakan kelambu, kasa pada ventilasi, atau pengusir nyamuk jika diperlukan, terutama ketika aktivitas nyamuk sedang tinggi.
(Kori)






