Erupsi Krakatau, Fenomena Telor Ceplok Selepas Kejadian

Fenomena telor ceplok di Gunung Anak Krakatau, Foto: Tribun Lampung
Ekspedisi Jawadwipa

Setelah peristiwa besar yang mengguncang bumi seperti: banjir bandang, kebakaran, erupsi gunung, gempa dan sebagainya seringkali menyisakan fenomena unik yang memukau mata manusia.

Belakangan ini media sosial gempar dengan kemunculan “telur ceplok” yaitu rupa dari kawah anak krakatau yang menyerupai bentuk telur ceplok, setelah sebelumnya gunung ini aktif erupsi sejak (05/09) lalu yang kemudian memuntahkan abunya hingga mencapai kawasan Kota Jakarta.

Fenomena Telor Ceplok Selepas Erupsi Krakatau

erupsi
Ilustrasi fenomena telor ceplok, Foto: Instagram/wxchasing

Kemunculan telor ceplok ini awalnya diunggah oleh instagram @wxchasing yang menunjukan pantauan dari ketinggian, kawah yang berbentuk bulat putih kemudian tengahnya kuning, nampak persis seperti telur ceplok, selain itu sekitar gunung anak krakatau juga terlihat asap panas yang mengepul dari tiap-tiap sela bebatuan, letak gunung berapi yang langsung berada di tengah selat sunda juga nampak berpengaruh pada kondisi laut di dekatnya yang juga terlihat uap panas.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), mengatakan fenomena yang tampak seperti telur ceplok di kawah Gunung Anak Krakatau berkaitan dengan proses vulkanik dan hidrotermal di dalam kawah. Penampakan tersebut terbentuk dari pertemuan antara air yang terkumpul di dasar kawah dengan gas vulkanik serta batuan dan mineral yang telah mengalami alterasi hidrotermal.

Warna kuning pada bagian tengah diduga berasal dari sulfur atau belerang dan mineral yang terbentuk maupun terlarut selama aktivitas vulkanik. Sementara warna putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami perubahan akibat kontak dengan fluida dan gas bersuhu tinggi. Genangan air berada di bagian paling rendah kawah, sedangkan proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara tampak menyerupai telur ceplok.

erupsi
Ilustrasi fenomena telor ceplok setelah erupsi di Gunung Anak Krakatau, Foto: Instagram/wxchasing

“Saya menyebutnya sebagai genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, batuan (acid-sulfate alteration). Fenomena ini dapat muncul atau berubah setelah episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah mengalami perubahan,” ujar Daryono dikutip dari Kompas.com

Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berstatus Level III (Siaga) pada Senin, 21 September 2026. Dalam pemantauan pukul 00.00–06.00 WIB, gunung api tersebut tertutup kabut sehingga asap kawah tidak terlihat. 

Baca juga: Masyarakat Pulau Sebesi Waspada, Pulau Terdekat Gunung Krakatau

Cuaca di sekitar gunung berawan dengan angin lemah menuju barat laut, suhu berkisar 26–27 derajat Celcius dan kelembaban 80–84 persen. Aktivitas kegempaan juga masih tercatat, dengan satu kali gempa Tremor Menerus beramplitudo 1–6 mm dan dominan 2 mm. Dengan kondisi tersebut, masyarakat maupun wisatawan yang ingin beraktivitas di sekitar Anak Krakatau perlu menjaga jarak karena PVMBG merekomendasikan agar tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.(Kori)