Dari Bambu untuk Celana Ulin

Ilustrasi Pohon Bambu, Foto: Dok. shi.or.id
Ekspedisi Jawadwipa

Menghadapi kondisi di tengah Covid menyerang dan hilangnya ternak babi, para perempuan khususnya para ibu menjadi garda terdepan dengan berani mengambil peran sebagai Mama Bambu. Tujuannya cuma satu, mendapatkan sumber penghasilan dan mempertahankan kayu api mematangkan makanan dengan tetap ada variasi, ada ikan dan lainnya yang tidak mereka dapatkan di kebun mereka.

Tujuan dari segi ekonomi kemudian disadari hanya salah satu tujuan menjadi Mama Bambu dengan program menanam bibit bambu. Manfaat lainnya seperti kita ketahui bersama, bambu menyimpan 90 persen air hujan dengan sistem perakaran bambu yang monopodial dapat mencegah tanah longsor.

Kali ini disasterchannel.co mendapat kiriman tulisan dari Ikerniaty Sandili. Ia  adalah salah satu penulis yang mengikuti lomba “Cerita Perempuan Hebat Menghadapi Bencana” yang diadakan oleh disasterchannel.co pada Maret lalu. Simak cerita menginspirasi dari Ike dalam tulisan berikut:  

Pada tahun 2021, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menandatangani nota kesepahaman bersama tentang desa wanatani bambu di tujuh kabupaten di Flores yakni Kabupaten Manggarai barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka.

bambu
Foto bibit pohon bambu, Foto: Dok. bali.bisnis.com

Sebagaimana dimuat dalam surat kabar online, penandatanganan tersebut dalam rangka mewujudkan ekonomi hijau atau green economic melalui pemberdayaan perempuan pelopor di tujuh kabupaten tersebut. Perempuan pelopor ini kemudian akrab disebut Mama Bambu. Di Manggarai Barat (Mabar) ada tiga desa pilot, Desa Modo, Desa Golo Ndaring dan Desa Golo Damu dengan 50 orang total keseluruhan perempuan pelopor.

Dari Bambu untuk Celana Ulin

Ini tentang Ibu Nur Delima Elo, mama bambu atau ibu pelopor yang terlibat dalam kerja sama antar Pemprov NTT dan Yayasan Bambu Lestari. Ia mendiami desa Golo Damu setelah menikah. Pertemuan pertama saya dengannya cukup spesial, karena ia yang paling aktif menyapa dan menawarkan rumahnya untuk menjadi tempat singgah juga tempat salat.

“Mba, siapa tahu mau nanas? nanti singgah di rumah. Dua rumah setelah rumahnya sekdes.” Begitulah kalimat pertama dari Ibu Nur Delima Elo, menyapaku saat pertemuan sosialisasi di kantor Desa Golo Damu. Saya mengiyakan sekalian numpang salat. Ma Yun dan keluarganya adalah satu-satunya keluarga muslim di Desa Golo Damu sehingga ia lebih dulu menawari saya sembahyang di rumahnya.

Selanjutnya saya sering menginap di rumah Mama Yun ketika melakukan monitoring di desanya yang seringkali menghabiskan waktu dua sampai tiga hari. Mama Yun ramah, seperti kebanyakan orang Flores, setiap kali kembali ke kabupaten, ke Labuan Bajo, Mama Yun selalu menaruh apapun di bagian depan motorku, nanas, salak, sukun, hingga alpukat. Saya serasa punya kebun di Golo Damu, hehehe.

Suatu malam lepas Magrib, saya menemani mama Yun di depan tungku batu. Merah bara kayu dan nyala api membikin tubuh kami hangat. Sembari membantu memisahkan cabai segar yang baru dipetik mama Yun di samping rumah, mama Yun menanyaiku banyak hal. Ibuku, saudaraku, bagaimana kota Palu, dan sedikit membahas soal adat dan tradisi. 

Selain anggotanya yang berjumlah enam orang tersebut, Mama Yun yang tinggal di Kampung Ndole dibantu suami, anaknya dan Ulin, anak kelas enam SD. Remaja perempuan usia lima belas tahun itu membantu mengisi tanah ke dalam polybag sepulang sekolah atau sore hari. Tidak tiap hari, kapan saja Ulin punya waktu. Ulin bebas mengisi berapa banyak karena Mama Yun tidak memberi target. “Sebisanya saja,” ujar Mama Yun dengan nada bicara yang sedikit cepat dibanding para ibu yang lain. “Karena sudah membantu saya, saya kasih uang jajan dan belikan celana. Dia mengeluh celananya sudah sempit. Tapi saya bilang tunggu saat insentif pembibitan ini dibayar. Kalau baju SMP, nanti kalau sudah lulus.” 

“Si anaknya mau,” tanya saya. Mama Yun mengangguk. “Kenapa Mama Yun ajak Ulin?” 

Mama Yun tertawa. Katanya, daripada uang insentif pembibitan untuk orang lain, lebih baik untuk Ulin. Mama Yun menambahkan bahwa akhir-akhir ini ia sedikit lebih sibuk karena sedang panen padi. Jadi harus ke sawah dari pagi lalu kembali petang hari, sehingga tidak sempat mengisi tanah ke polybag. Ulin pun sekali lagi, tegas Mama Yun, hanya membantu mengisi polybag berapa saja yang ia bisa. 

“Tapi kenapa?” tanya saya lagi. Mama Yun tersenyum sambil memotong-motong labu untuk dimasak menjadi lauk sayur makan malam nanti.

“Saya kasihan, Mba. Ia tinggal hanya sama neneknya di sini. Ibunya sudah menikah lagi. Bapaknya juga. Jadi kurang diperhatikan begitu. Itu polybag yang sudah diisi tanah beberapa dikerjakan dia. Biar sedikit yang dia kerjakan, tetap saya belikan celana.”

“Mama Yun tidak rugi? Kan, sayang, bibit yang Mama rawat sendiri hanya sedikit dibanding anggota kelompok Mama Yun yang lain.” Mama Yun memiliki enam anggota untuk menanam 9000 anakan bambu. Ia bersama anggota kelompoknya menanam bibit bambu ke tanah yang sudah dibuat bedengan dan polybag.  Ada bibit yang mereka sepakati sebagai bibit kelompok yang dirawat secara kolektif, dan ada yang bibit individu yang dirawat sendiri. Mama Yun hanya mengambil sekitar 300 bibit.

bambu
Ilustrasi Pohon Bambu, Foto: Dok. bibittanaman.id

Tidaklah Mba. Kita berbagi, sedikit-sedikit. Jadi banyak orang yang dapat manfaat dari bambu ini,” tuturnya sambil memasukkan potongan labu itu ke dalam panci yang airnya sudah setengah mendidih. Ia menambahkan sedikit garam dan vetsin lalu mengaduk sayur itu. “Rumah Ulin dekat rumah Inang Ika. Dia bantu saya isi koker. setiap sore kalau ia tidak ada kegiatan sekolah. Ia bantu isi sebisanya dia. Tanah sudah dibacin Papa Yun. Ocin tinggal taro di koker. Kalau sehari ia bisa lima koker, ya lima koker. Kalau bisanya lebih dari lima oke, kalau kurang juga oke,” lanjut Ma Yun, setengah mengulang penjelasannya.

Ma Yun mengangkat panci sayur lalu menuang sayur dalam mangkuk plastik. Saya selesai mengulek cabai dan bawang juga tomat. Mama Yun lanjut menggoreng ikan asin yang diperoleh dengan menukar dua karung nanas di pasar di Labuan Bajo. Musim nanas, harga nanas menjadi sangat murah. Ditambah masih karena covid, tidak ada hotel-hotel yang membeli nanas mereka, karena jika panen, Golo Damu menghasilkan nanas paling banyak. Mereka berangkat dini hari, menginap di emperan toko di pasar, lalu paginya menjual nanas mereka yang akhirnya barter dengan ikan asin. 

Baca juga: Eco Enzym, Cairan Multi Guna dan Praktiknya

Mama Yun menyendok nasi dari periuk. Saya berdiri dan membantu menyajikan di ruang tengah depan televisinya yang jadul. Kami duduk bersila, menyantap kuah bening bayam dan labu, nasi hangat, ikan asin goreng, sambal dan sinetron Dipaksa Menikahi Tuan Muda kesayangan keluarga Mama Yun. Saya khidmat makan sambil menikmati suguhan sinetron. 

***

Penulis: Ikerniaty Sandili