Kebakaran besar melanda kawasan rumah apung Kampung Bahagia, Sandakan, Sabah, Malaysia pada Minggu (19/04/2026). Dari sejumlah video yang beredar, terlihat api dengan cepat melalap permukiman padat yang rumah-rumahnya berdempetan di atas perairan. Tercatat sekitar 1.000 dari total 1.200 rumah hangus terbakar dalam peristiwa tersebut.
Sedikitnya 9.007 penduduk terdampak, terdiri dari warga Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Material bangunan yang mayoritas berbahan kayu serta kepadatan permukiman mempercepat penyebaran api di area seluas kurang lebih empat hektare itu.
Malaysia, Ratusan Rumah Terbakar di Nagari Sabah

Sekretariat Komite Penanggulangan Bencana Negara Bagian Sabah (JPBN) melaporkan bahwa para korban kini ditampung di sejumlah lokasi pengungsian, antara lain Aula Program Perumahan Rakyat Batu Sapi, Aula Sekolah Nasional Gas, Aula SK Kampung Bahagia, Sekolah Menengah Nasional (SMK) Batu Sapi, Aula Sibuga, serta SK Karamunting yang telah dibuka sejak Minggu lalu.
Ketua Kampung Bahagia, Sharif Hashim Sharif Titing, menegaskan bahwa kebakaran ini bukanlah yang pertama terjadi di wilayah tersebut. Ia menyebutkan, insiden serupa pernah terjadi pada tahun 1994 dan 2001. Namun demikian, kebakaran kali ini merupakan yang paling parah, dengan sekitar 90 persen rumah warga musnah, menyebabkan hampir seluruh penduduk kehilangan tempat tinggal.
“Kementerian Luar Negeri melalui KJRI Kota Kinabalu dan Direktorat Perlindungan WNI terus memonitor perkembangan serta melakukan pendampingan dalam penanganan insiden kebakaran di Sandakan, Sabah, Malaysia,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Selain warga Malaysia, sebagian besar penghuni kawasan terdampak diketahui merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menikah dengan warga setempat, serta warga Filipina. Namun, jumlah pasti WNI yang terdampak masih dalam proses pendataan.
Baca juga: Fenomena Badai Debu, Jadikan Langit Merah Di Belahan Dunia
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Kementerian Luar Negeri RI bersama KJRI Kota Kinabalu terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas setempat guna memperoleh data akurat terkait WNI terdampak, sekaligus memastikan penanganan pengungsi dan distribusi bantuan berjalan dengan optimal.(Kori)






