Dalam pemutaran film kompetisi festival film seabad pram yang diadakan pada 10-12 Juli 2026, memutar sebuah film menarik yang berjudul Negana, disutradarai oleh perempuan muda Palu, Vania Qanita Damayanti. Berkisah tentang kehidupan perempuan muda dalam kondisi kehidupan di tengah rumah huntara (hunian sementara) pasca bencana gempa besar Palu pada 2018.
Film ini dimulai dari kisah Gana seorang perempuan berusia 14 tahun yang hendak dinikahkan dengan duda 40 tahun, ia mencoba kabur melarikan diri namun selalu gagal karena tiap malam didatangi gempa-gempa susulan.
Film Negana: Kisah Pilu Perempuan Muda Palu

Berlatar tempat di rumah-rumah huntara dengan latar waktu setahun setelah gempa bumi, membuat karya ini terlihat magis sebab pasca bencana besar yang terjadi, masyarakat Palu bukan hanya dihantui oleh gempa-gempa susulan namun juga masalah sosial yang muncul: kemiskinan hingga berujung pada kawin paksa yang hendak dilakukan kedua orang tua.
“Suasana rumah-rumah huntara juga tidak ada ruang aman, tidak ada sekat, bahkan setelah bencana pergi, saya menggambarkan lewat suara-suara orang yang melakukan senggama yang bisa didengar siapapun, karena di huntara sama sekali tidak ada sekat” ujar Vania dalam sesi tanya jawab, Setiabudi (11/07).
Kekerasan berbasis gender di situasi memang kerap kali meningkat saat bencana dibandingkan dengan situasi normal, sebab suasana kacau saat bencana membuat penyintas merasa tidak aman akan kelangsungan hidup dan hubungan serta tidak adanya kepastian ekonomi, kemudian melakukan pembenaran akan hal negatif.
KDRT juga banyak terjadi di situasi pasca bencana. Menurut laporan UNFPA (2019), korban bencana Palu-Sigi Donggala sebanyak 14% responden survei perempuan dewasa mengaku mengalami KDRT. Peristiwa tersebut dilandaskan oleh banyak hal, contohnya suami yang menganggap istri tidak setia, mencurigai istri sering pergi dan tidak patuh, dan menolak untuk melakukan hubungan seksual.
Termasuk dialami oleh bibi dari Gana sang pemeran utama, ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tiap hari luka menghiasi wajah dan tubuhnya. Kondisi kerentanan yang sama membuat Gana dan bibinya bersama-sama saling menguatkan.

Nasib Gana yang dipaksa menikah juga mengungkap, praktik relasi kuasa yang kuat oleh seorang duda pemilik tanah yang dipercayai orang tua Gana mampu mengentas kemiskinan dengan menjanjikan sebidang tanah untuk ditanami.
Film ini juga bukan hanya menyajikan kisah pilu Gana, namun juga perjuangan seorang perempuan untuk dapat hidup dengan pilihannya. Dengan visual huntara yang sangat sesak serta kerinduan akan kebebasan yang divisualisasikan melalui hamparan pantai, dalam karya ini menghadirkan kontras yang kuat antara keterbatasan dan harapan. Lagu-lagu berbahasa Kaili yang mengiringi beberapa adegan turut memperkuat nuansa lokal sekaligus menghadirkan kedekatan emosional dengan kehidupan masyarakat Palu.
Baca juga: Potret Bencana dalam Layar, Evolusi Film Bencana dari Masa ke Masa
Film berdurasi 24 menit ini menjadi salah satu pemenang dalam festival film seabad pram karena dinilai dapat dengan jelas memposisikan ketidakadilan yang berwujud sebagai kekerasan terhadap perempuan dan juga membawa semangat serta pengalaman Pramoedya Ananta Toer yang disuguhkan melalui film.(Kori)






