Fenomena Badai Debu, Jadikan Langit Merah Di Belahan Dunia

Langit menjadi warna merah karen abadai debu, Foto: Matt Whitlum
Ekspedisi Jawadwipa

Badai dan Topan Tropis tersebut berhembus kencang mengangkat debu yang mengandung zat besi. Siklon Narelle sebelumnya yang menyambangi Australia Barat pada pekan Maret lalu, menjadikan langit Shark Bay menjadi berwarna merah darah.

Narelle pertama kali terbentuk di Laut Koral pada tanggal 17 Maret. Awalnya, badai ini bergerak ke pantai Queensland, kemudian ke Wilayah Utara, dan akhirnya ke Australia Barat.

Langit berwarna merah di Shark Bay bukan tanpa alasan, dasyatnya siklon narelle, dikutip dari Conservation.id ada 4 faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi:  lanskap yang sangat kering dan terbuka dengan tanah merah, kurangnya hujan sebelumnya, angin yang sangat kencang di depan hujan dari siklon, dan arah angin tertentu.

badai
Suasana Warna merah mencekam karena badai debu, Foto: Dok. mongabay.co.id

Fenomena Badai Debu, Jadikan Langit Merah Di Belahan Dunia

Menurut Ahli Meteorologi, dalam enam minggu sebelum Siklon Narelle, wilayah barat laut yang lebih luas telah mengalami curah hujan 10-50 mm dan lanskap yang tandus sangat kering. Hal ini adalah faktor di balik ukuran dan besarnya badai debu berwarna kemerahan tersebut.

Partikel debu di udara menyebarkan gelombang cahaya yang lebih pendek (cahaya biru dan hijau) dengan lebih efektif. Gelombang cahaya yang lebih panjang (cahaya merah dan oranye) melewati atau mendominasi apa yang mencapai mata. Partikel tanah merah membuat cahaya menjadi lebih merah pekat. Oleh karena itu, langit tampak merah oranye pekat, atau bahkan berwarna merah darah.

Dilaporkan pula bahwa kejadian ini menyebabkan pohon tumbang dan beberapa dugaan kerusakan struktural, listrik padam serta beberapa rumah rusak.

Kejadian hampir serupa juga terjadi pada 01 April kemarin di langit Pulau Kreta, Yunani, langit orange kemerahan juga muncul akibat badai Erminio yang menyapu wilayah Mediterania.

Kejadian ini membuat jarak pandang menurun drastis, beberapa penerbangan juga dibatalkan, hal serupa juga pernah terjadi di tahun 2024 lalu.

Menurut data observasi atmosfer Eropa, debu dari Gurun Sahara dapat menempuh jarak lebih dari 2.000 kilometer dan mencapai wilayah Yunani dalam waktu kurang dari 48 jam. Konsentrasi partikel debu yang dilaporkan melebihi 1.000 mikrogram per meter kubik termasuk kategori sangat berbahaya, mengingat standar aman yang direkomendasikan World Health Organization hanya sekitar 45 mikrogram per meter kubik untuk paparan harian.

Warna langit merah oranye karena badai debu, Foto: Arcgis Storymap

Secara global, fenomena langit merah atau oranye akibat badai debu diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring perubahan iklim. Peningkatan suhu global memperparah kekeringan di banyak wilayah kering dan semi-kering, termasuk Australia dan Afrika Utara, sehingga memperbesar potensi terbentuknya badai debu besar. 

Baca juga: Waspada, Lonjakan Api Karhutla dan El Nino Godzilla

Laporan iklim terbaru menunjukkan bahwa frekuensi kejadian debu ekstrem meningkat sekitar 20–30% dalam beberapa dekade terakhir, terutama di wilayah dengan degradasi lahan yang tinggi. Hal ini menjadikan fenomena seperti Siklon Narelle bukan hanya peristiwa cuaca ekstrem biasa, tetapi juga bagian dari tren lingkungan yang lebih luas.(Kori)