3 Fakta Letusan Hayli Gubbi

Letusan Gunung Berapi hayli Gubbi, Foto: AP/Biro Komunikasi Pemerintahan Afar
Ekspedisi Jawadwipa

Baru-baru ini, dunia digegerkan oleh munculnya kembali salah satu gunung berapi yang sudah lama dianggap tenang: Gunung Hayli Gubbi adalah gunung berapi paling selatan di Pegunungan Erta Ale, Ethiopia. Minggu, 23/11/2025 mengeluarkan gumpalan abu besar pada 08.30 waktu setempat. Hayli Gubbi, di Ethiopia  adalah sebuah peristiwa alam langka yang menjelaskan bahwa bahkan gunung yang terlihat tertidur pun bisa kembali beraktivitas kapan saja. Berikut beberapa fakta

3 Fakta Letusan Hayli Gubbi

hayli gubbi
Ilustrasi Letusan Gunung api, Foto: Dok. twocontinents.com
  1. Berada di Kawasan Gunung Aktif Dunia

Hayli Gubbi berada di jajaran Erta Ale, rangkaian gunung berapi yang sebagian besar berbentuk perisai yang terletak di sebuah kawasan vulkanik yang terbentuk sebagai bagian dari zona tektonik aktif di East African Rift. 

Dibanding dengan Gunung Erta Ale yang sangat aktif, Hayli Gubbi adalah gunung api yang senyap, tidak ada catatan letusan yang terjadi sepanjang sejarah geologi modern (zaman holosen) atau sekitar 12.000 tahun yang lalu. Gunung dengan ketinggian 1.617 kaki ini merupakan gunung kecil berbentuk kerucut yang sangat simetris, dengan kawah selebar sekitar 200 meter di puncaknya. Di dalam kawah ini masih terlihat aktivitas asap panas (fumarol), tanda bahwa bagian dalamnya masih panas.

Berada di zona tektonik serta di dekat gunung aktif dunia, tidak menutup kemungkinan gunung Hayli Gubbi terdapat pergerakan.

Pada bulan Juli, gunung berapi aktif lain di dekatnya, Erta Ale, meletus dengan hujan abu. Pada saat yang sama, data satelit mengungkapkan pergerakan tanah yang menunjukkan bahwa intrusi magma dari Erta Ale telah mendorong lebih dari 18 mil di bawah permukaan, di bawah Hayli Gubbi dan sekitarnya. Juliet Biggs, seorang ilmuwan bumi di Universitas Bristol di Inggris mencatat terkait awan putih tebal di puncaknya, dan permukaan tanah di gunung berapi tersebut yang telah naik beberapa sentimeter.

  1. Telah Tertidur Selama Ribuan Tahun

Letusan yang terjadi pada 23/11 cukup mengagetkan sebetulnya, sebab tidak ada catatan letusan gunung ini dalam sejarah modern, zaman holosen. Diperkirakan gunung ini telah tertidur selama 12.000 tahun lamanya. 

Dikutip dari Volcano Discovery, letusan ini mengarah ke sekitar 15 km di sebelah tenggara gunung berapi Erta Ale yang terkenal aktif, meletus secara eksplosif, menghasilkan gumpalan abu besar yang melambung hingga sekitar 10-15 km dan melayang di atas sebagian Jazirah Arab barat daya. Data satelit juga menunjukkan gumpalan sulfur dioksida (SO2) yang signifikan yang dilepaskan oleh letusan tersebut.

Menurut laporan berita, penduduk juga mendengar suara keras dan merasakan gelombang kejut; sebuah ledakan terdengar 50 km dari Semera (190 km selatan Hayli Gubbi). Kolom abu dengan cepat naik hingga 13,7 km (45.000 kaki) di atas permukaan laut, kemudian mencapai setinggi 15,2 km (50.000 kaki) di atas permukaan laut. Sekitar pukul 14.00, data satelit menunjukkan bahwa kolom abu menyebar ke troposfer atas dan mengandung sekitar 220.000 ton sulfur dioksida. Dalam citra satelit menunjukkan kolom abu yang lebih tinggi melayang ke arah Timur Laut. Citra-citra itu juga menunjukkan awan material piroklastik di ketinggian yang lebih rendah bergerak ke Utara sekitar 130 km dan menyebar sekitar 60 km secara lateral.

  1. Berdampak ke Penerbangan

Menurut Pusat Penasihat Abu Vulkanik Toulouse (VAAC) di Prancis, tidak ada korban jiwa dari letusan tersebut, letusan ini hanya mengirimkan awan abu ke Yaman, Oman, India, dan Pakistan utara.

“Meskipun belum ada korban jiwa dan ternak yang hilang sejauh ini, banyak desa yang tertutup abu, dan akibatnya, ternak mereka tidak punya banyak makanan,” ujar Mohammed Seid, seorang pejabat setempat dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera.

hayli gubbi
Ilustrasi Hayli Gubbi, Foto: Dok. X

Beberapa penerbangan dari dan menuju Hyderabad dibatalkan pada hari Selasa (25 November 2025) setelah otoritas penerbangan memperingatkan kemungkinan pergerakan awan abu menuju India bagian barat menyusul letusan gunung berapi Hayli Gubbi di Ethiopia. Gangguan tersebut mendorong Bandara Internasional Rajiv Gandhi (RGIA) untuk mengeluarkan himbauan kepada penumpang.

Baca juga: 3 Fenomena Hidrometeorologi Pasca Terjadinya Bencana di Sumatera

Tidak banyak detail lain tentang peristiwa letusan yang terjadi, karena wilayah tersebut jauh dari pusat permukiman dan sulit diakses, menurut Smithsonian Institution sumber informasi utama adalah data dari satelit.(Kori)