3 Fakta Terkait Kebakaran Hutan Indonesia di Tahun 1982-1983

kebakaran hutan
Ilustrasi kebakaran hutan, Foto: Antara Foto/Nova Wahyudi
Ekspedisi Jawadwipa

Jauh sebelum kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana yang hampir selalu muncul setiap musim kemarau, siklus karhutla lebih sering muncul 8 hingga 10 tahun sekali. Jika pada periode 1998 dan 1999 merupakan karhutla terbesar maka pada periode 1982–1983 penanda awal atau awal mula siklus karhutla terdokumentasikan secara serius, akibat dampak dan kejadiannya yang begitu besar, api melahap jutaan hektare hutan di berbagai wilayah.

Peristiwa ini bukan hanya tentang luasnya hutan yang terbakar, tetapi juga menjadi titik penting yang menunjukkan bagaimana kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia dapat memperbesar risiko bencana. Kekeringan akibat fenomena El Nino membuat vegetasi hutan yang biasanya lembab menjadi mudah terbakar, sementara kondisi lahan yang luas menyebabkan api sulit dikendalikan.

Karhutla sejatinya bukan bencana kebakaran hutan pada tanah kosong dengan hilangnya pepohonan, tetapi juga ancaman terhadap keanekaragaman hayati, kualitas udara, dan keseimbangan lingkungan. Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi pelajaran penting dalam memahami mengapa kebakaran hutan dapat berubah menjadi bencana besar.

3 Fakta Terkait Kebakaran Hutan Indonesia

  1. Terjadi di berbagai wilayah, Kaltim paling parah
kebakaran hutan
Ilustrasi Kebakaran hutan, Foto: Antara Foto/Nova Wahyudi

Peristiwa kebakaran hutan besar pada periode 1982–1983 meninggalkan jejak kerusakan yang sangat luas, terutama di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Kawasan hutan tropis yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyimpan keanekaragaman hayati terbesar di Indonesia berubah menjadi hamparan lahan terbakar. Diperkirakan sekitar 3,2 juta hektare hutan dan lahan terdampak oleh kebakaran besar tersebut, menjadikannya salah satu peristiwa karhutla paling parah dalam sejarah Indonesia.

Selain Kalimantan Timur, dampak kebakaran juga tercatat terjadi di wilayah lain seperti Jayapura, menurut laporan Berita Yudha Kamis, 07 Juli 1983, sekitar 15.517 hektare lahan terbakar dan kerugian yang diperkirakan mencapai 212 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla saat itu bukan hanya persoalan hilangnya hutan, tetapi juga membawa dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang bergantung pada lingkungan sekitar.

  1. Cuaca ekstrem memperparah kebakaran: suhu meningkat, hujan menghilang
kebakaran huutan
Ilustrasi Kebakaran hutan karena cuaca ekstrem, Foto: Dok Istimewa

Salah satu faktor yang membuat Karhutla 1983 semakin sulit dikendalikan adalah perubahan kondisi cuaca yang tidak biasa. Pada saat itu, wilayah Kalimantan Timur mengalami penyimpangan pola cuaca yang cukup ekstrim. Dalam Koran Berita Yudha, 29 Maret 1983, menceritakan bahwa oetugas pencatat cuaca di Samarinda melaporkan adanya peningkatan suhu udara dan kecepatan angin yang jauh berbeda dari kondisi normal.

Suhu udara tercatat mencapai 34,6°C, sementara kecepatan angin meningkat hingga sekitar 20 knot per jam. Kombinasi udara yang lebih panas, angin yang lebih kencang, dan kondisi hutan yang mengering membuat api lebih mudah menyebar dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Kondisi ini semakin diperburuk oleh penurunan curah hujan yang sangat signifikan. Pada kondisi normal, wilayah tersebut biasanya masih mengalami hujan cukup sering pada bulan Januari dan Februari. Bahkan pada tahun-tahun sebelumnya, seperti 1981 dan 1982, hujan dapat terjadi sekitar 15 kali dengan curah hujan berkisar 100–200 mm. Namun pada awal 1983, pola tersebut berubah drastis. Bulan Januari hanya tercatat sekitar 6 kali hujan, sedangkan Februari hanya terjadi 1 kali hujan dengan curah yang sangat rendah, sekitar 3,4 mm.

Minimnya hujan membuat hutan kehilangan kelembaban alaminya. Vegetasi yang biasanya basah berubah menjadi material kering yang mudah terbakar. Kondisi ini kemudian menciptakan lingkaran masalah: kebakaran menghasilkan asap tebal, asap mempengaruhi kondisi atmosfer lokal, sementara panas dan kering membuat proses pemadaman semakin sulit dilakukan.

  1. Dipicu oleh Fenomena Alam “Mata Api Batubara” di Bawah Tanah
kebakaran hutan
Batubara, Foto: Dok. Okezone

Kebakaran hutan di Kalimantan Timur pada periode tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor di permukaan, tetapi juga oleh fenomena alam yang tersembunyi di bawah tanah, yang dikenal sebagai mata api batubara. Di wilayah tertentu, lapisan batubara dapat menyimpan bara api yang mampu bertahan dalam waktu lama, bahkan tanpa terlihat secara langsung di permukaan.

Bara api ini terkadang hanya mengeluarkan asap tipis, namun dalam kondisi tertentu dapat kembali menyala dan merambat ke vegetasi di atasnya. Proses inilah yang membuat beberapa titik kebakaran menjadi sulit dipadamkan, karena sumber apinya tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam tanah.

Baca juga: Cimahi, Mempertahankan Hutan Ditengah Arus Pembangunan

Di kawasan seperti Bukit Soeharto, antara jalur Balikpapan–Samarinda, fenomena ini menjadi salah satu ancaman serius. Api bawah tanah merambat ke wilayah hutan di sekitarnya, termasuk Desa Batuah dan Samboja, hingga menyebabkan ribuan tegakan pohon, seperti Akasia mangium, hangus terbakar.(Kori)