Bencana hidrometeorologi yang terjadi di sebagian Pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara) pada 27 November 2025 menjadi bencana yang memukul telak masyarakat Indonesia, sebab bencana hidrometeorologi yang harusnya dapat lebih dapat diprediksi namun kini bagai kilat yang menyambar dengan cepat sehingga ratusan korban nyawa menghilang.
Terupdate menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) ada 1.204 korban meninggal dan 104 lainnya masih dalam kondisi hilang akibat dari bencana hidrometeorologi ini. Setelah lebih dari dua bulan, kini situasi sudah menuju tahap pemulihan, meninggalkan masa tanggap darurat, yang artinya masyarakat harus menata kembali kehidupannya; menjalankan roda perekonomian dan melakukan aktivitas keseharian, di tengah tempat hidup yang kini sedang diupayakan untuk dibangun kembali.
Seperti manusia yang berupaya bangkit, alam pun mencoba memulihkan diri setelah sebelumnya. Namun proses pemulihan itu terjadi di atas jejak kerusakan hutan Sumatera yang selama bertahun-tahun dibiarkan menumpuk.
Dalam rentang 2016–2025, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat sekitar 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah terdeforestasi akibat berbagai aktivitas, mulai dari alih fungsi menjadi perkebunan sawit, pembangunan PLTA dan PLTM, hingga proyek geothermal dan kepentingan ekstraktif lainnya.
Menyusutnya daya dukung lingkungan membuat alam kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan dan mengatur air. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, banjir tak lagi sekadar limpasan air, melainkan datang sebagai arus yang membawa lumpur, kayu, bebatuan, dan sisa-sisa bentang alam yang runtuh.
3 Fenomena Hidrometeorologi Pasca Terjadinya Bencana di Sumatera
Pasca-banjir, Sumatera menyisakan fenomena alam sisa bencana hidrometeorologi yang lebih dari sekadar genangan lumpur dan luluh lantah tanah akibat bencana banjir bandang. Tapi juga beberapa fenomena alam yang membuat takjub sekaligus memicu beberapa kekhawatiran, berikut tiga fenomena alam yang terjadi pasca bencana hidrometeorologis di Pulau Sumatera:
- Air Jernih di Sungai Ombilin

Beberapa video yang beredar di masyarakat menampilkan aliran Sungai Ombilin tampak biru jernih kehijauan limpahan dari Danau Singkarak. Fenomena air Sungai Ombilin dan Danau Singkarak yang tampak jernih setelah banjir bandang 2025 dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme ilmiah.
Menurut artikel yang diterbitkan oleh UNESA (Universitas Negeri Surabaya) beberapa faktor ini adalah: Pertama, pembukaan pintu air bendungan memungkinkan air dari lapisan bawah danau yang lebih dingin dan relatif minim sedimen mengalir keluar, sehingga aliran terlihat lebih bersih untuk sementara. Kedua, arus banjir yang kuat memicu pemilahan sedimen; material besar terbawa arus, sementara sebagian partikel halus mengendap di titik tertentu sehingga konsentrasi sedimen tersuspensi berkurang dan air tampak jernih.
Ketiga, perubahan komposisi kimia air juga berperan. Berkurangnya bahan organik terlarut seperti asam humat dan fulvat dapat mengurangi warna kecoklatan, membuat air terlihat lebih kebiruan. Keempat, faktor sosial turut mempengaruhi persepsi, karena permukaan air yang bergerak cepat dapat memantulkan langit biru sehingga foto atau video memberi kesan sangat jernih, meskipun kondisi sebenarnya belum tentu sepenuhnya bersih
- Sinkhole Sumatera BaratÂ

Fenomena sinkhole yang muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menjadi perhatian publik setelah bencana banjir bandang dan longsor pada akhir 2025. Lubang besar sedalam sekitar tujuh meter dengan diameter sepuluh meter ini terbentuk secara tiba-tiba di area persawahan warga dan langsung menarik kerumunan masyarakat karena di dalamnya terlihat air jernih berwarna kebiruan.
Secara geologis, sinkhole tersebut termasuk tipe cover-collapse, yakni runtuhan lapisan tanah penutup di atas rongga batu gamping. Curah hujan ekstrim diduga mempercepat proses pelepasan butiran tanah di bawah permukaan (ravelling) serta pengikisan material halus oleh aliran air bawah tanah (piping), hingga akhirnya tanah tidak lagi mampu menahan beban dan ambles mendadak
Airnya yang jernih sempat memicu masyarakat untuk datang dan mengambil airnya, meskipun begitu Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari menjelaskan bahwa air yang ditemukan di dalam sinkhole umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Karena itu, kelayakan air tersebut untuk dikonsumsi tidak dapat langsung dipastikan.
- Jurang Sinkhole Aceh

Lubang raksasa yang membentang seperti jurang juga terjadi setelah bencana hidrometeorologi yang terjadi di Pulau Sumatera, persisnya di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Berdasarkan foto dari udara lubang raksasa ini berada di antara persawahan milik warga, selain itu lubang ini juga menyeret serta kabel sutet di sekitarnya, sehingga mengganggu jaringan perlistrikan.
Baca juga: Menjadi Langganan Banjir, Stasiun Tawang Harus Mampu Hadapi Bencana Hidrometeorologi
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kejadian tersebut sekilas menyerupai fenomena sinkhole, namun secara geologis memiliki karakteristik berbeda dengan sinkhole yang umum terjadi di kawasan karst. Pada umumnya, sinkhole terbentuk pada tanah lempung, lanau, atau pasir lepas yang mudah tererosi serta berkaitan dengan batuan kapur yang larut oleh air, sedangkan wilayah Aceh Tengah didominasi tanah vulkanik yang lebih padat dan relatif stabil.(Kori)






