Throwback Erupsi Gunung Agung Tahun 1963

Ilustrasi Foto Gunung Agug Meletus Pada 1963, Foto: dok. tirto.id
Ekspedisi Jawadwipa

Pulau Dewata memiliki banyak cerita legenda, salah satunya tentang terbentuknya Selat Bali yang sedikit menceritakan soal Gunung Agung. Cerita singkatnya sebagai berikut:

Pada suatu hari di negeri yang bernama Bali, hiduplah seorang brahmana yang kuat bernama Sidi Mantramemiki anak bernama Manik Angkeran. Manik Angkeran tumbuh menjadi pemuda yang suka berjudi dan sering kalah hingga harta orang tuanya habis menjadi taruhan. Kemudian Sidi Mantra berpuasa dan berdoa dan mendapat petunjuk untuk pergi menemui Naga Besukih di kawah Gunung Agung. Sesampainya di kawah, Naga Besukih keluar, dari sisik-sisiknya keluar emas dan berlian. Manik Angkeran menerima harta dari sang ayah dan kembali kalah berjudi.

Kemudian ia pergi ke kawah Gunung Agung, dan bertemu Naga Besukih. Naga itu pun memberikannya harta, namun keserakahan mengelabui Manik, sehingga ia menebas ekor naga demi mendapat banyak harta. Ketika sang naga menjilat kaki Manik Angkeran di tanah, ia terbakar menjadi abu. Sidi Mantra kemudian memohon kepada Naga Besukih untuk menghidupkan anaknya. Akhirnya naknya bertobat, namun Sidi Mantra memutuskan memulai hidup baru dengan membuat garis pemisah yang memunculkan air hingga membuat selat Bali.

Throwback Erupsi Gunung Agung Tahun 1963

Cerita legenda Naga Besukih penghuni Gunung Agung telah usai, mari kita beralih kepada kenyataan.

Nyatanya, menurut catatan sejarah yang dilansir dari laman tirto.id mengatakan bahwa Gunung Agung dan asal muasal masyarakat Bali sering dihubungkan dengan gelombang pelarian dari Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Maharishi Markandeya pada abad ke-14 Masehi. Thomas A. Reuter dalam Custodians of the Sacred Mountains (2005) menuliskan, Markandeya membawa sekitar 800 orang pengikutnya ke Bali dan mulai membuka hutan untuk dijadikan permukiman, termasuk di lereng Gunung Agung. 

gunung agung
Foto letusan pada November 2017, Foto: sutopo/bnpb

Namun, lantaran wabah penyakit dan sebab-sebab lainnya, sebagian besar pengikut Markandeya tewas. Ia terpaksa pulang ke Jawa untuk mengumpulkan orang lagi. Setelah terkumpul sekitar 1.000 orang, eksodus gelombang kedua ke Pulau Dewata digerakkan. 

Keberadaan Gunung Agung menjadi sebuah hal vital dan keramat bagi masyarakat sejak dibangun Pura Besakih. Bahkan sebagian warga Bali percaya Gunung Agung tidak akan mencelakai mereka. Hal itu seolah menjadi nyata ketika Gunung Agung menunjukkan aktivitasnya pada tahun 1963. Pada erupsi tahun itu, Pura Besakih justru tetap tegak berdiri tanpa mengalami kerusakan berarti. Orang-orang yang masih bertahan di bangunan suci itu juga selamat. Padahal, jarak antara pusat kawah Gunung Agung dengan Pura Besakih hanya 6,5 kilometer.

Penjelasan Karna Kusumadinata, vulkanolog yang berada di Bali selama erupsi Gunung Agung, Pura Besakih dibangun di lokasi yang paling aman dari letusan lantaran kondisi alam yang justru menjadi benteng pelindungnya. Pura Besakih berada di belakang titik tertinggi Gunung Agung, sementara aktivitas vulkanik terjadi di kaldera yang bersisian dengan. 

Sangat disayangkan bahwa tidak ada catatan kronologis tentang letusan 17 Maret 1963. Erupsi pada tahun itu sudah tercirikan dengan dentuman keras terdengar pada 18 Februari 1963, disertai asap tebal yang keluar dari puncak gunung. Kemudian pada 24 Februari 1963, lahar mulai mengalir dan berlangsung terus-menerus selama beberapa pekan. 

Berdasarkan jurnal yang ditulis Zen dan Djajadi (1964), Nuees ardentes (awan pijar dari gas, abu, dan fragmen lava yang dikeluarkan dari gunung berapi sebagai bagian dari aliran piroklastik) turun pada bagian utara gunung berapi pada 24 Februari 1963. Awan letusan terus-menerus telah diamati mencapai ketinggian 5000 sampai 6000 meter. 

Letusan Gunung Agung 1963, Foto: Dok. wartakota.tribunnews.com

Letusan Gunung Agung mencapai puncak intensitas tertinggi pada pukul 05:32 tanggal 17 Maret 1963 dengan awan letusan naik ke ketinggian 10.000 meter dari kawah. Awan pijar, gas panas, abu dan lava bergerak ke arah selatan dan lereng tenggara. Aliran ini terus-menerus bergerak mencapai jarak 14 km dari puncak dan menghancurkan banyak desa dan pura. 

Masih pada tanggal yang sama, hujan pasir tebal turun hingga ke Singaradja yang berjarak 51,5 km dari puncak Gunung Agung. Jalanan Sigaradja tertutup lapisan pasir kasar setebal 30 cm. Abu jatuh hingga kota Jakarta dan Bandung yang jaraknya masing-masing sejauh 987,5 km dan 884 km dari puncak Gunung Agung. Sebagian besar kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Bondowoso, Jember bertaruh gelap gulita karena hujan abu.

Baca juga: Gunung Tampomas: Merawat Memori Lewat Dongeng

Rangkaian erupsi ini pun berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Berdasarkan laporan Badan Geologi, korban meninggal tercatat sebanyak 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka. (LS)

Sumber:

Zen, M. T., & Hadikusumo, D. (1964). Preliminary report on the 1963 eruption of Mt. Agung in Bali (Indonesia). Bulletin Volcanologique27(1), 269-299.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/08/20/dongeng-rakyat-asal-usul-selat-bali

https://tirto.id/cGiE