Bincang Bencana Bareng Komunitas Historia Sulawesi Tengah

Kegiatan KHST sedang mendiseminasikan sejarah kebencanaan, di halaman Gereja Katolik Santa Maria Palu, 15 Februari 2019, Foto: Santi Ariska
Ekspedisi Jawadwipa

Satu kata beribu makna, seperti halnya kata “historia”. Historia berasal dari bahasa Yunani yang berarti apa yang diketahui karena penyelidikan. Historia berhubungan dengan segala macam peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Mengutip modul yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Ismaun, M.Pd dalam laman repository.ut.ac.id, menuliskan bahwa, kata history (sejarah) berasal dari kata benda dalam bahasa Yunani Kuno historia (baca: istoria) yang kurang lebih berarti “belajar” dengan cara “bertanyatanya”. Dalam penggunaannya oleh filsuf Yunani Aristoteles, historia berarti pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, tanpa mempersoalkan susunan kronologis. Hal itu masih tetap hidup dalam bahasa Inggris dalam sebutan “natural history” atau dalam bahasa Belanda “natuurlijke historie”. Menurut arti yang paling umum, kata historia berarti sesuatu yang telah terjadi.

Kata historia menjadi sebuah kata yang diabadaikan oleh sebuah komunitas pelestarian sejarah dan kebudayaan di Sulawesi Tengah. Kali ini disasterchannel.co berkesempatan berbincang dengan Komunitas Historia Sulawesi Tengah atau biasa disingkat KHST. Perbincangan kali ini dilakukan bersama Jefrianto, salah satu penggiat sejarah yang tergabung dalam KHST.

Mungkin belum banyak yang mengetahui apa itu Komunitas Historia Sulawesi Tengah. Dalam perbincangan kali ini Jefrianto menjelaskannya kepada kita semua.

Bincang Bencana Bareng Komunitas Historia Sulawesi Tengah

“Komunitas Historia Sulawesi Tengah merupakan sebuah komunitas nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian sejarah dan kebudayaan di Sulawesi Tengah” kata Jefri (04/09/2021).

“Komunitas ini didirikan pada tahun 2015 oleh sekelompok anak muda di Kota Palu yang punya cita-cita yang sama untuk membumikan dan melestarikan sejarah dan kebudayaan di Sulteng” lanjut Jefri.

Komunitas ini didirikan oleh Moh. Herianto yang saat ini menjadi koordinator, Slamat Anugrah, Amir Pakedo, Ali Pakedo, Erwin Idris, Moh Ripsah, Ridwan Daulat, Ardin Larissa dan Abdi Losulangi.

Komunitas ini gemar mengkaji segala hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan di Sulawesi Tengah. Bentuk kajian yang dilakukan didiseminasikan dengan beberapa kegiatan seperti pameran foto dan dokumen arsip sejarah, diskusi sejarah daln kegiatan lainnya. Komunitas Historia Sulawesi Tengah juga terlibat dalam beberapa proyek penulisan sejarah. Komunitas ini juga aktif dalam upaya advokasi sejarah seperti advokasi untuk pelestarian sejarah agar sejarah lokal di Sulawesi Tenggah mendapat perhatian dari pemerintah.

“Sebelum bencana 2018, lewat media diskusi KHST di laman grup media sosial Facebook, pegiat sejarah dan member grup media sosial ini rutin meng-upload informasi mengenai sejarah kebencanaan, baik yang bersumber dari tutur lisan maupun arsip seperti surat kabar dan foto” kata Jefri. 

Hal yang tidak disangka-sangka adalah ketika 28 September 2018, Komunitas Historia Sulawesi Tengah menginisiasi diskusi bertemakan ‘Sejarah Kota Palu’. Salah satu pembahasan pada diskusi tersebut adalah potensi dan risiko bencana yang ada di Kota Palu.

Sore pada hari itu seolah membuktikan sejarah yang didiskusikan memang dapat terulang, bagai mimpi buruk yang seketika menjadi nyata. Seluruh peserta diskusi kaget bukan kepalang merasakan gempa besar yang pernah tercatat dalam sejarah. 

Pria berusia 30 tahun ini tidak menyangka gempa akan datang saat diskusi sedang berjalan, ia berkata “Waktu gempa yang sore kami masih ketawa-ketawa karena ada beberapa teman yang takut dan lari. Tapi begitu main shock-nya, kami baru sadar, jika apa yang kami diskusikan jadi kenyataan.”

“Kami tidak berpikir, sejarah kebencanaan yang kami diskusikan akan benar-benar kami rasakan kemudian” Ujar Jefri. 

Pasca 28 September 2018 Komunitas Historia Sulawesi Tengah lebih gencar lagi mengkaji aspek sejarah bencana yang ada di daerahnya. 

“Kajian-kajian sejarah lokal semakin masif dilakukan, terutama terkait penamaan lokasi (toponimi) yang menggunakan penamaan lokal yang berhubungan dengan narasi kebencanaan” kata Jefri. 

Komunitas Historia Sulawesi Tengah selama melakukan kajian mengenai sejarah bencana di daerahnya telah menemukan banyak hal yang menarik. Temuan yang paling menarik adalah, jauh sebelum bencana 2018 terjadi, masyarakat Sulawesi Tengah di masa lalu sudah menandai lokasi-lokasi di sekitarnya dengan penamaan yang sesuai dengan peristiwa alam yang terjadi seperti halnya bencana dan peristiwa lainnya. Penamaan wilayah juga didasarkan pada nama vegetasi atau fauna yang ada di wilayah tersebut.  “Kearifan lokal ini yang kemudian memacu pegiat sejarah di KHST untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai penamaan ini, kemudian dikomparasikan dengan data-data arsip seperti penelitian terdahulu, serta arsip seperti surat kabar dan foto-foto” sebut Jefri.

historia
Pameran Foto dan Arsip Kebencanaan yang dilakukan oleh KHST berkerjasama AJI Kota Palu, pada 28 Desember 2018, Foto: Santi Ariska

Jefri menerangkan bahwa sebelum ada pencatatan sejarah gempa dan tsunami yang dimulai setelah kolonial masuk di Sulawesi Tengah, masyarakat lokal ternyata punya cara sendiri untuk menandai peristiwa bencana, lewat syair dan tutur lisan yang diwariskan secara turun temurun. Tutur lisan ini biasanya diberi makna kiasan misalnya cerita perkelahian belut di Danau Lindu dan anjing milik Sawerigading yang membuat gempa besar di wilayah Sigi. Cerita-cerita tersebut menggambarkan bahwa di masa lalu kemungkinan pernah terjadi gempa besar di wilayah-wilayah tersebut. 

Sementara di masa kolonial, peristiwa bencana terekam dalam laporan-laporan kolonial, berita surat kabar berbahasa Belanda dan penelitian para ahli tentang Sulawesi Tengah. Jejak awal pencatatan bencana ini hadir dari tulisan etnolog A.C. Kruyt soal gempa di Bada tahun 1902.

Berkat kajian serius yang dilakukan, beberapa pegiat sejarah yang tergabung di KHST kerap diundang dalam beberapa forum diskusi untuk memaparkan hasil kajiannya tentang sejarah kebencanaan, dilihat dari toponimi, hasil penelitian ahli terdahulu dan arsip seperti surat kabar masa kolonial.

Diseminasi mengenai sejarah Sulawesi Tengah dan sejarah kebencanaan pada khususnya selalu dilakukan oleh KHST. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan grup media sosial seperti sosial Facebook KHST. Beberapa hasil kajian juga dipublikasikan di media massa maupun laman Blog. Hal lain yang dilakukan misalnya pameran arsip sejarah kebencanaan yang menggandeng mahasiswa, juga terlibat dalam program pemerintah untuk menghimpun narasi lokal dalam sebuah buku berisi kumpulan cerita rakyat tentang kebencanaan.

Baca juga: Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883, Bincang Bencana dengan Ki Sunda Labuan

Harapan sederhana yang datang dari Komunitas Historia Sulawesi Tengah adalah upaya pengurangan risiko bencana yang ada di Sulawesi Tengah, sedapat mungkin mengakomodir aspek pengetahuan lokal. Sebab telah terbukti bahwa pengetahuan lokal masyarakat mampu menyelamatkan banyak orang. Seperti halnya pengetahuan lokal mengenal potensi dan risiko bencana di wilayah masing-masing lewat penamaan lokasi.  “Pemerintah harus melihat hal ini sebagai potensi yang perlu untuk diseriusi, agar upaya pengurangan risiko bencana yang dilakukan tidak terkesan sentralistik” kata Jefri.(Lien Sururoh)