Mengenal SILC: Tabungan untuk Bencana

Ilustrasi Tabungan, Foto: Dok. Pixabay
Ekspedisi Jawadwipa

Ketika mendengar kata tabungan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan uang yang disimpan untuk biaya sekolah, modal usaha, atau kebutuhan sehari-hari. Namun, bagaimana jika tabungan juga bisa menjadi salah satu cara menghadapi bencana?

Gagasan inilah yang menjadi dasar Saving Internal Lending Community (SILC), sebuah kelompok simpan pinjam berbasis masyarakat yang dikembangkan Catholic Relief Services (CRS). Berbeda dengan lembaga keuangan formal, SILC dibangun dari, oleh, dan untuk masyarakat. Setiap anggota menabung sesuai kemampuan, mengelola dana secara bersama, dan saling membantu ketika ada anggota yang membutuhkan.

Mengenal SILC: Tabungan untuk Bencana

tabungan
Ilustrasi kegiatan SILC, Foto: Dok. witness.tempo.co

Di Kelurahan Nanggewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, pendekatan ini mulai diperkenalkan melalui Program USAID-KUAT (Komunitas Perkotaan untuk Aksi Tangguh) yang dijalankan CRS Indonesia bersama Yayasan Skala Indonesia. Program ini melihat bahwa ketangguhan masyarakat terhadap bencana tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur atau sistem peringatan dini, tetapi juga oleh kemampuan keluarga mengelola kondisi ekonomi ketika menghadapi situasi darurat.

Wilayah perkotaan memiliki tantangan yang berbeda dengan pedesaan. Kepadatan penduduk, tingginya biaya hidup, serta ketergantungan pada penghasilan harian membuat banyak keluarga lebih rentan ketika terjadi gangguan, baik akibat bencana alam maupun krisis ekonomi. Banjir yang menghambat aktivitas, kebakaran permukiman, cuaca ekstrem, hingga anggota keluarga yang tiba-tiba sakit dapat mengganggu penghasilan dan menguras tabungan dalam waktu singkat.

Dalam kondisi seperti itu, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya bergantung pada pinjaman berbunga tinggi atau bantuan dari kerabat. Padahal, jika komunitas memiliki mekanisme saling membantu yang dibangun sejak sebelum bencana terjadi, proses pemulihan akan menjadi lebih cepat dan mandiri.

Melalui SILC, warga diajak membangun mekanisme tersebut secara sederhana. Anggota kelompok menyisihkan sebagian kecil penghasilannya dalam setiap pertemuan rutin. Nominalnya tidak harus besar. Di kelompok SILC Demplon RT 03 RW 03 Kelurahan Nanggewer, misalnya, anggota menabung mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000 setiap minggu. Nilai tersebut memang tampak kecil, tetapi ketika dilakukan secara konsisten oleh seluruh anggota, dana yang terkumpul dapat menjadi sumber pembiayaan yang bermanfaat bagi komunitas.

Setiap kelompok SILC biasanya beranggotakan sekitar 15 hingga 25 orang yang tinggal berdekatan. Kedekatan ini bukan tanpa alasan. Hubungan sosial yang telah terbangun sebelumnya menjadi modal penting untuk menciptakan rasa saling percaya, yang merupakan pondasi utama dalam pengelolaan dana bersama.

Di Nanggewer, kelompok Demplon resmi dibentuk pada 1 Juni 2024. Pengurus dipilih secara demokratis oleh anggota, mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, penghitung uang, hingga tiga orang pemegang kunci kotak penyimpanan dana. Mekanisme ini dirancang agar tidak ada satu orang pun yang memiliki kendali penuh terhadap uang kelompok. Seluruh proses dilakukan secara terbuka dan dapat dipantau oleh seluruh anggota.

Setiap hari Minggu sore, anggota berkumpul untuk melakukan pertemuan rutin. Selain menyetorkan tabungan, mereka juga mencatat transaksi, membahas pinjaman yang diajukan anggota, serta mengevaluasi jalannya kelompok. Pertemuan ini bukan sekadar urusan administrasi keuangan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarwarga yang mungkin selama ini jarang berinteraksi karena kesibukan masing-masing.

SILC juga memiliki dana darurat yang dikumpulkan secara terpisah dari tabungan. Dana ini dapat digunakan ketika anggota mengalami musibah, seperti sakit, kecelakaan, atau terdampak bencana. Bahkan, kelompok juga memiliki dana infaq dan sedekah yang dapat diberikan kepada anggota yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Dengan mekanisme tersebut, SILC tidak hanya mengajarkan kebiasaan menabung, tetapi juga membangun sistem perlindungan sosial berbasis komunitas. Ketika satu anggota mengalami kesulitan, kelompok memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa harus menunggu bantuan dari luar.

tabungan
Ilustrasi SILC, Foto: Dok. crs.org

Hal lain yang menjadi ciri SILC adalah adanya aturan atau konstitusi yang disusun bersama oleh anggota. Aturan tersebut mengatur berbagai hal, mulai dari besaran tabungan, syarat peminjaman, tata cara pengembalian pinjaman, hingga mekanisme pergantian pengurus. Karena disusun secara partisipatif, setiap anggota memiliki rasa memiliki terhadap kelompok sekaligus bertanggung jawab menjalankan kesepakatan yang telah dibuat.

Di kelompok Demplon, misalnya, anggota hanya dapat memiliki satu pinjaman dalam satu waktu. Nilai pinjaman maksimal dua kali jumlah tabungan yang dimiliki dan harus dilunasi dalam jangka waktu tiga bulan. Bila terjadi keterlambatan, penyelesaiannya dilakukan melalui musyawarah sesuai aturan yang telah disepakati bersama. Pendekatan ini membuat kelompok tidak hanya belajar mengelola uang, tetapi juga belajar membangun disiplin, transparansi, dan kepercayaan.

Yang menarik, seluruh sistem dijalankan dengan prinsip syariah. Tidak ada bunga dalam pengembalian tabungan, sementara hasil pengelolaan dana dibagikan kepada anggota pada akhir siklus sesuai ketentuan kelompok. Siklus SILC berlangsung selama sembilan hingga dua belas bulan sebelum dilakukan pembagian hasil dan memulai siklus baru.

SILC bukan sekadar program ekonomi. Kelompok ini merupakan bagian dari strategi membangun ketangguhan masyarakat perkotaan. Ketika keluarga memiliki tabungan, akses terhadap dana darurat, dan komunitas yang saling mendukung, dampak bencana dapat ditekan karena masyarakat memiliki kemampuan untuk bertahan dan pulih lebih cepat.

Di tengah perubahan iklim yang membuat kejadian cuaca ekstrem makin sering terjadi, pendekatan seperti SILC menjadi semakin relevan. Ketangguhan ternyata tidak selalu dimulai dari investasi besar atau teknologi yang rumit. Ia juga bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: menyisihkan sebagian kecil penghasilan, bertemu secara rutin, saling percaya, dan saling membantu.

Baca juga: Belajar Ketahanan Pangan Kota, 4 Tempat Ini Wajib Kamu Kunjungi!

Dari sebuah pertemuan mingguan di lingkungan RT, SILC memperlihatkan bahwa ketahanan bencana bukan hanya soal bagaimana masyarakat merespons ketika bencana datang. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana komunitas mempersiapkan diri jauh sebelum bencana terjadi. Di situlah nilai utama SILC mengubah kebiasaan menabung menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi masa-masa sulit, sekaligus menjaga semangat gotong royong tetap hidup di tengah dinamika kehidupan perkotaan.(Kori)