Indonesia memiliki banyak warisan arsitektur tradisional serta rumah adat yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat menghadapi alam. Salah satu contohnya adalah rumah adat Nias yang telah lama dikenal sebagai bangunan tahan gempa. Kemampuannya bukanlah hasil teknologi modern, melainkan buah dari pengetahuan lokal yang diwariskan selama ratusan tahun. Ketika gempa besar mengguncang Pulau Nias pada tahun 2005, banyak rumah adat masih tetap berdiri, yang membuktikan bahwa kearifan lokal mampu melahirkan teknologi bangunan yang efektif menghadapi bencana.
Pulau Nias berada di lepas pantai barat Sumatera, tepat di kawasan pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Wilayah ini termasuk salah satu zona tektonik paling aktif di Indonesia sehingga gempa bumi menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Berbeda dengan daerah vulkanik, Nias tidak memiliki gunung api, tetapi tanahnya terus mengalami guncangan akibat aktivitas patahan dan subduksi. Kondisi geografis inilah yang mendorong masyarakat Nias mengembangkan bentuk rumah yang mampu beradaptasi dengan pergerakan tanah.
Rumah Adat Nias “Omo Hada” Fleksibel dan Tahan Gempa

Secara umum, arsitek tradisional Nias membangun rumah diatas perbukitan sekaligus merancang struktur yang lentur. Dalam tradisi masyarakat Ono Niha terdapat ungkapan, “Andrö wa so gehomo, andrö wa so ndriwa, tendrora afu lö aso’a,” yang menggambarkan kebanggaan terhadap rumah adat yang mampu bertahan menghadapi gempa. Bagi masyarakat Nias, membangun rumah bukan sekadar mendirikan tempat tinggal, tetapi juga bentuk kesiapsiagaan terhadap ancaman alam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Viaro (2006), rumah tradisional Nias terbagi menjadi tiga tipe berdasarkan bentuk atap dan denahnya, yaitu Nias Utara, Nias Tengah, dan Nias Selatan. Rumah Nias Utara memiliki denah oval dengan atap melengkung, sedangkan rumah Nias Selatan berbentuk persegi dengan atap yang lebih bersudut. Dalam istilah lokal, rumah Nias Utara dikenal sebagai moco, sementara rumah Nias Selatan disebut gomo. Meskipun bentuknya berbeda, keduanya menerapkan prinsip konstruksi yang sama, yaitu menghasilkan bangunan yang kuat sekaligus fleksibel terhadap guncangan.
Rumah adat Nias juga memiliki fungsi sosial yang beragam. Omo Hada merupakan rumah tinggal yang menjadi bentuk hunian paling umum. Sementara Omo Sebua atau Omo Ni’olasara biasanya merupakan rumah bangsawan atau kepala adat dengan ukuran lebih besar dan struktur yang lebih megah. Selain itu terdapat Omo Arö Gosali sebagai balai musyawarah masyarakat dan Omo Niha Sigölötö sebagai rumah rakyat biasa. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa rumah adat bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari sistem sosial dan pemerintahan tradisional masyarakat Nias.
Rahasia ketahanan rumah adat Nias terletak pada sistem strukturnya. Bangunan menggunakan konsep rumah panggung dengan tiang-tiang kayu besar yang berdiri di atas batu umpak. Batu tersebut tidak diikat secara permanen sehingga memungkinkan bangunan bergerak mengikuti getaran tanah tanpa langsung mengalami kerusakan. Sistem ini membuat energi gempa tidak sepenuhnya diteruskan ke seluruh struktur bangunan.
Pada rumah adat Nias Utara (Omo Hada Moro), rangka bawah diperkuat oleh balok diagonal yang membentuk huruf X, sedangkan pada rumah adat Nias Selatan (Omo Hada Gomo) digunakan balok diagonal berbentuk V. Balok-balok pengaku tersebut kemudian diperkuat dengan tumpukan kayu atau batu sebagai pemberat sehingga struktur menjadi lebih stabil. Kombinasi tiang utama, balok pengikat, dan sistem pengaku silang membuat rumah mampu menahan gaya horizontal ketika terjadi gempa.
Keunggulan lainnya adalah penggunaan sambungan kayu tanpa paku. Seluruh elemen struktur disatukan menggunakan sistem pasak dan ikatan kayu. Teknik ini membuat hubungan antarbagian bangunan tidak bersifat kaku. Ketika gempa terjadi, sambungan dapat bergerak secara terbatas untuk menyerap energi getaran, kemudian kembali ke posisi semula setelah guncangan mereda. Fleksibilitas inilah yang membedakan rumah adat Nias dari bangunan modern yang terlalu kaku sehingga lebih rentan mengalami keruntuhan apabila menerima gaya gempa yang besar.
Pengetahuan tersebut juga berkaitan erat dengan cara pandang masyarakat Nias terhadap alam. Dalam kosmologi Ono Niha dikenal kepercayaan mengenai dunia atas yang dipimpin Lowalangi dan dunia bawah yang dijaga Lature Danö. Gempa dipercaya terjadi ketika Lature Danö menggoyangkan bumi karena lelah menopangnya. Saat gempa berlangsung, sebagian masyarakat mengucapkan, “Biha tuha” yang berarti “masih kuat sesembahan kami”, sebagai ungkapan harapan agar bumi kembali tenang. Terlepas dari makna mitologisnya, kepercayaan tersebut membentuk kesadaran kolektif bahwa gempa merupakan bagian dari kehidupan sehingga manusia harus belajar hidup berdampingan dengannya.

Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan konsep rekayasa bangunan modern. Bangunan yang memiliki tingkat fleksibilitas tinggi umumnya lebih mampu menyerap dan mendistribusikan energi gempa dibandingkan struktur yang sangat kaku. Sehingga rumah adat Nias sering dijadikan contoh bagaimana arsitektur tradisional mampu menerapkan prinsip ketahanan gempa jauh sebelum ilmu teknik sipil berkembang seperti sekarang.
Baca juga: Tri Hita Karana, Bali Tidak Boleh Punya Bangunan Lebih dari Pohon Kelapa
Rumah adat Nias membuktikan bahwa mitigasi bencana tidak selalu lahir dari teknologi canggih. Melalui pengalaman panjang menghadapi gempa, masyarakat berhasil menciptakan bangunan yang kuat, lentur, dan selaras dengan kondisi alam tempat mereka hidup. Di tengah meningkatnya risiko bencana di Indonesia, warisan arsitektur ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal merupakan sumber pengetahuan yang layak dipelajari dan dikembangkan sebagai inspirasi pembangunan yang lebih tangguh terhadap gempa. (Kori)
Referensi
- Ave, H. Kearifan lokal masyarakat adat di Indonesia dalam beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Pascasarjana Arsitektur Lingkungan Binaan, Universitas Brawijaya.
- Prasetyo, F. A. (tahun). Manufacturing genius loci of Indigenous Nias architecture. School of Architecture, Planning and Policy Development, Institut Teknologi Bandung.
- Zebua, W., Lase, C. A., Mendrofa, E. F., & Zebua, D. (2026). Analisis jenis struktur rumah tinggal di Nias. IDENTIK: Jurnal Ilmu Ekonomi, Pendidikan dan Teknik, 3(2).






