Ratusan manusia menumpuk memadati stasiun-stasiun greenline (Tanah abang – Rangkasbitung), pengguna transportasi kereta api commuter line (KRL) yang mayoritas adalah para pekerja bernaung di tengah hujan deras yang tengah melanda. Bukan tanpa alasan mereka menumpuk dan memadati kawasan stasiun, sebab kereta api greenline tersebut mati dan tidak dapat beroperasi akibat sambaran petir yang terjadi.
Kejadian tersebut sekitar pukul 16.30 WIB, setelah sebelumnya para pengguna KRL mengaku AC serta lampu dalam gerbong mati.
“Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas gangguan operasional pada Listrik Aliran Atas di antara Stasiun Jurangmangu-Pondok Ranji sehubungan imbas tersambar petir dan saat ini dalam proses penanganan,” tulis KAI Commuter dalam akun X resminya, Senin (4/5/2026).

Imbas kejadian tersebut pengguna KRL menumpuk sepanjang stasiun terutama di Tanah Abang. Per (05/05) pukul 18.24 WIB, pihak Kereta Api Indonesia menyampaikan perjalanan KRL Rangkasbitung PP saat ini dapat menggunakan satu jalur secara bergantian. Dijelaskan juga bahwa perjalanan KRL hanya sampai Serpong. KRL greenline dapat beroperasi normal kembali sekitar jam 19.38 WIB.
Cuaca Ekstrem, Jalur Kereta Tersambar Petir
Dalam rilisnya BMKG mengingatkan bahwa intensitas sambaran petir di Indonesia bagian Barat dan Tengah memang cukup tinggi, dalam periode 27 April – 03 Mei 2026. Aktivitas paling tinggi tercatat di Kecamatan Teluk Meranti, Riau, dengan rata-rata 3.239 sambaran per minggu. Sementara itu sambaran dengan arus listrik terkuat mencapai 24,623 kA terjadi di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Lampung, menandakan adanya kejadian petir dengan intensitas sangat besar dalam periode tersebut.
Selain jumlah dan kekuatan, data BMKG juga menyoroti kerapatan sambaran petir, yaitu seberapa sering petir terjadi dalam suatu wilayah. Kecamatan Bojong Gede, Bogor, tercatat memiliki kerapatan tertinggi, yakni 132 sambaran per kilometer persegi. Artinya wilayah ini mengalami frekuensi petir yang lebih sering dibanding daerah lain. Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa aktivitas petir bervariasi antarwilayah, baik dari segi jumlah, kekuatan, maupun frekuensinya.

Untuk memantau kejadian petir secara real time, BMKG mempunyai situs khusus yaitu melalui https://www.bmkg.go.id/geofisika-potensial/petir-realtime.
Selain itu beberapa ada beberapa tips untuk menghindari diri dari sambaran petir antara lain:
- Jangan berlindung dibawah pohon
- Jauhi kolam renang, sungai atau air, karena air merupakan penghantar listrik paling kuat
- Jangan berada ditempat terbuka saat petir terjadi
- Matikan ponsel atau alat komunikasi elektronik saat berada diluar ruangan
- Jauhi tiang atau menara atau sesuatu yang tinggi disekitar kita
- Saat berteduh atur jarak dengan orang lain
Baca juga: Jurnalisme Warga di Kondisi Bencana, Pahami 4 Hal ini
Dalam beberapa kondisi seperti saat menaiki transportasi umum, selalu siapkan plan tambahan, baik pelajari rute transportasi lain maupun selalu membawa payung sebelum hujan, sehingga perjalanan nyaman dan selamat.






