Gempa M 4,7, dirasakan Warga  NTT

Ilustrasi gempabumi, Foto: Dok. banjarmasin.tribunnews.com
Ekspedisi Jawadwipa

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang wilayah tenggara Larantuka pada Rabu, 8 April 2026 pukul 23.17 WIB. Berdasarkan laporan dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), pusat gempa berada di darat sekitar 22 kilometer tenggara Larantuka pada koordinat 8,43 LS dan 123,12 BT, dengan kedalaman 10 kilometer. Getaran dirasakan hingga skala III MMI di wilayah Lembata.

Intensitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terpantau mengalami peningkatan dalam periode 8 hingga 12 April 2026, ditandai dengan serangkaian kejadian dirasakan berulang di sekitar Larantuka dan sekitarnya.

Gempa M 4,7, dirasakan Warga  NTT

gempa
Rumah warga yang hancur akibat gempa, Foto: Antara

Pada 9 April 2026, terjadi beberapa getaran susulan dengan magnitudo bervariasi mulai dari 2,7 hingga 3,8 dengan kedalaman dangkal 3–7 km, yang dirasakan hingga skala II–III MMI di wilayah Lembata dan Flores Timur. Aktivitas ini berlanjut pada 10 dan 11 April dengan kekuatan bermagnitudo 2,5 hingga 3,8 yang masih berpusat di sekitar tenggara Larantuka, menunjukkan bahwa terjadi pola gempa swarm atau rangkaian gempa kecil yang terjadi beruntun. 

Dan pada 12 April 2026, getaran berkekuatan magnitudo 4,3 terjadi di wilayah barat Wanokaka dan dirasakan hingga skala II–III MMI di Sumba Timur. Dari pola-pola kegempaan ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas tektonik lokal yang perlu diwaspadai, selain dari titik-titik getaran yang dapat dirasakan di atas, BMKG juga mencatat 48 kejadian susulan lain yang terjadi pada periode tersebut.

Dalam geoportal data BNPB, tercatat setidaknya ada 18 orang terluka karena kejadian di 8 April lalu, kejadian tersebut juga memicu kerusakan rumah di berbagai wilayah di NTT, setidaknya ada sebanyak 1.131 orang yang mengungsi akibat gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Dokumentasi lapangan yang dilampirkan oleh geoportal data BNPB, rumah warga di Adonara Timur mengalami kerusakan cukup parah. Bagian dinding rumah yang terbuat dari bata mengalami runtuhan hingga berserakan di halaman, sementara struktur atap tampak miring dan sebagian penyangga kayu bergeser dari posisi semula. Di bagian dalam rumah, terlihat retakan besar membelah dinding hingga menembus dari atas ke bawah, seperti ada tekanan kuat akibat getaran ini. Meski tidak seluruh bangunan roboh, kondisi rumah dinilai tidak lagi aman untuk ditempati karena potensi keruntuhan lanjutan masih tinggi, terutama jika terjadi getaran susulan.

“BPBD telah mendirikan tenda pengungsi dan tenda keluarga di sejumlah titik yang mudah dijangkau masyarakat serta dipastikan berada di lokasi aman dari potensi gempa susulan maupun ancaman bencana lainnya,” ujar Abdul Muhari (Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB), dikutip dari Antara.

gempa
Foto tembok rumah yang hancur akibat gempa di NTT, Foto: Dok. suarakarya.id

Ia juga menjelaskan, tenda pengungsi berukuran 6×12 meter, tidak hanya difungsikan sebagai tempat penampungan sementara, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan dan posko darurat. Meski demikian, hingga kini belum terdapat lokasi pengungsian yang terpusat.

Baca juga: Tanah yang Tak Pernah Diam: Menelusuri Jejak Tektonik dan Suara Purba Sulawesi Utara

Sebagian besar warga terdampak memilih mendirikan tenda secara mandiri di sekitar rumah, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat. Pada malam hari, warga lebih memilih bertahan di tenda dekat hunian demi alasan keamanan, mengingat gempa susulan masih terus terjadi.(Kori)